
Pagi harinya.
Diana bangun dengan tubuh yang lebih segar, kini ia sudah mandi begitu juga dengan Nara. Tak lupa memberikan kecupan manis di pipi gembul putrinya.
"Wangi sekali putri ibu ini," puji Diana sembari berjalan menuju lantai bawah untuk sarapan.
Sesampainya di meja makan, pak Hans seperti biasanya akan mengambil alih Nara, sedangkan Diana akan langsung sarapan. Diana sarapan hanya sendiri, entah kemana suaminya sekarang, tapi ia tak mau peduli. Ia masih kesal karena di perbudak selama beberapa hari, lalu suaminya itu dengan seenak hati mau minta hak setelah membuat pinggang Diana hampir patah.
Diana sangat kesal.
Beberapa menit kemudian, Diana sudah selesai sarapan. Diana mencari-cari pak Hans, tapi ternyata pak Hans tak berada di dekatnya. Mungkin, pak Hans ke halaman belakang untuk mengajak Nara jalan-jalan.
Diana pun pergi ke halaman belakang untuk mencari pak Hans. Sesampainya di sana, Diana dapat melihat pak Hans sedang berdiri di samping Nathan yang tengah sarapan dengan sandwich.
Diana pun mendekat, berniat untuk mengambil Nara yang masih di gendongan pak Hans.
"Pak Hans, berikan Nara padaku, aku sudah selesai makan," pinta Diana.
"Saya akan menggendong nona Nara, nona. Anda lebih baik duduk saja," tolak pak Hans membuat Diana bingung. Jangan bilang, kalau ia harus melakukan kegiatan aneh lagi.
Diana pun menatap suaminya yang tampak sedang mengunyah. Sebenarnya, suaminya ini sangatlah tampan, bahkan sedang mengunyah saja terlihat tampan.
"Apa anda ingin sandwich juga, nona?" tawar pak Hans memperhatikan Diana yang fokus pada Nathan.
"Anu, tidak, pak."
Nathan pun langsung melirik istrinya itu lalu meneguk air putih, ia menggeser piring yang masih terdapat potongan sandwich ke arah Diana.
"Makanlah," ucap Nathan.
"Siapa juga yang mau makan? Aku kan tidak minta," ucap Diana menolak pemberian suaminya. Padahal, ia juga berselera melihat sandwich milik suaminya.
"Makan sandwich atau piring?" tanya Nathan membuat Diana melotot ke arah suaminya itu. Apa ia akan di suruh makan piring? Candaan yang tak lucu.
"Yah, karena kau memaksa, aku akan memakannya." Diana pun duduk di kursi, lalu memakan sisa sandwich suaminya.
"Eum, enak." Diana sangat suka dengan sandwich yang ia makan sekarang, berbeda dengan sandwich yang biasa ia makan sebelumnya.
"Kau tau kenapa sandwich itu bisa enak?" tanya Nathan sembari memperhatikan istrinya yang mengunyah.
"Kenapa?" tanya Diana terlihat fokus dengan sandwich yang ia makan.
__ADS_1
"Karena di situ ada air liurku," jawab Nathan membuat Diana tersedak.
"Minum, nona." Diana mengambil gelas yang ada di atas meja lalu meneguk air putih dengan cepat.
"Ah, lega." Diana mengatur nafasnya, untung tadi itu adalah gigitan terakhir, kalau tidak, ia tak akan melanjutkan makannya karena malu.
"Gelas itu juga ada air liur ku, lebih tepatnya ada bekas bibirku. Kau sangat suka makan dan minum yang telah tersentuh bibir ku yah," ucap Nathan tersenyum menyeringai.
"Memangnya mengapa kalau ada bekas bibir maupun air liur mu? Apa ada penyedap rasa yah di sana, atau ada virus?" sahut Diana tak ingin di kerjai lagi.
"Hahahahaha," tawa Nathan membuat Diana maupun pak Hans bingung.
"Pak Hans, ambilkan tongkat bisbol!" titah Nathan masih dengan sisa tawanya.
"Baik, tuan." Pak Hans pun langsung pergi bersama dengan Nara untuk membawa tongkat bisbol yang di minta Nathan.
"Un-untuk apa tongkat?" tanya Diana mendadak merasa dalam bahaya.
"Kau akan tau nanti," jawab Nathan santai semakin membuat Diana was-was.
Setelah beberapa menit, pak Hans datang dengan satu tongkat bisbol lalu memberikannya pada Nathan.
"Tongkat bisbol nya, tuan."
"Mari kita beri pelajaran pada wanita penikmat bibir orang ini," ucap Nathan tersenyum mengerikan membuat Diana semakin ketakutan.
" Apa lagi yang akan dilakukan laki-laki ini? Dan apa itu tadi, wanita penikmat bibir orang? Bibir siapa memangnya yang sudah kunistakan?" batin Diana menjerit.
********
Di sinilah Diana sekarang, di sebuah ruangan kosong. Tangannya kini sudah memegang tongkat bisbol yang di pegang suaminya tadi. Diana kira, ia akan di pukuli, tapi ternyata, tongkat itu malah diberikan padanya.
"Apa yang akan kulakukan sekarang?" tanya Diana benar-benar takut akan melakukan hal-hal aneh. Apalagi di depan Diana ada seorang wanita yang berbadan kekar dan juga berwajah garang.
"Lawan dia!" titah Nathan duduk sembari memangku Nara. Laki-laki itu sangat menikmati pemandangan di hadapannya sekarang.
"Ta-tapi aku tak tau berkelahi," ucap Diana gugup.
"Jika kau tak bisa melawannya, maka bersiaplah untuk terluka," ucap Nathan enteng.
Diana pun memegang kuat tongkat bisbol nya. "Tenang Diana, hanya perlu ayunkan sesuka hati mu, yang penting wanita di hadapanmu ini kalah."
__ADS_1
"Mulai!"
"Hiyaaaaa!" teriak Diana menutup matanya sembari mengayunkan tongkat bisbol ke sembarang arah. Diana terus memukul kesana-kemari, tapi ia tak merasakan apapun.
Diana pun membuka matanya, ternyata ia salah arah. Ia bukan memukul lawan melainkan memukul angin.
Lawan Diana pun hanya boleh menghindar dan menangkis pukulan Diana saja, tak boleh lebih dari itu. Jika, Diana terluka, maka wanita itu akan menanggung hukuman berat.
"Hahahaha," tawa Nathan cukup terhibur melihat Diana yang masih memukul angin karena anak buahnya terus menghindar. Apalagi mendengar teriakan dan juga gerakan Diana yang sangat lucu membuat laki-laki itu tak sanggup menahan tawanya.
"Kau seperti katak," ucap Nathan masih tertawa.
Sungguh pemandangan yang menyenangkan bagi sang tuan Albert.
_
_
_
_
_
_
Note:
Kenapa author gak bisa update tiap hari atau crazy up?
Itu karena author sedang sibuk kuliah kawan-kawan, kadang author punya ide, tapi tangan malas kali nulis atau mata ngantuk karena capek. Jadinya, paling bisa update 2hari sekali😥
Tapi, nanti author usahakan rutin kalau ada waktu renggang 🌹
Intinya, saling menghargai dan menyemangati yah💪
Dan jangan lupa beribadah yah, jangan karena asyik membaca kita melupakan ibadah "Saling mengingatkan"😘
Terimakasih.
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc.