
Hari terus berganti menjadi hari-hari yang menyenangkan kadang juga menjengkelkan bagi Diana.
Kini, suaminya sudah benar-benar sehat. Selama sakit, Diana tidur di kamar Nathan, lebih tepatnya merawat bayi besar nya itu.
Hari ini, Diana kembali seperti biasa. Tak melakukan apa-apa selain duduk dan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.
"Nona."
"Iya, pak Hans," sahut Diana.
"Tuan muda ingin nona ke ruang olahraga sekarang," ucap pak Hans membuat Diana kebingungan.
"Ruang olahraga? Memangnya ada yah? Untuk apa?" tanya Diana.
"Saya tidak tau untuk apa tuan memanggil nona, tapi, kalau ruang olahraga saya tau dimana," jawab pak Hans ramah.
"Oh, baiklah."
Diana pun mengikuti pak Hans menuju ruang olahraga.
Sesampainya di sana, Diana dapat melihat suaminya tengah menggendong Nara sembari berjalan-jalan mengelilingi ruangan.
"Saya pamit ke dapur, nona."
"Iya, pak."
Sepeninggalan pak Hans, Diana pun masuk ke ruangan.
"Ada apa? Kata pak Hans, kau memanggilku," tanya Diana langsung.
"Kemari lah," ucap Nathan meminta Diana mendekat.
"Tidak di gigit kan?" tanya Diana ragu, karena Nathan sudah mulai sering menggigit lehernya. Katanya pemanasan, tapi Diana tidak merasa panas, melainkan perih dan malu.
"Kalau kau tetap di sana, aku jamin akan melakukan lebih dari menggigit," ucap Nathan menyeringai tipis.
Mendengar itu, Diana pun langsung mendekati suaminya.
"Hm, ada apa?" tanya Diana yang kini sudah berada di hadapan suaminya.
"Tidak ada," jawab Nathan enteng.
"Kalau tidak ada mengapa memanggilku?" tanya Diana ketus.
"Suka-suka hatiku," jawab Nathan sembari tersenyum mengejek.
"Ck, menyebalkan. Bilang saja kalau kau itu rindu," ucap Diana melipat kedua tangannya di dada.
"Rindu?" tanya Nathan tersenyum kecil.
"Iya, kau rindu padaku, bukan? Karena itu, kau mencari-cari alasan untuk bertemu denganku," jawab Diana dengan percaya diri.
"Sepertinya kau memang ingin di gigit," ucap Nathan menyeringai nakal.
"Akhh! Jangan macam-macam!"
"Kalau begitu, jangan banyak bicara dan dengarkan aku! Pergi ke sana dan olahraga lah, aku ingin melihat mu olahraga!" titah Nathan duduk di kursinya.
Diana menatap treadmill yang di tunjuk suaminya tadi, ia menggeleng karena tak mau melakukan hal-hal aneh.
"Aku tidak tau cara naik nya, kalau aku jatuh atau terluka bagaimana?" tolak Diana.
"Bukannya kau sudah sering jatuh dan terluka, lalu apa salahnya kalau kau terluka dan jatuh lagi?" ucap Nathan sembari memegang tangan putrinya.
"Tangan putri Daddy makin besar yah, gendut." Nathan mencium tangan Nara berkali-kali membuat Diana tersenyum senang.
__ADS_1
"Apa senyum-senyum? Pergi sana!" ketus Nathan langsung menghilangkan senyuman manis istrinya.
"Tapi aku tidak tau bagaimana cara naik nya," ucap Diana jujur. Lagi pula, mengapa suaminya ini tiba-tiba memintanya olahraga.
"Aku tidak mau tau, kau harus lari di situ! Kalau tidak, aku akan membiarkan Nara yang lari di situ!" ancam Nathan membuat Diana melongo.
"Apa-apaan itu? Tidak masuk akal!" sahut Diana kesal.
"Cepat lakukan sebelum aku mewujudkan perkataan ku tadi!" titah Nathan dengan suara rendah.
"Iya, iya." Diana pun berjalan ke arah treadmill lalu menatap bingung alat olahraga itu.
"Apa yang harus di tekan?" tanya Diana pada suaminya, tapi Nathan tak merespon apapun.
Diana terus menatap benda aneh yang ada di hadapannya, ia bingung harus melakukan apa sekarang.
"Apa aku tekan asal saja yah?" gumam Diana.
"Semangat, hati-hati benda itu mudah meledak," ledek Nathan berbohong lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan meninggalkan Diana yang terlihat ketakutan.
"Meledak? Aku tidak mau meledak," ucap Diana berlari mengikuti suaminya. Entah apa maksud Nathan memanggil Diana ke ruang olahraga, tapi Diana yakin itu hanyalah sebuah siasat untuk mengerjainya saja.
"Tunggu aku!"
*****
Keesokan harinya.
Diana pikir, semua sudah berakhir. Tapi, ternyata tidak. Suaminya masih meminta Diana untuk melakukan hal-hal aneh.
"Banyak sekali rumput yang harus di cabut," keluh Diana yang kini berada di halaman belakang dan tengah mencabut rumput dengan tangannya.
*****
Keesokan harinya.
"Semangat, nona." Para pelayan menyemangati Diana, sedangkan Nathan duduk dengan santainya sembari memangku Nara.
"Yang bersih!" titah Nathan.
"Iya, iya."
*****
Keesokan harinya.
"Kenapa ikannya harus di pindah sih?" keluh Diana lagi yang kini di tugaskan memindahkan ikan yang ada di kolam ke kolam baru.
"Semangat aku mendoakan mu dari dalam hati," ucap Nathan sembari mengangkat tangan Nara.
Entah apa tujuan suaminya ini, tapi Diana benar-benar lelah.
******
Malam harinya.
Diana akhirnya bisa membaringkan tubuhnya yang lelah sembari menyusui Nara. Matanya tampak tertutup dan nafasnya pun tampak teratur.
Sepertinya, Diana sudah tertidur.
Dari pintu kamar, Nathan muncul lalu mengunci pintu. Laki-laki itu berjalan ke arah Diana lalu duduk di tepi ranjang sebelah istrinya itu.
Nathan mendekatkan wajahnya menatap Nara yang menyusui, bola mata bayi mungil itu sangat menghipnotis sang tuan Albert.
Tangan Nathan terulur menyentuh pipi Nara, perempuan yang pertamakali membuat Nathan jatuh cinta setelah ibunya.
__ADS_1
"Ayo kita bangunkan ibu mu," bisik Nathan lalu menggigit leleh Diana membuat wanita itu terkejut.
"Siapa yang menyuruhmu tidur, ha?" tanya Nathan ketus.
"Tolong biarkan aku tidur, aku sangat mengantuk." Diana menutup mulutnya yang menguap, matanya saja sampai mengeluarkan air mata.
"Tidak boleh tidur, aku tak mengizinkan mu untuk tidur!" tegas Nathan.
"Lalu kau mau apa?" tanya diana kesal.
"Aku ingin hak ku," jawab Nathan enteng.
"Hak, hak, hak, itu saja setiap hari permintaan mu!" ketus Diana sembari sesekali menguap.
"Bukankah kau ingin aku mencintaimu, maka berikan hak ku," ucap Nathan sembari menoel-noel pipi Nara.
"Bunuh saja aku," ucap Diana pasrah karena memang wanita itu sangat lelah dan mengantuk.
"Iya, nanti aku bunuh. Tapi, berikan hak ku dulu," sahut Nathan dengan entengnya membuat Diana tak habis pikir.
"Jangan sekarang, aku sangat mengantuk. Aku mohon mengertilah, kau sendiri menyuruhku ini itu, jadi aku mengantuk," pinta Diana memohon agar ia di biarkan untuk tidur.
"Tapi aku mau sekarang!" tegas Nathan.
"Akhh! Ini, ini. Ambil hak mu," ucap Diana kesal sembari menendang selimutnya.
Nathan tampak tertawa kecil lalu menyandarkan kepalanya di bahu Diana yang berbaring menyamping.
"Baiklah, aku akan memintanya besok. Kau harus wangi, memakai baju seksi dan berdandan cantik."
"Iya, iya."
"Aku akan memegang perkataan mu," ucap Nathan pelan.
"Hm."
Diana pun kembali menutup matanya, sedangkan Nara masih terbangun dan minum susu.
"Tidurlah cantik," bisik Nathan mengelus-elus pipi Nara. Nathan tersenyum kecil karena merasakan sensasi yang hangat ketika mengerjai istrinya dan juga selalu dekat dengan putrinya.
Sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan lagi setelah kepergian kedua orang tuanya.
_
_
_
_
_
_
Note:
Mana konflik nya Thor? Apa gak ada cerita pemeran pendukung?
Konfliknya ada yah bu-ibu, pak-bapak. Hanya saja belum muncul, biarkan terlebih dahulu Nathan belajar untuk mencintai Diana walau sikapnya masih jutek dan seenaknya saja. Karena Nathan mencintai Diana dengan caranya sendiri.
Nanti kalau dah konflik malah mewek🤧 Author aja mewek😁 apalagi kalian😁
Kalau pemeran pendukung ada juga, tapi belum sekarang. Nanti akan muncul semua.
Intinya, ikuti saja alurnya dan nikmati 😁
__ADS_1
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.