
Sore harinya.
Setelah melakukan olahraga dengan memukul angin, kini Diana tengah duduk di atas ranjang sembari menyandarkan punggungnya. Ia sangat lelah dan tangannya pegal.
Diana sudah mandi lagi karena berkeringat dan kini memilih untuk beristirahat sebelum nanti ia di minta melakukan hal ekstrim oleh suaminya.
Di saat Diana tengah termenung sembari memijit pelan tangannya, pintu kamar terbuka. Tampaklah Nathan masuk ke kamar sembari menggendong Nara, mereka tampak bahagia hari ini.
"Ganti pakaian mu, kita akan pergi." Itulah yang dikatakan Nathan.
"Hm, aku tidak mau. Aku sangat lelah, biarkan aku istirahat dulu." Diana membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut dan menutupi wajahnya.
"Kita akan ke pantai," ucap Nathan. Diana langsung menyibak selimutnya lalu menatap serius suaminya itu.
"Kau tidak berencana menyuruhku untuk menimba air laut kan?" tanya Diana memasang wajah curiga.
"Tidak, kita hanya akan bersantai di sana. Aku mengajakmu lantaran Nara pasti membutuhkan ASI mu, kalau tidak, mana mungkin aku mengajakmu keluar." Dengan entengnya Nathan berbicara sembari mencium pipi gembul putrinya. Diana pun memasang wajah cemberut, mengapa kata-kata yang keluar dari mulut suaminya ini sangatlah tajam.
"Aku tidak mau! Biar saja kau kesusahan, aku tak peduli." Diana tetap dengan pendiriannya.
"Baiklah," ucap Nathan yang akhirnya keluar dari kamar Diana. Tumben sekali tak ada ancaman yang mengerikan.
Mencurigakan.
"Ah, yasudah lah. Lebih baik, aku tidur." Diana pun menarik kembali selimutnya lalu berusaha untuk tidur.
"Tapi, ini mencurigakan. Biasanya, laki-laki itu akan mengancam," gumam Diana menyibak selimutnya. Ia benar-benar di buat kepikiran.
Diana pun memilih untuk melihat suaminya dan putrinya, apa benar mereka akan ke pantai. Seketika, kantuk dan lelah Diana hilang karena rasa penasaran.
Diana pun berjalan ke kamar Nathan, di sana, tampak Nathan tengah mengganti pakaian Nara. Sepertinya, mereka benar-benar akan ke pantai.
Mengapa tiba-tiba Diana ingin ikut, padahal tadi ia sangat lelah. Apa boleh ia menarik kata-katanya tadi.
"Apa kalian benar-benar ke pantai?" tanya Diana masuk ke kamar. Tak ada yang menjawab pertanyaannya, Nathan hanya diam dan fokus memberikan bedak di wajah Nara.
"Cantiknya putri Daddy," puji Nathan memakaikan topi pada putri kecilnya.
"Aku ikut yah," ucap Diana.
Nathan tak menjawab, ia menggendong Nara dan berjalan keluar kamar membuat Diana memasang wajah cemberut.
Diana pun tetap mengikuti Nathan kemanapun laki-laki itu melangkah.
"Aku ikut yah," pinta Diana menyetarakan langkahnya dengan langkah lebar suaminya.
"Pak Hans, apa semua perlengkapan sudah siap?" tanya Nathan tak merespon Diana lebih tepatnya tak menganggap Diana berada di sampingnya.
"Sudah, tuan. Semuanya sudah ada di mobil," jawab pak Hans tampak menggunakan pakaian santai.
"Yasudah, ayo kita pergi." Pak Hans mengangguk lalu mengikuti Nathan menuju mobil yang sudah di siapkan.
Diana pun memilih berdiri di depan pintu saja, hatinya sangat sedih karena tak di ajak ke pantai. Menyesal rasanya karena ia menolak ajakan Nathan tadi.
Pak Hans dan Nathan sudah masuk ke dalam mobil membuat hati Diana semakin sesak.
"Ayo, nona." Pak Hans membuka kaca mobil lalu tersenyum ke arah Diana.
Seperti mendapatkan hembusan angin segar, Diana langsung berlari ke mobil dan masuk lalu duduk di samping Nathan. Ia tak peduli dengan pakaian yang ia kenakan, yang penting di ajak jalan-jalan ke pantai.
__ADS_1
Mobil pun melaju menuju pantai yang tentunya indah apalagi di sore hari.
Nathan tampak tak berbicara, ia hanya fokus pada tangan putrinya. Nara pun tampak tenang di pangkuan ayahnya itu, sungguh anak yang baik.
Beberapa menit kemudian.
Mobil pun tiba di kawasan pantai, banyak orang-orang yang tampak berjalan maupun duduk hanya demi menikmati keindahan laut di sore hari.
Nathan keluar dari mobil begitu juga dengan yang lainnya.
"Wah, laut." Diana bersorak gembira, rugi sekali jika ia tak ikut tadi.
"Kemari, nona." Pak Hans memanggil Diana yang masih terkagum-kagum, Diana pun menoleh lalu mengikuti pak Hans yang membawa keranjang dan juga tikar.
Pak Hans menggelar tikar di bawa pohon Cemara lalu meletakkan keranjang itu di atas tikar.
Nathan tampak memberikan Nara kepada pak Hans lalu duduk di atas tikar. Diana pun tak banyak tanya, ia hanya ikut saja. Duduk di atas tikar dengan pemandangan laut yang indah sangatlah menyenangkan.
"Wah, anda ingin membuat apa, tuan?" tanya pak Hans ketika Nathan mengeluarkan beberapa mainan dari keranjang. Ternyata, isi keranjang itu bukanlah makanan, melainkan mainan dan juga beberapa lembar kertas.
"Aku akan membuat burung dari kertas ini," jawab Nathan sembari mengkotak-katik kertas yang ia pegang. Laki-laki itu menjawab dengan wajah datarnya.
"Ini hadiah untuk putri Daddy yang cantik" ucap Nathan memberikan burung dari kertas itu pada Nara. Pak Hans pun mengambil alih hadiah dari tuannya.
"Terimakasih, Daddy." Pak Hans menggerak-gerakkan tangan Nara.
Melihat itu, Diana tersenyum haru. Meski ia tak di anggap di sini, tapi ia sangat bahagia. Semua orang mencintai putrinya, ia sangat bersyukur karena putrinya di cintai tak seperti dirinya.
"Ini untuk mu," ucap Nathan melempar kertas yang sudah ia bulatkan ke kepala Diana.
Diana pun terkejut lalu menangkap bola kertas itu, ia tersenyum lalu memasukkan bola kertas itu ke saku bajunya.
"Cih, kau jelek sekali!" ketus Nathan membuat senyuman Diana langsung memudar.
"Jelek-jelek begini, aku ini istrimu," sahut Diana menaikkan kedua alisnya membuat Nathan tersenyum menyeringai.
"Hm, Apa kau ingin menyentuh air laut?" tawar Nathan membuat Diana langsung mengangguk.
"Mau," jawab Diana antusias.
"Ayo, aku akan menemanimu." Tanp menaruh curiga, Diana pun ikut berdiri dan mengikuti Nathan menuju air laut.
"Selamat bersenang-senang, tuan" Pak Hans tersenyum tulus sembari memperhatikan kedua insan yang kini tengah berjalan mendekati air laut.
"Pergilah," ucap Nathan.
"Iya," sahut Diana berjalan lebih dekat hingga kakinya terendam air laut.
Wanita itu terlihat sangat senang walau hanya kakinya yang terendam air laut. Tentunya, Diana tak ingin membuat pakaian nya basah, itu akan sangat risih nantinya.
Nathan tampak tersenyum sinis lalu mendekati Diana dari belakang, dengan wajah datarnya, ia mendorong istrinya hingga terjatuh dan alhasil pakaian Diana pun basah.
"Ha! Apa-apaan ini? Jahat sekali!" teriak Diana kesal karena tak suka bajunya basah.
"Tanggung sekali jika hanya kakimu yang basah," jawab Nathan enteng.
Diana pun menghela nafas panjang lalu tersenyum jahil, dengan kuat ia menarik kaki Nathan hingga laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan alhasil ikut jatuh ke air.
"Kau!" geram Nathan menatap tajam istrinya yang kini tertawa.
__ADS_1
"Rasakan," ucap Diana sembari menjulurkan lidahnya.
Sudut bibir Nathan pun terangkat, laki-laki itu tengah memikirkan sesuatu. Tampak Nathan kembali berdiri lalu dengan cepat menggendong Diana dan berjalan lebih jauh lagi masuk ke air.
"Hei, hei, kita mau kemana? Kita tidak sedang ingin bunuh dirikan?" tanya Diana panik dan langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Membiarkan tubuh kita lebih basah lagi," jawab Nathan melepas gendongan nya, alhasil Diana pun tak mau melepaskan pelukannya karena takut. Jika saja ini di kolam ataupun sungai ia berani, tapi di laut? Laut itu sangatlah luas, bagaimana jika ada hewan berbahaya di dalamnya.
"Ayo ke tepi," pinta Diana masih memeluk Nathan.
Nathan tampak tertawa kecil melihat wajah panik istrinya, ia pun dengan sengaja menenggelamkan seluruh tubuhnya dan alhasil Diana ikut masuk ke dalam air juga.
Beberapa detik kemudian, Nathan kembali ke permukaan air dan menarik Diana agar tetap di dekatnya.
"Ha! Apa itu? Apa itu?" gumam Diana masih panik sembari mengatur nafasnya.
"Kau takut?" tanya Nathan menarik pinggang Diana agar tubuh mereka saling menempel.
"Iya," jawab Diana mengangguk.
"Mau kesana?" tanya Nathan sembari menunjuk ke arah pak Hans.
"Iya, kesana saja," jawab Diana penuh harap jika Nathan benar-benar serius dengan perkataannya.
"Kalau begitu, beri aku satu ciuman," ucap Nathan dengan santai membuat Diana langsung menatap mata suaminya.
"Dasar mesum," gumam Diana tak habis pikir dengan pemikiran suaminya ini. Sebentar-sebentar jutek, sebentar-sebentar mesum.
"Kau tidak mau?"
"Tidak," jawab Diana cepat.
"Baiklah, kalau begitu biar aku saja."
"Apanya yang eump.....
Belum selesai Diana bicara, Nathan sudah menciumnya membuat wanita itu benar-benar kaget. Mereka berciuman di tempat umum, sungguh gila.
_
_
_
_
_
_
_
_
Maaf yah telat up🌹
Maaf juga kalau udah gak seru😢 karena belum ke konflik, padahal konfliknya gak lama lagi😢
Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc.