
Malam sudah berganti pagi, Diana pun sudah mandi begitu juga dengan putrinya. Mereka sudah rapi dan wangi.
"Makan apa kita pagi ini?" tanya Diana menggendong putrinya yang semakin berat. Tumbuh kembang putrinya sangatlah baik karena di dukung dengan pola makan sehat Diana.
Diana sangat bersyukur dengan kehidupan yang sedang ia jalani, meski banyak ujian dan lika-liku kehidupan yang hampir membuat ia menyerah, Diana tetap bersyukur.
"Putri ibu cantik, putri ibu imut, putri ibu sayang." Diana berjalan turun ke bawah untuk sarapan sembari menggendong putrinya yang cantik dan menggemaskan.
"Selamat pagi, nona." Pak Hans menyapa.
"Pagi, pak Hans. Udara nya sangat segar yah," sapa balik Diana dengan semangat.
Pak Hans pun mengangguk sembari mengambil alih Nara dari gendongan Diana.
"Selamat sarapan, nona. Tuan muda sudah menunggu anda di meja makan," ucap pak Hans membuat senyuman Diana langsung memudar.
Diana pun menghela nafas berat lalu pergi ke meja makan. Di sana, suaminya tengah duduk sembari memijit-mijit kepalanya.
Mungkin, suaminya itu sedang sakit kepala.
"Selamat pagi," sapa Diana duduk di kursinya. Tampak Nathan tak merespon, Diana pun tak peduli, yang penting adalah makan.
Diana menyantap sarapannya dengan lahap sembari sesekali melirik ke arah suaminya. Sepertinya, Nathan benar-benar sakit kepala, karena sedari tadi laki-laki itu terus memijit-mijit kepalanya.
"Apa kau sakit kepala?" tanya Diana. Nathan tak merespon, laki-laki itu malah berdiri lalu pergi meninggalkan Diana.
"Saya akan memanggilkan dokter." Terdengar suara pak Hans, Diana menjadi penasaran. Apa benar suaminya sakit? Memangnya, suaminya itu bisa sakit?
Berhubung Diana sudah selesai sarapan, wanita itu pun pergi ke lantai atas untuk melihat suaminya.
Di kamar Nathan.
Nathan sudah berbaring di atas ranjang sembari memeluk guling, sedangkan pak Hans berdiri di samping nya.
"Anda baik-baik saja, tuan?" tanya pak Hans tampak khawatir.
"Bawa Nara keluar! Nanti dia bisa sakit kepala," titah Nathan pelan.
Pak Hans pun mengangguk lalu berjalan keluar.
"Tolong rawat tuan muda, nona. Saya akan memanggilkan dokter," pinta pak Hans. Diana pun mengangguk lalu berjalan ke arah suaminya yang berbaring di atas ranjang.
"Apa kau ingin aku memijit kepalamu??" tanya Diana pelan sembari duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Hm."
Entah apalah arti "hm" itu, Diana pun memilih untuk memijit pelan kepala suaminya.
"Badan mu panas," ucap Diana saat menyentuh kening dan tangan suaminya.
"Kau demam," lanjut Diana masih memijit kepala suaminya.
"Aku akan mengompres mu," ucap Diana ingin pergi ke dapur untuk mengambil es batu, namun, Nathan menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Diana. Nathan tak menjawab, ia hanya memegang tangan Diana lalu menutup matanya
"Mana yang sakit?" tanya Diana kembali memijit kepala suaminya itu.
Nathan tampak menggeleng membuat Diana serba salah. Sulit juga mengatasi laki-laki jutek dan dingin kalau sakit.
Sakit saja masih hemat bicara, luar biasa sekali.
"Mengapa kau menarik rambut ku?" tanya Nathan pelan. Diana pun langsung melepas rambut suaminya, karena bingung harus melakukan apa, Diana malah menjambak rambut suaminya.
Tapi, lumayan juga bisa menjambak rambut suami kejamnya ini, kapan lagi bisa menjambak rambut seorang tuan Albert.
"Hehehe, aku terbawa suasana. Sakit yah?"
"Mau makan? Minum?" tanya Diana.
"Mengapa kau hanya diam? Kalau kau hanya diam, aku tak tau harus melakukan apa." Diana menghela nafas panjang karena Nathan sama sekali tak merespon pertanyaan nya.
"Kau ini sebenarnya kenapa, ha? Sakit? Kalau sakit bilang," ucap Diana berusaha untuk tetap sabar.
"Aku ingin.....
"Iya, ingin apa?" tanya Diana tak sabaran.
"Aku ingin kau berhenti bicara, kepala ku semakin pusing mendengar suara jelek mu," jawab Nathan sembari terkekeh kecil membuat Diana mendengus kesal.
"Ck, dasar menyebalkan!"
"Kemari lah," ucap Nathan menarik Diana agar ikut berbaring.
"Jangan sentuh aku, aku sedang marah!" ketus Diana. Namun, tenaga Nathan lebih kuat darinya, Diana pun akhirnya mengalah dan ikut berbaring.
"Aku ingin kau demam juga, jadi aku akan menularkan demam ku ini padamu," ucap Nathan memeluk Diana erat.
__ADS_1
Bagi Diana, ini hanyalah modus semata. Bisa-bisanya, ia mengalah dan jatuh dalam pelukan buaya berbulu serigala ini.
"Ck, katakan saja kalau kau ingin di peluk. Jangan pakai jual mahal!" ketus Diana sembari menatap wajah suaminya.
"Aku tidak berjualan," sahut Nathan semakin membuat Diana kesal.
Diana pun memalingkan wajahnya, badan suaminya benar-benar panas. Ia saja bisa merasakan itu, suaminya benar-benar sakit.
"Aw," pekik Diana saat Nathan menggigit lehernya.
"Pemanasan kedua," ucap Nathan sembari tersenyum menyeringai.
"Kenapa harus menggigit leherku?" tanya Diana sembari memegang lehernya.
"Lalu kau ingin aku gigit di mana? Di dada atau di perut?" tanya Nathan, alhasil mendapatkan pukulan dari istrinya itu.
"Akhh! Menyebalkan!" teriak Diana. Sebenarnya, Diana sedang malu karena di tatap intens oleh suaminya.
Nathan tampak tertawa kecil lalu membenamkan wajahnya di dada istrinya. Diana pun tampak berusaha menahan senyum. Jujur, di dalam lubuk hatinya, ia merasakan sebuah kehangatan dari suaminya.
Di luar kamar.
"Tuan muda sudah pulih, dokter. Anda sudah boleh pulang," ucap pak Hans membuat dokter yang baru saja datang menjadi bingung.
Ia saja belum memeriksa keadaan pasien, tapi sudah di vonis pulih.
_
_
_
_
_
_
_
...Anda tak tau pak dokter, ada obat yang lebih mujarab 😂😂...
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc.