
Malam terus berlanjut dengan rintikan hujan yang turun dengan derasnya membasahi bumi yang sudah tua. Mobil Nathan melaju menembus jalanan yang sepi, tampak laki-laki itu menatap ponselnya membaca beberapa pesan dari pak Hans.
"Kaki nona Nara bergerak ke samping."
"Tangan nona Nara juga bergerak, tuan. Nona menggaruk-garuk pipinya."
"Air liur nona Nara keluar, tuan. Nona juga tersenyum sendiri, sepertinya sedang bermimpi."
Nathan tersenyum membaca pesan dari pak Hans, ia berharap putrinya itu tersenyum karena bermimpi dengannya bukan dengan yang lain.
Nathan pun memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket, setelah itu, ia menatap keluar melihat deretan pohon yang daunnya bergoyang-goyang karena terhembus angin badai dan juga basah terguyur air hujan.
Mobil melaju keluar dari jalan menuju hutan, tampak mobil melaju dengan hati-hati karena hujan yang sangat deras.
"Tuan, mobil tidak bisa masuk karena jalanan sangat sulit untuk di lewati," ucap supir Nathan.
"Hm, di sini saja."
Supir itu langsung keluar dan mengambil payung yang ada di bagasi mobil.
"Ada apa?" tanya Rayyan keluar dari mobil satunya lagi.
"Kita akan berjalan kaki dari sini, tuan. Jalanan sangat becek, bisa-bisa itu akan menghambat kita nantinya," jawab supir itu menutup kembali bagasi lalu berjalan membuka pintu mobil.
"Silahkan, tuan." Nathan keluar lalu mengambil alih payung yang di pegang supirnya.
Nathan berjalan ke depan diikuti beberapa anak buahnya dan pastinya juga ada Rayyan dan Xeon. Beberapa anak buah Nathan di tugaskan untuk menjaga mobil dan memantau daerah luar.
Di sisi lain.
Diana tampak menyandarkan tubuhnya di dinding yang hangat, ia menutup matanya lalu menampung air dengan telapak tangannya.
Meski cuaca hujan, tapi Diana tetap saja haus. Diana meminum air hujan yang bisa ia tampung dengan dua telapak tangannya.
Kepala Diana sudah sangat pusing, perutnya pun sepertinya sudah masuk angin. Diana sangat lemah untuk berjalan apalagi mencari petunjuk di dinding labirin.
"Apa aku akan mati?" lirih Diana membayangkan hidup putrinya tanpa dirinya. Wanita itu tak rela putrinya hidup tanpa seorang ibu seperti dirinya dulu.
Diana pun berusaha untuk kembali berdiri, dengan tubuh menggigil ia berjalan mencari petunjuk dengan meraba-raba dinding.
"Nara, ibu akan tetap hidup demi mu. Ayah, Nana akan tetap hidup agar ayah bahagia di sana," lirih Diana menguatkan hati dan juga tubuhnya.
Wanita itu berjalan sembari meraba-raba dinding sembari bergumam tak jelas. Diana sesekali muntah karena masuk angin, namun ia tetap melanjutkan perjuangannya demi sang putri. Biarlah nanti maut yang mengakhiri penderitaannya.
__ADS_1
Diana menghentikan langkahnya dan mengucek matanya ketika melihat seseorang berdiri tak jauh darinya sembari memegang payung.
Diana tersenyum senang lalu berjalan sekuat tenaganya menghampiri orang itu. Ia langsung memeluk orang itu dengan kuat menandakan bahwa Diana sangat menantikan kehadiran orang itu.
"Aku tau kau ada di ujung labirin, makanya aku terus berjalan," ucap Diana lemah.
Nathan tersenyum kecil lalu meminta agar anak buahnya memegang payung, Nathan pun mengangkat tubuh Diana yang lemah lalu berjalan menjauh dari labirin.
Rayyan dan Xeon pun hanya mengikuti saja, mereka merasa lega karena Diana baik-baik saja. Walau begitu, mereka masih bingung mengapa Nathan membiarkan Baron setelah melakukan ini pada Diana.
Di dalam Villa, Baron mengepalkan tangannya melihat rekaman CCTV. Ternyata ia telah lalai menghadapi keponakannya itu.
"Ternyata kau sudah memasukkan anak buah mu ke dalam Villa ku untuk memata-matai ku! Aku sangat kagum padamu yang masih saja cerdik," sinis Baron.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum terjadi sesuatu. Nathan tak mungkin meninggalkan sesuatu yang sudah mengusiknya begitu saja!" tugas Baron memilih untuk pergi dari Villa nya.
"Lalu bagaimana dengan tuan Zeno?" tanya salah satu anak buahnya.
"Biarkan saja sampah itu di sana. Aku tidak peduli!"
Baron pun meninggalkan Villa bersama beberapa anak buahnya saja, sebagian anak buahnya masih ia tempatkan di Villa untuk berjaga-jaga. Biarlah nanti mereka mati karena Nathan, Baron tak peduli.
******
Nathan tampak terlihat tengah menghubungi seseorang.
"Hancurkan semua dan bawa bocah ingusan itu ke markas!"
"Tapi Baron melarikan diri, tuan."
"Biarkan saja dia lari, anggap saja ini adalah hadiah kecilku untuknya!"
"Baik, tuan."
Setelah menghubungi anak buahnya yang berada di villa Baron, Nathan pun menundukkan kepalanya memperhatikan Diana yang tengah menutup mata.
"Ternyata kau kuat juga karena tak pingsan," ucap Nathan menatap wajah Diana yang pucat. Wanita itu tampak tertawa kecil lalu membuka matanya dan menatap wajah Nathan.
"Jika aku mati atau pingsan, aku tak bisa melihat wajah mu nanti," sahut Diana membuat Nathan mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada apa dengan wajah ku?" tanya Nathan.
"Kau tampan sekali," jawab Diana sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Jadi kau baru sadar jika aku ini tampan?" tanya Nathan melingkarkan tangannya di leher Diana.
Diana pun langsung memegang tangan Nathan dan menutup matanya, tak lupa ia juga mencium jaket Nathan yang menyelimuti nya.
"Terimakasih," ucap Diana pelan.
"Untuk apa?" tanya Nathan menatap keluar.
"Untuk segalanya," jawab Diana.
"Aku tidak melakukan apapun," ucap Nathan menatap wajah Diana.
Sepertinya Diana sudah tertidur karena tak merespon perkataan Nathan lagi.
Nathan pun mengelus rambut Diana yang basah, ada perasaan hangat di hatinya. Tanpa disadari, ia pun tersenyum dengan tulus.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Sebenarnya kalau kalian pahami mengapa Nathan membiarkan Diana pasti kalian bakalan berpikir Nathan itu romantis ๐. Cuma karena kalian kebawa emosi jadi pengen jitak ginjal Nathan๐๐...
...Yah, author juga esmosi sebenarnya, tapi karena author yang tau alurnya jadi senyum-senyum aja๐๐คฃ...
Lanjut?
tbc.
__ADS_1