
Malam terus berlanjut hingga jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Nathan sudah di bawa ke rumah sakit dan sudah di tangani oleh dokter terbaik di rumah sakit mewah itu.
"Bagaimana kondisi tuan Albert?" tanya pak Hans pada dokter yang menangani luka Nathan.
"Tuan Albert baik-baik saja, tuan. Tidak lama lagi tuan Albert akan sadarkan diri." Pak Hans menghela nafas lega, setidaknya ia tak perlu khawatir lagi dengan keadaan tuannya. Kini, ia hanya perlu mengkhawatirkan keadaan Diana dan Nara.
"Saya permisi, tuan." Pak Hans mengangguk membiarkan dokter itu pergi. Pak Hans pun masuk ke ruang rawat Nathan lalu menatap tuannya dengan tatapan bingung.
"Rayyan baru saja tiba dan sedang berusaha mencari nona dan putri anda. Saya mohon, sadarlah dengan cepat agar semuanya tertangani dengan baik. Anda tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya, bukan?"
Setelah mengatakan itu, pak Hans pun memilih untuk keluar dari ruang rawat Nathan lalu memerintahkan beberapa anak buah untuk berjaga. Ia akan membeli beberapa keperluan untuk menginap malam ini di rumah sakit.
Di sisi lain, Rayyan yang baru saja tiba langsung mencoba melacak keberadaan Diana. Beruntungnya, ia sudah menanamkan alat pelacak di gelang Diana, yang jadi masalahnya, apa Nathan sudah memberikan gelang itu? pikir Rayyan.
Rayyan sibuk mengkotak-katik laptopnya, berharap ia menemukan titik terang keberadaan Diana.
"Ceroboh!" geram Rayyan sangat marah dan kesal. Bagaimana bisa anak buah Nathan mengikuti perintah untuk tidak mengawasi tuannya.
"Memang cinta itu membutakan semuanya!"
"Tuan, kami menemukannya," ucap salah satu anak buah Rayyan.
Rayyan pun langsung fokus pada layar laptopnya menatap titik merah di layar.
"Mereka sangat jauh, tuan. Butuh sekitar satu setengah jam untuk ke sana," ucap anak buah Rayyan.
"Tak ada yang jauh bagiku sekarang! Perintahkan anak buah untuk turun sekarang, gunakan kendaraan tercepat ke sana! Jangan sampai terlambat!" titah Rayyan dengan suara yang menggema di ruangan.
"Baik, tuan."
"Tuan, pak Hans meminta anda untuk ke rumah sakit sekarang. Tuan muda sudah sadarkan diri," ucap salah satu anak buah Rayyan yang baru saja menerima telepon dari pak Hans.
Rayyan pun mengangguk, ia akan ke rumah sakit terlebih dahulu. Entah apa tanggapan tuannya nanti setelah tau istri dan anaknya menghilang.
Di rumah sakit.
Nathan sudah sadarkan diri, kini laki-laki itu masih merasakan sakit di bagian kepalanya dan juga lengan kirinya.
"Anda baik-baik saja, tuan?" tanya pak Hans. Sudah lebih dari lima kali pak Hans bertanya, tapi Nathan tak kunjung menjawab.
"Di mana Diana dan Nara?" tanya Nathan pelan.
Pak Hans tampak terdiam, ia harus menjawab apa. Ia harus menunggu Rayyan datang, barulah ia akan menjawab nantinya.
"Di Mana istri dan anakku?" tanya Nathan sekali lagi. Suaranya tampak lemah membuat pak semakin khawatir.
"Hans!" teriak Nathan marah membuat pak Hans terkejut. Apalagi mendengar namanya di panggil tanpa embel-embel pak.
"Saya, tuan."
__ADS_1
"Kau tuli! Aku bertanya padamu, dimana istri dan anakku!" bentak Nathan benar-benar marah.
"Maafkan saya, tuan. Nona Diana dan nona Nara menghilang dan sekarang sedang dalam pencarian," jawab pak Hans menundukkan kepalanya. Ia akhirnya menjawab juga walau Rayyan belum kunjung datang.
Nathan tampak diam, sorot matanya menampakkan amarah dan juga kebencian. Laki-laki itu melepaskan jarum infus yang melekat di punggung tangan kanannya dengan cepat dan membiarkan darah mengalir begitu saja.
"Anda ingin kemana, tuan? Kondisi anda belumlah stabil," tanya pak Hans panik.
"Menyingkir dari hadapanku sekarang juga!" bentak Nathan mendorong pak Hans hingga laki-laki tua itu terjatuh.
Nathan pun berjalan keluar dari ruangan diikuti pak Hans.
"Tuan muda," panggil Rayyan mendekati Nathan dan juga pak Hans.
Nathan yang melihat kedatangan Rayyan langsung mencekik leher anak buahnya itu.
"Kau sudah menemukannya, bukan?" tanya Nathan menatap tajam anak buahnya itu.
"Su-sudah, tuan. Saya sudah menemukannya," jawab Rayyan merasakan sakit.
Nathan pun melepaskan cekikan nya lalu berjalan keluar dari rumah sakit diikuti Rayyan dan juga pak Hans serta anak buah yang bertugas menjaga di rumah sakit.
"Bawa aku ke tempat itu dengan cepat!" titah Nathan duduk di kursi sebelah pengemudi. Rayyan pun mengangguk lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan pak Hans yang akan kembali ke mansion untuk menjaga keadaan mansion agar tetap stabil.
Di dalam mobil, Nathan tampak menatap kosong jalanan sembari terus berusaha berpikir positif kalau istri dan anaknya akan baik-baik saja.
"Mengapa saat hidupku mulai membaik, kau mengusikku, paman? Aku berjanji, hari ini, aku akan membunuhmu!"
Dinginnya malam di tambah tidur tanpa beralaskan tikar membuat tubuh Diana menggigil. Wanita itu baru saja sadarkan diri dan kini berusaha untuk duduk.
Diana mencari keberadaan putrinya, ia terkejut melihat Nara tergeletak di atas lantai. Dengan cepat, Diana mengangkat tubuh mungil putrinya lalu memeluk Nara dengan erat.
"Apa yang terjadi? Nara sayang," lirih Diana memeriksa tubuh putrinya yang di penuhi luka memar.
"Nara bangun, nak." Diana mengguncang-guncang tubuh Nara dengan pipi yang sudah di basahi air mata.
"Nara!" teriak Diana pilu tak merasakan detak jantung putrinya.
"Tidak boleh, jangan tinggalkan ibu," tangis Diana histeris.
Diana berusaha berdiri mencari pintu keluar. Ia tak akan membiarkan takdir merebut kembali orang tercintanya.
Sudah cukup dengan kepergian keluarganya, jangan putrinya.
"Tolong, buka pintunya!" teriak Diana mengetuk-ngetuk pintu. Tak ada jendela di ruangan itu, hanya ada ruangan kosong dengan cahaya yang remang-remang.
"Nara!" tangis Diana mencubit tangan anaknya berharap mendapatkan respon, namun hasilnya nihil.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka, Diana pun memundurkan langkahnya ketika melihat beberapa laki-laki masuk sembari membawa kayu dan juga senjata tajam.
"Halo, Diana. Akhirnya kita bertemu lagi," sapa Baron masuk sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Biarkan pintunya terbuka!" titah Baron saat melihat anak buahnya ingin menutup pintu.
"Apa kabar, istri keponakanku?" tanya Baron menatap remeh pada Diana.
"Tolong lepaskan aku, setidaknya tolong bawa anakku ke rumah sakit. Tolong anakku," pinta Diana penuh harap.
Mendengar itu, Baron pun tertawa lepas sembari meminta kayu yang di pegang anak buahnya.
Baron melempar kayu itu ke arah Diana membuat wanita itu kesakitan.
"Jika kau ingin keluar, maka setidaknya kalahkan satu saja anak buah ku. Pintu terbuka lebar untuk mu jika kau berhasil mengalahkannya," ucap Baron menyeringai licik.
Diana menatap kayu yang kini di dekat kakinya lalu menatap Baron dan anak buahnya bergantian. Wanita itu kembali menatap sang putri, berharap putrinya akan baik-baik saja.
Diana pun meletakkan Nara di sudut ruangan sembari mengelus pipi anaknya.
"Ibu berjanji akan menyelamatkan mu," lirih Diana.
Diana pun mengambil kayu yang tergeletak di lantai lalu memasang kuda-kuda seperti yang sering diajarkan suaminya dengan sedikit candaan.
"Wah, menarik sekali. Ternyata, suamimu itu sudah mengajarkan mu bela diri yah. Ini semakin menyenangkan," ucap Baron tertawa kecil lalu mengkode salah satu anak buahnya untuk melawan Diana.
"Peraturannya adalah, kalian akan dinyatakan menang, jika salah satu diantara kalian mati," lanjut Baron membuat Diana terkejut tentunya. Bagaimana bisa ia membunuh laki-laki di depannya ini sedangkan tubuh laki-laki itu sangat besar, berbanding terbalik dengannya.
Tapi, demi anaknya. Ia akan berusaha, kalau perlu ia akan membunuh semua orang ataupun membunuh dirinya sendiri agar anaknya selamat. Diana masih menaruh harapan besar untuk keselamatan putrinya, meski Nara hadir karena sebuah kesalahan, tapi Diana sangat mencintai putrinya.
Nara adalah kehidupan Diana.
_
_
_
_
_
_
_
_
...Deg, deg, deg😬😞...
__ADS_1
tbc.