
Seminggu kemudian.
Kesehatan Diana perlahan membaik, kini wanita itu sudah sering keluar kamar dan menyapa para pelayan.
Seperti hari ini, Diana duduk di halaman belakang sembari memperhatikan para pelayan yang tengah membersihkan dedaunan yang jatuh.
"Anda ingin makan sesuatu, nona?" tanya pak Hans yang sedari tadi berdiri di belakang Diana tanpa diketahui oleh wanita itu.
"Tidak ada, aku tidak lapar." Diana menoleh kebelakang sembari melempar senyuman.
"Baiklah, jika nanti anda membutuhkan sesuatu, panggil saya saja."
"Oke," ucap Diana. Pak Hans pun pergi meninggalkan Diana, membiarkan wanita itu menikmati hembusan angin yang menyegarkan.
"Mengapa rumah ini begitu banyak makhluk mengerikan? Apa rumah ini bekas terjadinya kriminal?" gumam Diana merasa pusing melihat penampakan yang terus saja terlihat olehnya.
"Hah, banyak sekali pertanyaan yang tak di jawab olehnya, aku begitu penasaran. Apa aku harus berjalan mengitari rumah ini agar mendapatkan petunjuk?" lanjut Diana tampak berpikir menimbang-nimbang idenya itu.
"Ya, aku harus mencari jawabannya sendiri." Diana pun memilih untuk berjalan meninggalkan tempat duduknya yang nyaman. Ia akan mencoba untuk mencari petunjuk akan masa lalu.
Dari lantai satu, Diana tak menemukan apapun. Sudah hampir setengah jam ia mengelilingi lantai satu itu. Dirinya pun merasa sangat lelah, sepertinya, besok ia harus mengelilingi lantai dua.
Diana pun memilih untuk kembali ke kamar. Seharian ia tak melihat suaminya, kata pak Hans, Nathan pergi ke perusahaan, tapi Diana tak percaya. Suaminya itu, sangatlah misterius.
Sesampainya di kamar, Diana pun berinisiatif untuk menggeledah kamarnya itu. Mana tau, ia mendapatkan sesuatu, ia begitu penasaran.
"Hm, kita geledah saja lemarinya yah. Kalau lemari pakaian ku, aku sudah tau isinya. Tapi, lemari suamiku itu, aku tak tau apa isinya. Mana tau, ada baju selingkuhannya di situ." Diana pun masuk ke ruang ganti lalu membuka satu persatu lemari pakaian Nathan. Mulai dari lemari celana, baju, pakaian dalam yang tentunya berbeda tempat.
"Apa ini?" tanya Diana menemukan bando karakter.
"Sepertinya punya anak kecil. Tapi, punya siapa?" gumam Diana memegang bando karakter itu.
"Apa dia punya anak? Tapi katanya kami belum pernah punya anak, lalu ini punya siapa?" tanya Diana benar-benar di buat bingung.
"Apa dia punya anak dari wanita lain?" lirih Diana tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Diana kembali meletakkan bando itu dan menutup lemari.
Setelah itu, Diana memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya sangat sakit, seolah-olah sedang memaksa ia untuk mengingat sesuatu.
"Apa yang mereka sembunyikan dariku? Mengapa jantungku terasa nyeri? Bando siapa itu? Apa dia punya anak dengan wanita lain?"
Semua pertanyaan itu terlontar dari mulut Diana, ia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua orang yang ada di rumah ini seperti bisu
__ADS_1
*****
Sore harinya.
Nathan sudah pulang dari urusan di markas dan juga berkunjung ke makam sebentar. Dengan membawa buket bunga yang cantik, Nathan pergi ke kamar dengan semangat.
Sesampainya di kamar, tampak istrinya tengah tertidur. Nathan pun mendekati istrinya itu, penasaran saja mengapa Diana tidur di sore hari.
"Tidak panas," gumam Nathan menyentuh kening istrinya.
"Apa dia menangis?" tanya Nathan meletakkan buket bunga yang ia bawa di atas nakas lalu memperhatikan wajah istrinya itu.
"Apa yang membuat mu menangis? Apa kepala mu sakit?" bisik Nathan sembari mengelus rambut Diana.
"Aku harap itu bukan karena aku," lanjut Nathan mengecup kening Diana lalu pergi ke kamar mandi.
Sepeninggalan Nathan, Diana membuka matanya. Ia hanya pura-pura tidur untuk mengetahui apa yang disembunyikan suaminya itu, ternyata, ia tak mendapatkan apapun.
"Kau sangat pintar berbohong," gumam Diana melirik buket bunga yang ada di nakas.
******
Nathan menatap aneh istrinya yang tak bicara jika ia tak bertanya. Ada apa dengan wanita yang ia cintai nya itu?
"Ada apa denganmu? Mengapa kau diam seperti itu? Biasanya cerewet," tanya Nathan mendekati istrinya yang tampak melamun.
"Apa yang kau sembunyikan dariku? Mengapa kau tak mengatakan semuanya?" tanya Diana menatap kosong ke depan.
"Apa maksud mu? Apa yang aku sembunyikan, sayang?" tanya Nathan belum paham maksud istrinya itu.
"Apa kita punya anak di masa lalu?"
Deg! Nathan terdiam mendengar pertanyaan Diana, mengapa istrinya itu membahas anak? Apa Diana menemukan sesuatu yang membuat istrinya itu curiga.
"Mengapa kau diam? Jawab aku! Apa kita punya anak?" tanya Diana menatap wajah suaminya yang tampak datar.
"Aku ingin tidur, aku sangat lelah." Nathan berjalan ke arah sisi lain ranjang lalu membaringkan tubuhnya.
"Mengapa kau selalu menghindar? Apa kita punya anak? Atau kita memang tak punya anak melainkan kau yang punya anak dengan wanita lain!" teriak Diana dengan mata yang sudah berair.
"Apa salahnya kau jujur padaku? Aku tidak akan mati jika kau jujur, aku mohon kali ini saja, tolong jawab pertanyaan ku." Diana menyeka air matanya menatap suaminya yang berbaring membelakanginya.
__ADS_1
"Kau tak mau menjawab yah, dasar pembohong. Semua yang kau katakan itu adalah dusta, semuanya! Bahkan kata-kata cinta itu adalah dusta!" teriak Diana dibaringi tangis.
"Aku membenci....
"Iya!" sela Nathan bangun dari duduknya. Rahangnya sudah mengeras dan kini menatap tajam istrinya itu.
"Kita memang punya anak dan kau tau di mana anak kita sekarang? Kau tau?" lanjut Nathan dengan amarah yang coba ia tahan.
"Anak kita sudah pergi, anak kita sudah meninggal. Kau puas dengan jawabanku sekarang kan?" Nathan memegang kedua bahu Diana yang tampak syok.
"Aku sudah bilang, semuanya akan aku jelaskan jika kau sudah pulih total. Tapi, apa? Kau itu pembangkang!" tekan Nathan dengan mata yang sudah memerah.
"Aku sudah kehilangan anak kita, aku tak ingin kehilanganmu karena syok, sayang. Mengapa kau terus memaksa untuk mengetahui masa lalu yang menyakitkan itu," lirih Nathan menyeka air mata istrinya.
Nathan memeluk Diana yang masih terlihat terpukul dengan jawabannya tadi. Sungguh, ia tak ingin ini terjadi, tapi istrinya itu benar-benar menguras kesabarannya hingga semuanya terbongkar pada waktu yang tidak tepat.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Maaf yah telat dan gak menarik lagi, namanya juga sudah di penghujung 😊...
tbc.
__ADS_1