
Brakk!
"Sudah ku bilang jangan bertindak sesuka mu, bocah!" teriak Baron menggebrak meja membuat anak buahnya serta Zeno menjadi ketakutan.
"Kalau kau ingin mendahului rencana ku, lebih baik kau pergi dari sini dan lupakan kerja sama yang tak berguna ini!" lanjut Baron masih tersulut emosi.
"Maafkan saya, tuan. Saya hanya tak terima karena dia berbahagia sedangkan saya hidup dalam sebuah penderitaan," ucap Zeno berlutut memohon ampun.
"Seharusnya aku memenggal kepalamu sekarang juga, tapi karena aku masih punya hati nurani jadi aku akan memaafkan mu."
"Terimakasih, tuan."
"Tapi, ingat! Jika, kau melakukan tindakan sesuka hatimu maka aku akan mengirim mu langsung pada Nathan agar kau di kuliti hidup-hidup!" tekan Baron.
"Baik, tuan. Saya berjanji tak akan ceroboh lagi."
"Sekarang bersiaplah akan balasan kecil dari Nathan. Kau akan mendapatkan kejutan dari keponakan ku karena sudah bertindak ceroboh," sinis Baron tersenyum menyeringai.
"A-apa yang anda maksud, tuan? Kejutan apa maksud anda?" tanya Zeno gugup.
"Kau pikir lawan mu itu preman pasar, ha? Kau pikir dia akan diam saja setelah kau berniat untuk melukai istri dan anaknya. Dia tak sebaik itu, bocah! Dia itu mengerikan," sinis Baron sembari tertawa kecil.
Zeno tampak panik, apa yang harus ia lakukan sekarang. Mengapa ia begitu ceroboh? Bahkan ia memaksa seorang pelayan yang bekerja di mansion Nathan dengan iming-iming akan dinikahi dan di bebaskan dari mansion itu, namun semua itu gagal. Pelayan itu malah mati dan membongkar rahasianya.
Sungguh sial!
*******
Di mansion Nathan.
Nathan tampak sedang berada di ruang kerja sembari menatap laptopnya dengan bayi Nara yang ada di gendongan nya.
Di dalam ruang kerja ada Rayyan, Xeon dan pak Hans. Semuanya tampak sedang menunggu perintah atas kejadian tadi pagi.
"Bakar rumah bocah ini dan pastikan orang-orang tersayangnya ada di dalam rumah itu!" titah Nathan sembari memberikan jari telunjuknya pada bayi Nara agar di genggam.
"Baik tuan." Rayyan mengangguk mengerti.
"Jangan lupa video kan lalu kirim padanya sebagai kejutan kecil karena sudah berani menggangguku," lanjut Nathan menatap bayi Nara yang sudah memasukkan jari telunjuk nya ke dalam mulut.
"Baik tuan."
__ADS_1
"Sepertinya dia bekerja sama dengan Baron, tuan." Xeon membuka suaranya sembari memperhatikan bayi Nara yang memakan jari telunjuk Nathan.
"Orang bodoh memang akan bersatu dengan orang bodoh lainnya," sahut Nathan tersenyum sinis.
"Apa kita harus memberikan peringatan pada Baron juga, tuan?" tanya Rayyan.
"Tunggu sampai labirin itu selesai maka aku akan memberikan peringatan kecil untuknya," jawab Nathan membuat Rayyan dan Xeon saling menatap satu sama lain karena rencana tuannya ini pastinya sangat berbahaya terutama pada Diana.
"Apa anda akan tetap menjadikan nona Diana sebagai umpan?" tanya Rayyan membuat Nathan menarik kembali jari telunjuknya yang sudah basah terkena air liur bayi Nara.
"Keputusan ku tak akan berubah meski badai menghancurkan negara ini!" tekan Nathan membuat Rayyan menghela nafas berat.
"Jika anda tetap menjadikan nona Diana sebagai umpan, besar kemungkinan nona Diana akan terluka dan bisa jadi juga nyawanya akan melayang. Lalu kalau itu terjadi bagaimana nasib putrinya yang masih kecil ini, tuan?" tanya Rayyan berharap Nathan mengubah siasatnya yang berbahaya ini.
"Apa aku peduli?" tanya Nathan balik dengan senyuman sinis nya.
"Sebaiknya jangan urusi tentang rencana ku, Rayyan! Urusi saja labirin yang ku perintahkan padamu, labirin itu harus sudah selesai dan juga harus mirip dengan labirin milik Baron!" tegas Nathan berdiri dari duduknya.
"Segera laksanakan perintahku malam ini juga! Bakar rumah dan juga orang terdekat bocah itu!" titah Nathan lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Rayyan tampak berdecak kesal sembari memijit-mijit kepalanya yang pusing.
"Aku mengkhawatirkan Diana," ucap Rayyan menatap lurus ke depan.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan nona Diana, tuan. Meski tuan muda memiliki rencana yang membahayakan nona Diana, namun saya yakin tuan muda sudah menyiapkan rencana penyelamatan nya juga dengan baik," sela pak Hans.
"Itu mustahil pak Hans, lihat saja prilakunya terhadap Diana. dia hanya lembut pada bayi mungil itu saja, tapi tidak dengan ibu bayi itu."
"Anda terlalu lama berada di luar mansion, tuan. Sehingga anda tak melihat bagaimana sikap tuan muda perlahan berubah pada nona Diana walau terbilang masih sangat dingin dan kasar," ucap pak Hans berusaha menyakinkan Rayyan.
"Hah, benarkah? Baguslah kalau begitu, aku berharap semuanya akan baik-baik saja."
******
Di dalam kamar Nathan.
Nathan tampak meletakkan bayi Nara ke dalam boks bayi lalu menjaga bayi itu sembari mencoba menidurkan bayi Nara.
"Oh, apa dia sudah tidur?" tanya Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tentunya wanita itu akan ikut kemanapun bayi Nara tidur karena Nathan tak ingin kejadian bayi Nara pipis terulang lagi.
Nathan tak menjawab dan memilih menepuk-nepuk paha bayi Nara agar bayi itu tertidur.
__ADS_1
"Oh, ternyata dia batu," gumam Diana naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya. Ia memberanikan dirinya untuk tidur di atas ranjang, jika nanti Nathan mengusir nya maka ia akan membiarkan Nathan repot dengan bayi Nara yang pipis nantinya.
Ada untungnya juga Nathan menyukai bayi Diana, dengan begitu Diana tak perlu bersusah payah untuk menggendong putrinya kesana-kemari, karena sekarang ada baby sitter dadakan.
Beberapa menit kemudian.
Nathan tampak berjalan ke kamar mandi, sepertinya bayi Nara sudah tertidur sehingga laki-laki itu pun pergi dari tempat duduknya.
Diana masih belum bisa tidur karena memang belum mengantuk, ia terlalu banyak tidur siang sehingga sulit untuk tidur di malam hari.
Terlihat Nathan keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arah ranjang. Laki-laki itu tampak membuka kaos nya sehingga memperlihatkan bagian atas tubuhnya membuat Diana langsung duduk.
"Kau mau apa?" tanya Diana takut melihat Nathan yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Sepertinya aku ingin bayi lagi," ucap Nathan tersenyum menyeringai.
"Apa?"
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Jangan lupa beri dukungan yah biar author makin semangat untuk update nya....
tbc.
__ADS_1