
Di dalam markas, Rayyan tampak memberikan obat di kaki Diana yang terluka. Para anak buah Nathan pun hanya saling melirik tanpa berani bergosip, mereka hanya takut tuan mereka akan marah karena tindakan Rayyan.
"Aku mau minum," pinta Diana. Rayyan pun mengkode para pelayan untuk membawa air minum.
"Kau terlihat lelah, Rayyan." Diana memandangi wajah Rayyan dengan intens, laki-laki itu terlihat sangat lelah dan mengantuk.
"Belakangan ini aku sangat sibuk, jadi kurang tidur dan juga makan," sahut Rayyan duduk di sebelah Diana setelah mengobati luka di kaki Diana. Pelayan yang tadi pun sudah datang dengan segelas air putih lalu memberikannya pada Diana.
"Terimakasih," ucap Diana yang diangguki pelayan itu, Diana pun meneguk habis air minum yang diberikan pelayan tadi.
"Kerja keras itu boleh saja, tapi jangan lupa istirahat. Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana kau akan kehilangan kesehatan mu, kau tau, bahwa kesehatan adalah harta yang paling berharga karena tanpa kesehatan kita tak bisa membahagiakan keluarga kita dan juga diri kita," ucap Diana memberikan nasehat.
"Siap, ibu negara." Rayyan memberikan hormat pada Diana membuat wanita itu tersenyum manis.
"Tuan muda memerintahkan agar nona muda segera menyelesaikan misi, tuan." Salah satu anak buah Nathan datang menghampiri Rayyan dan Diana.
"Baik." Rayyan mengangguk mengerti.
"Untuk labirin kedua, tanda nya tidak akan sama dengan labirin pertama yang kau lewati. Jika labirin pertama kau bisa melihatnya dengan mata telanjang, labirin kedua kau tak akan bisa melihat tanda apapun," jelas Rayyan sedikit berbisik.
"Lalu, bagaimana aku bisa melewatinya?" tanya Diana mulai takut.
"Rasakan, gunakan perasa mu. Sentuh dinding labirin itu dan rasakan sesuatu yang berbeda. Kau akan menemukan jalannya jika bisa merasakan sesuatu yang ada di dinding labirin," jawab Rayyan sembari melirik anak buah Nathan yang terus memantaunya.
Diana tampak mengangguk kecil, ia akan berusaha dengan baik untuk melewati tantangan itu.
"Terimakasih, Rayyan." Diana berbisik sembari mengedipkan sebelah matanya. Rayyan pun membalas dengan senyuman sembari ikut mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah waktunya, nona muda. Anda harus melewati labirin ini dari pintu belakang," sela anak buah Nathan.
Diana pun mengangguk lalu mengikuti anak buah Nathan dan juga Rayyan ke arah belakang markas.
""Silahkan nona, semoga anda berhasil."
"Terimakasih," sahut Diana lalu berjalan ke arah salah satu pintu lorong labirin.
"Semoga kau berhasil," gumam Rayyan masih memandangi pintu labirin yang baru saja dilewati oleh Diana.
******
Diana terus berjalan melewati lorong-lorong labirin yang menyesatkan, tangannya meraba dinding labirin yang sudah di semen, berbeda dengan labirin yang tadi ia lewati.
__ADS_1
"Tak ada yang berbeda," gumam Diana tak menemukan apapun atau merasakan sesuatu di dinding labirin.
Di sisi lain, Nathan tampak menatap layar monitor dengan tatapan tak suka Laki-laki itu terlihat sangat marah.
"Hukuman apa yang pantas untuk Rayyan?" tanya Nathan meminta pendapat pak Hans.
Pak Hans tampak tertegun, laki-laki itu terlihat kebingungan.
"Tindakan nya memberitahu apa yang tak boleh di beritahu adalah sebuah tindakan penghianatan, jadi dia harus di hukum sesuai aturan yang sudah aku buat untuk para penghianat!" lanjut Nathan semakin membuat pak Hans tegang.
"Maafkan saya karena lancang, tuan. Tuan Rayyan adalah orang kepercayaan anda, tak mungkin ia berkhianat. Prihal tentang tuan Rayyan memberitahu nona Diana tentang jalan keluarnya, mungkin anda bisa mentolerir untuk itu, tuan." Pak Hans berusaha mencegah perkelahian antara Nathan dan Rayyan.
Memang kalau di pikir-pikir, Rayyan sudah melakukan sebuah kesalahan dengan memberitahu Diana tentang jalan keluar dari labirin kedua, tapi dengan menghukum Rayyan dan hukumannya pun tak main-main, itu akan semakin memperburuk suasana. Bisa-bisa, Rayyan akan mati karena hukuman dari Nathan.
"Kau mencoba merubah keputusan ku? Berani sekali kau!" geram Nathan membuat pak Hans memundurkan langkahnya.
"Maafkan saya, tuan. Saya telah lancang, sekali lagi maafkan saya," ucap pak Hans menundukkan kepalanya.
Ia sudah tidak tau lagi harus membujuk dengan cara apa, jika tuannya sudah bersikeras melakukan A, maka A Itu haruslah terjadi.
"Semoga anda tidak di hukum, tuan Rayyan. Semoga ada keajaiban yang membuat tuan muda berubah pikiran."
"Apa ada es di dalamnya?" tanya Diana heran.
"Mungkin ini adalah petunjuk yang dikatakan Rayyan," lanjut Diana semakin bersemangat mencari sisi dinding yang bersuhu dingin.
Diana terus meraba, sesekali ia masuk ke jalan buntu karena memang tak menemukan dinding yang dingin, Diana pun tak putus asa, wanita itu malah semakin bersemangat mencari dinding yang dingin.
Satu jam kemudian.
Diana terduduk di lantai dengan tubuh yang lelah, ia belum juga sampai padahal sudah banyak dinding dingin yang ia temukan.
"Kepalaku pusing sekali," gumam Diana memijit kepalanya yang sakit. Mungkin, akibat sinar matahari yang langsung mengenai kepala Diana tanpa pelindung, walau masih terbilang pagi, tapi sinar matahari nya sangatlah panas.
Sudah satu jam Diana berjalan menelusuri lorong ke lorong, ia haus dan juga butuh istirahat. Diana menatap ke atas, ia berharap ada helikopter pembawa minuman dan makanan datang, tapi sedari tadi tak ada bantuan sama sekali.
"Bisa-bisa aku mati dehidrasi," lirih Diana mencoba untuk kembali berdiri. Diana pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kebebasan.
"Aku pasti bisa," gumam Diana menyemangati dirinya sendiri.
Diana terus berjalan mengikuti tanda-tanda ke jalan yang benar, penglihatannya tampak buram, ia sangat haus dan lelah.
__ADS_1
"Dimana jalannya?" tanya Diana terus mengikuti kemana dinding dingin itu menuntunnya.
"Apa itu?" gumam Diana mengucek matanya karena ia seperti sedang melihat seseorang berdiri tak jauh darinya.
Senyuman Diana langsung mengembang, dengan cepat Diana berlari ke arah orang yang berdiri di depan pintu labirin.
"Akhirnya," lirih Diana pelan sembari memeluk Nathan dengan erat membuat laki-laki itu langsung menangkap tubuh Diana yang sudah tumbang.
Nathan pun menggendong Diana sembari memperhatikan wajah pucat Diana, wanita itu sudah tak sadarkan diri. Nathan pun memilih untuk membawa Diana masuk ke dalam mobil.
Nathan membaringkan Diana di kursi belakang, ia pun ikut duduk dan membiarkan paha nya sebagai bantal untuk Diana.
Pak Hans juga ikut masuk bersama Nara yang ada di gendongannya, mobil pun melaju dan kembali masuk ke dalam labirin.
Nathan tampak masih memperhatikan wajah Diana, tangannya pun mengelus-elus kepala Diana sembari memperbaiki rambut Diana yang berantakan.
"Kau sudah berkerja keras hari ini, selamat untuk mu," ucap Nathan tampak tersenyum kecil sembari masih mengelus kepala Diana.
"Batalkan hukuman untuk Rayyan!" titah Nathan.
"Baik, tuan."
_
_
_
_
_
_
_
...Senangnya dalam hati, di peluk istriπππ...
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.
__ADS_1