
Beberapa bulan kemudian.
Hari-hari berlalu dengan indah, kadang juga melelahkan.
Diana sudah memeriksa kandungannya bersama dengan Nathan dan tentunya laki-laki itu sangatlah bahagia.
Menurut penjelasan dokter mengenai sikap sensitif Nathan, laki-laki itu terkena kehamilan simpatik dimana dia lah yang merasakan bagaimana ngidam, sakit pinggang serta muntah-muntah dan lain-lainnya.
Kini semuanya kembali membaik, perlahan Nathan kembali normal. Laki-laki itu sudah seperti biasanya, hanya saja ia terlihat lebih waspada dengan aktifitas yang dilakukan istrinya.
"Sibuk?" tanya Diana pada suaminya yang tengah mengeringkan rambutnya. Diana baru saja selesai mandi.
"Lumayan," jawab Nathan.
"Hm."
"Apa kau ingin ke suatu tempat? Atau ingin makan sesuatu?" tanya Nathan.
"Aku hanya ingin berkunjung ke rumah orang tuaku. Bagaimanapun, aku juga ingin melihat mereka, meski mereka tidak pernah mencari ku," jawab Diana pelan membuat Nathan menghentikan aktivitas tangannya.
"Aku sibuk hari ini, mungkin lain kali saja. Maaf yah, sayang." Nathan mencium pucuk kepala istrinya, ia merasa bingung karena ia sendiri tak tau dimana makam ayah Diana.
Sebaiknya, nanti ia bertanya saja pada Rayyan ataupun Xeon. Mau sampai kapanpun ia merahasiakan hal ini, tetap suatu saat akan terbongkar juga bahwa keluarga Diana tak ada lagi.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti kalau sudah tak sibuk, bawa aku melihat keluargaku ya," ucap Diana pelan.
"Iya, sayang."
*****
Setelah mengurus istrinya, Nathan kini berada di markas sembari duduk memperhatikan anak buahnya yang sedang latihan untuk membunuh satu sama lain.
Terkadang, dalam suatu kelompok, ada orang yang berkhianat dan ingin kita jatuh. Maka dari itu, Nathan memerintahkan pada anak buahnya untuk mencari siapa yang menurut mereka berbahaya dan patut di bunuh.
Mereka semua sudah seperti tak punya harga lagi. Saling membunuh satu sama lain.
"Kira-kira, kapan anda akan membawa nona Diana pergi ke makam ayahnya?" tanya Rayyan yang sudah memberitahu Nathan dimana makam ayah Diana.
"Entahlah, aku tak ingin istriku menangis lagi."
"Jika anda tak membawa nona Diana kesana, mungkin itu juga akan mempengaruhi kondisi nona, tuan. Nona akan selalu berpikir negatif tentang keluarganya dan berefek pada kesehatannya nanti," ucap Rayyan memberikan sedikit nasehat.
"Hm." Nathan pun memilih diam karena tak tau harus bagaimana. Di satu sisi, ia tak ingin Diana menangis, di sisi lain, ia juga tak ingin Diana sakit.
"Sudah banyak dari mereka yang mati, tuan. Apa kita tak menghentikan saja ini semua?" tanya Rayyan melihat padang rumput yang sudah memerah.
"Aku memang ingin mereka mati, mereka sangat tak berguna. Mereka hanyalah sampah," jawab Nathan dingin.
__ADS_1
Rayyan pun hanya mengangguk saja, memang peserta yang di pilih adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bertarung. Bisa dikatakan lemah.
Mereka memang harus di musnahkan agar tak menjadi beban.
"Tapi, apa hal ini tak mempengaruhi kandungan nona Diana, tuan?" tanya Rayyan.
"Maksud mu, kalau aku melakukan hal buruk itu akan mempengaruhi kehamilan Diana? Hal bodoh apalagi itu?"
"Tapi setahu saya seperti itu, tuan. Apapun yang suami lakukan, akan mempengaruhi kehamilan atau anak anda ketika lahir nanti," jelas Rayyan.
"Saya tau dari orang-orang tua, tuan." Rayyan melanjutkan ucapannya.
"Tapi Nara tidak terpengaruh," ucap Nathan menatap serius anak buahnya itu.
"Maaf saya lancang, tuan. Nara itu bukan darah daging anda, jadi apapun yang anda lakukan pastinya tidak mempengaruhi nona Nara," jelas Rayyan.
Nathan pun tampak diam dan berpikir lalu menatap para anak buahnya yang tengah saling membunuh.
"Hentikan mereka!" titah Nathan memilih berdiri dan pergi dari tempat itu. Rayyan pun mengangguk lalu memerintahkan agar permainan itu berhenti.
******
Setelah dari markas, Nathan berniat pergi secara langsung ke makam ayah Diana. Ia akan melihat sendiri terlebih dahulu, barulah mengajak Diana nantinya.
Pikirannya benar-benar kacau sekarang, sebagai seorang suami yang ingin berubah menjadi suami yang baik, Nathan sangat tak ingin Diana menangis lagi.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Nathan pada supirnya.
"Mobil tidak bisa masuk ke sana, tuan. Kita harus berjalan kaki," jawab supir gemetar.
Nathan pun kembali diam dan akhirnya memilih untuk turun dari mobil. Ia akan berjalan mengikuti anak buahnya yang menunjukkan jalan menuju makam.
Para warga tampak keluar dari rumah mereka melihat siapa yang datang. Mereka bertanya-tanya siapakah itu? Mengapa mereka datang dengan beramai-ramai?
"Juna! Juna! Lihat, ada orang penting datang ke desa kita," teriak ibu Juna memanggil putranya.
Yang di panggil pun keluar lalu melihat siapa yang membuat heboh orang-orang di desanya.
"Bukankah laki-laki itu suaminya Diana? Untuk apa dia datang kemari?" gumam Juna masih terdengar di telinga ibunya.
"Apa? Itu suaminya Diana? Diana gadis mur*han yang dihamili ayahnya sendiri itu kan?" tanya ibu Juna dengan suara yang besar membuat beberapa orang mendengar dan saling berbisik-bisik.
"Ibu! Mengapa ibu mengatakan hal yang tidak benar? Diana tidak hamil dengan ayahnya, dia hamil karena preman-preman jahat itu! Berhentilah menghakiminya!" ucap Juna dengan nada tinggi.
"Cih, jangan menutupi aib orang." Ibu Juna membalas dengan tak kalah sengitnya.
Juna memilih diam dan kembali memperhatikan Nathan dan anak buahnya yang pergi ke makam pak Amar.
__ADS_1
"Kau ingin kemana, Juna?" tanya ibu Juna pada anaknya.
"Aku ingin tau, apa yang ingin mereka lakukan." Juna berjalan mengikuti rombongan Nathan. Melihat itu, beberapa warga pun ikut penasaran dan ingin melihat juga.
Kembali pada Nathan.
Setelah sampai di makam ayah mertuanya, Nathan tampak tak berekspresi melihat gundukan tanah yang tak terawat.
"Untungnya aku tak mengajak Diana ke sini, kalau Diana tau kuburan ayahnya seperti ini, mungkin dia semakin syok." Nathan bergumam kecil sembari menatap makam mertuanya itu.
"Katakan pada Rayyan untuk memindahkan makam ini ke makam keluarga!" titah Nathan.
"Baik, tuan."
Setelah melihat lokasi makam, Nathan pun berniat untuk segera pulang. Namun, sebelum pulang Nathan dengan sengaja menatap remeh pada Juna dan juga warga lainnya.
"Apa yang ingin kau lakukan pada makam pak Amar?" tanya Juna memberanikan diri walau sebenarnya ia sedikit takut melihat tampang anak buah Nathan.
"Bukan urusanmu!"
"Kau tidak bisa melakukan sesuatu sesuka hatimu, tuan!" tegas Juna.
"Sebaiknya kau urus saja urusanmu dan jangan ikut campur urusan orang lain!" tegas Nathan lalu berjalan meninggalkan para warga yang masih diam mematung.
"Sampah," ejek Nathan tersenyum sinis.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Maaf yah telat up beberapa hari, sebab author harus menjaga kesehatan mata yang kini mulai memburuk. Mata author suka berair dan perih, jadi harus jeda dulu main hp.
Terimakasih sudah menunggu.
__ADS_1
tbc.