Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 65. Flashback #1


__ADS_3

Flashback On


"Abang," panggil seorang wanita pada anak laki-laki yang sedang bermain di halaman rumah.


"Iya, ibu." Anak laki-laki berusia 10 tahun itu langsung berlari mendekat ibunya.


"Mau kue?" tanya Maya yang tak lain adalah ibu dari anak laki-laki itu.


"Mau," jawab anak laki-laki yang tak lain adalah Nathan.


"Yasudah, ayo ke ruang TV," ajak Maya sembari tangan kanannya menggenggam tangan kecil Nathan dan tangan kirinya memegang sepiring kue yang baru saja matang.


"Ayah dimana?" tanya Nathan kecil yang kini sudah berada di ruang TV.


"Ayah kan pergi kerja, sayang. Sebentar lagi pulang," jawab Maya sembari duduk di samping putranya dan memakan kue buatannya sendiri.


"Kalau ayah pulang, ibu harus bilang kalau Abang mau jalan-jalan. Ayah selalu saja sibuk, katanya kita mau liburan, tapi selalu janji saja," ucap Nathan kecil sembari mengerucutkan bibirnya membuat sang ibu gemas.


"Iya, sayang."


Saat mereka asyik makan kue sembari menonton, suara klakson mobil pun terdengar dari depan rumah. Maya pun berdiri dan langsung pergi ke pintu untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang kerja.


"Sayang," sapa Johannes atau yang sering di panggil Johan sembari mencium pipi istrinya.


"Kau sudah pulang? Lelah tidak?" tanya Maya langsung memeluk suaminya dengan manja.


"Eum, lelah sekali. Dimana jagoan ku?" tanya Johan masuk ke rumah dan berjalan ke arah kamar.


"Sedang menonton, dia menunggumu sedari tadi. Katanya, dia ingin menagih janji liburan yang selalu kau katakan," jawab Maya membuat Johan tertawa kecil.


"Selesai mandi aku akan bergabung, kalian tunggu saja di sana yah," ucap Johan sekali lagi mencium pipi istrinya.


"Iya, sayang."


Setelah menyiapkan pakaian suaminya, Maya pun kembali untuk bergabung dengan putra semata wayangnya yang sedang menonton kartun.


Beberapa menit kemudian.


Johan sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian, kini laki-laki itu pergi untuk bergabung dengan anak dan istrinya.


"Apa kabar jagoan ayah?" tanya Johan mengejutkan Nathan kecil membuat bocah itu langsung memukul lengan ayahnya.


"Wah, tangan ayah sakit. Mau patah rasanya," ucap Johan pura-pura merasakan sakit karena di pukul putranya. Johan pun tampak membaringkan tubuhnya dengan ber-bantalkan pangkuan sang istri.


"Hei, kenapa diam-diam?" tanya Johan mencubit pipi Nathan kecil.


"Ayah jangan pegang-pegang, Abang sedang marah!" sahut Nathan bernada kesal.


"Marah sama siapa?" goda Johan.


"Sama ayah," jawab Nathan cepat.


"Kenapa marah sama ayah?" tanya Johan lagi sembari menggeser tubuh putranya agar mendekat.


"Karena ayah ingkar janji, ayah pembohong!" jawab Nathan kecil menatap marah pada ayahnya.


"Huwaa, tampan sekali jagoan ayah kalau sedang marah," goda Johan semakin membuat Nathan kecil marah.


"Sayang, jangan begitu. Kau sudah berjanji mengajak Nathan pergi liburan, jadi, kau harus menepatinya." Maya menyela dengan memberikan nasehat pada suaminya.


"Memangnya, Abang mau liburan kemana?" tanya Johan sembari tertawa kecil membuat Nathan kecil memilih untuk diam.


"Abang mau kemana liburannya?" tanya Maya lembut sembari mengelus kepala putranya.


"Kemana saja boleh, asalkan dengan ayah dan ibu," jawab Nathan dengan mata sudah memerah.


"Oh, jagoan ayah. Maaf yah, nak, kalau ayah tidak tepat janji. Tapi, kali ini ayah akan menepatinya, Minggu depan kita akan liburan kemanapun Abang mau," ucap Johan duduk lalu memeluk putranya yang sudah menampakkan tanda-tanda ingin menangis.


"Iya, ayah janji kan?" tanya Nathan kacil dengan suara serak. Bocah itu sangat mudah menangis kalau bersangkutan dengan ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Janji, tapi, ada syaratnya."


"Ah, apa?" tanya Nathan kecil mendongakkan kepalanya menatap wajah sang ayah.


"Malam ini, Abang tidur dengan ayah dan ibu yah," pinta Johan masih memeluk putranya.


"Tapikan, Abang sudah besar."


"Tidak apa-apa, mau Abang sebesar apapun itu nanti, kalau ayah dan ibu masih hidup, Abang sesekali harus tidur dengan kami," ucap Johan membuat Nathan kecil mengangguk patuh.


"Iya, ayah."


********


Malam harinya.


Nathan kecil kini sudah berada di kamar ayah dan ibunya. Terlihat kini Nathan kecil tengah berbaring di atas ranjang sembari menatap wajah ibunya yang sudah tertidur.


Johan tampak keluar dari kamar mandi lalu naik ke ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke dada.


"Belum tidur, sayang?" tanya Johan memeluk putranya.


"Belum," jawab Nathan kecil.


"Tidurlah, besok Abang sekolah."


"Iya, ayah. Selamat tidur," ucap Nathan kecil menutup matanya dan berusaha untuk tidur.


Beberapa jam kemudian, tampak Nathan kecil bergerak kesana-kemari membuat Johan maupun Maya terbangun.


"Abang kenapa?" tanya Maya.


"Abang tidak bisa tidur," jawab Nathan kecil tampak gelisah.


"Kenapa, sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Maya duduk sembari memeriksa tubuh putranya.


"Tidak ada, cuma tak bisa tidur saja, ibu."


"Suara apa itu?" tanya Maya terkejut mendengar suara hantaman keras dari luar.


"Ibu, Abang takut." Nathan kecil langsung memeluk sang ibu.


"Tenang, nak. Mungkin para pelayan sedang memindahkan barang, biar ayah lihat yah," ucap Johan menenangkan putranya lalu pergi keluar untuk melihat suara apa itu tadi.


Beberapa menit kemudian.


"Kenapa ayah lama sekali?" tanya Nathan kecil memeluk erat tubuh ibunya.


Maya pun tampak khawatir, mengapa suaminya belum juga kembali. Apa terjadi sesuatu di luar sana.


Ceklek.


Pintu terbuka, tampak Johan berkeringat lalu mengunci pintu dan mendekati istrinya.


"Ada apa, sayang?" tanya Maya khawatir, apalagi melihat tangan suaminya yang berdarah.


"Sembunyi lah di ruang ganti dan kunci pintunya dari dalam. Masuk ke dalam lemari dan jangan keluar sampai pak Hans mengetuk pintunya!" titah Johan membuat Maya langsung berdiri.


"Tapi kenapa? Siapa yang ada di luar dan mengapa tanganmu terluka?" tanya Maya panik.


"Dengarkan aku! Kita tak punya waktu untuk saling bicara! Pergi ke ruang ganti dan sembunyi lah!" tegas Johan.


"Ta-tapi....


"Ayah," panggil Nathan kecil. Johan langsung mengelus kepala anaknya itu dan tersenyum.


"Jaga ibu baik-baik yah, Minggu depan, jagoan ayah pasti pergi liburan."


"Tangan ayah berdarah," ucap Nathan kecil dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Bawa Nathan masuk, May! Kita tak bisa keluar dari rumah ini karena sekeliling rumah sudah dikepung orang jahat" titah Johan. Dengan cepat Maya masuk ke ruang ganti, Maya tampak mengintip keluar melihat suaminya membawa senapan dan juga belati.


Johan tampak melirik ke arah pintu ruang ganti, ia berjalan ke arah pintu lalu tersenyum manis ke arah istrinya.


"Aku mencintaimu, jaga anak kita."


Setelah mengatakan itu, Johan langsung pergi meninggalkan Maya yang terisak. Maya langsung mengunci pintu dan memeluk putranya.


"Apa yang terjadi, Bu? Ayah kemana?" tanya Nathan kecil bingung melihat ibunya yang menangis.


"Kita harus sembunyi, sayang."


Sudah hampir setengah jam Maya dan anaknya duduk di ruang ganti tanpa berbicara. Maya mengelus kepala putranya yang sudah tertidur di pangkuannya.


"Mengapa Johan lama sekali? Apa yang terjadi di sana? Apa dia baik-baik saja?" Batin Maya berkecamuk memikirkan suaminya.


Maya tak bisa diam saja di sini dan membiarkan suaminya terluka di sana. Ia harus melihat suaminya.


"Abang." Maya membangunkan Nathan, bocah itu pun langsung bangun dan duduk.


"Iya."


"Nak, ibu akan melihat ayah. Abang tetap di sini dan sembunyi ke dalam lemari yah, jangan buka pintunya sebelum ibu yang mengetuk yah," ucap Maya sembari menatap bola mata hitam putranya.


"Iya." Nathan kecil mengangguk patuh.


"Kunci dari dalam yah, nak."


"Iya, ibu."


"Ibu sayang sekali sama Abang, Abang sekolah yang rajin, jangan lupa makan, jangan cengeng yah. Sembunyi dan larilah kalau ada bahaya yah," lanjut Maya memeluk putranya. Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bisa memeluk sang putra.


"Abang dengar ibu?"


"Iya, ibu. Abang dengar," jawab Nathan kecil mengangguk.


"Kunci dari dalam yah." Maya pun berdiri lalu memeluk anaknya sekali lagi, mencium pipi putranya berkali-kali dengan air mata yang terus mengalir.


"Kalau Minggu depan kita tidak jadi liburan, jangan marah sama ayah yah, nak."


"Iya, Abang tidak marah sama ayah. Abang cuma pura-pura," sahut Nathan tersenyum membuat Maya sekali lagi memeluk putranya.


"Ibu sayang sama Abang," ucap Maya mencium kening Nathan.


"Abang juga sayang sama ibu," balas Nathan kecil mencium pipi ibunya.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Kita bagi jadi dua bab yah, karena kalau 1 bab aja terlalu panjang jadinya gak enak di baca. 🤭...


...Maaf yah telat dua hari update nya, soalnya memang sedang sibuk banget sama urusan kuliah😁...


Terimakasih karena sudah menunggu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2