
Sore harinya, Diana masih berada di ranjang dan masih melakukan hal yang sama yaitu berbaring di tempat tidur.
"Diana," panggil Rayyan membuka sedikit pintu kamar lalu menampakkan kepalanya.
"Iya?"
"Aku masuk yah," ucap Rayyan meminta izin.
"Iya."
Rayyan pun masuk ke kamar Diana lalu menghampiri Diana yang tengah berbaring. Rayyan memilih untuk duduk di kursi samping Diana.
"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Rayyan.
"He'em, lumayan."
"Diana, maafkan aku yah. Aku tidak bisa melindungi mu seperti yang ku janjikan dulu," ucap Rayyan tulus.
Diana pun tersenyum mengangguk, "aku memaafkan mu. Lagi pula, sekarang aku baik-baik saja."
"Terimakasih karena sudah memaafkan ku," ucap Rayyan tersenyum menampakkan gigi nya.
"Oh ya, dimana Nara dan Nathan? Aku tidak melihat mereka sedari tadi," tanya Diana.
"Eum, mereka pergi keluar sebentar, mungkin jalan-jalan." Rayyan menjawab dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Oh, jalan-jalan yah. Baguslah, setidaknya hidup suamiku itu tidak datar-datar saja," ucap Diana sembari tertawa. Rayyan pun ikut tertawa, mereka berdua mengobrol melepas rindu selayaknya kakak dan adik.
*****
Di sisi lain.
Nathan kini tengah berada di markas utamanya. Ia duduk di sebuah ruangan sembari menimang putrinya.
"Mengapa kau melihat Daddy seperti itu, ha?" tanya Nathan menatap bola mata putrinya.
"Apa Daddy mu ini terlalu tampan, hm?"
"Tuan, dia sudah sadar," ucap Xeon menyela perbincangan antara ayah dan anak itu.
"Hm, lakukan!"
"Baik, tuan." Xeon mengeluarkan sebuah remote lalu seketika tirai yang ada di hadapan Nathan pun bergeser ke samping. Terlihatlah sebuah kotak kaca memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah duduk dengan kaki dan tangan yang terikat. Laki-laki itu tampak kebingungan sembari menatap kesana-kemari.
"Kau sudah bangun, tampan?" tanya Xeon dengan mic yang ia pegang agar suaranya terdengar ke kotak kaca itu.
"Dimana aku? Apa yang terjadi? Keluarkan aku!" teriak laki-laki itu yang tak lain adalah Zeno.
Teriakan Zeno dapat Nathan dengar melalui earphone yang ia gunakan. Sangat nyaring tentunya, membuat Nathan terganggu.
Nathan pun merebut mic yang ada di tangan Xeon.
__ADS_1
"Jangan berteriak, sialan! Kupingku sakit!" ketus Nathan kesal.
"Keluarkan aku! Keluarkan aku!" teriak Zeno Tak mengindahkan perkataan Nathan.
Salah satu anak buah Nathan pun masuk ke kotak kaca itu lalu memukul kepala Zeno dengan kayu. Pukulan itu berhasil membuat kepala Zeno mengeluarkan darah, pandangan laki-laki itu pun tampak buram.
"Aku bilang jangan berteriak, tapi kau sangat keras kepala. Jadi, terimalah pelunak kepala itu," sinis Nathan tersenyum menyeringai.
"Lepaskan aku dari sini! Kalian tidak tau kalau keluarga ku adalah keluarga terpandang, aku ini tuan muda keluarga Sanjaya!" tekan Zeno masih dengan sifat keras kepalanya.
"Hahahahahaha," tawa Nathan menggelegar mendengar perkataan Zeno yang penuh dengan penekanan agar ia berhati-hati dengan keluarga kecil itu.
"Xeon, tolong tunjukkan padanya dimana sekarang keluarga tercintanya itu!" titah Nathan masih dengan sisa tawanya.
"Apa maksudmu, ha? Keluarga ku sekarang berada di luar negeri, kau tak bisa menyakiti mereka," ejek Zeno.
"Maksudnya, luar alam yah?" sahut Nathan tersenyum sinis.
"Sialan! Jangan main-main dengan ku!" teriak Zeno menatap tajam Nathan, yang di tatap pun hanya tersenyum saja.
Xeon tampak mendekat ke arah dinding kaca lalu memperlihatkan sebuah Video yang ada di tablet nya.
Sebuah video dimana keluarga Zeno di bantai dengan sadis lalu di bakar tepat di kediaman keluarga Sanjaya. Tak ada yang tersisa, semuanya rata.
"Tidak mungkin! Itu semua tidak mungkin! Ibu ku bilang mereka pergi keluar negeri, kalian pasti memanipulasi ini kan!"
"Kami yang mengirim pesan itu padamu, tuan muda Sanjaya. Ibu dan ayahmu, serta seluruh keluarga Sanjaya mati dan sekarang abu jasad mereka sudah menyatu dengan tanah," jelas Xeon mematikan layar tablet nya.
"Itu mungkin, tuan muda Sanjaya. Kau yang terlebih dahulu menantang kami dengan mengirimkan pelayan untuk membunuh istri serta putri tuan Albert. Itu hanyalah peringatan kecil dari kami, tapi ternyata kau melakukan kesalahan yang lebih fatal dimana kau mencoba menyentuh istri dari tuan Albert," jelas Xeon dengan wajah datarnya.
Seketika Xeon tersenyum membuat Zeno merinding.
"Kau layak mati dengan mengenaskan!" ucap Xeon lalu berjalan kembali mendekati Nathan.
"Sudah puas dengan penjelasannya?" tanya Nathan sembari menepuk-nepuk paha Nara.
Nathan berjalan ke arah dinding kaca lalu menatap tajam Zeno yang tampak masih berpikir.
"Semuanya sudah tiada, tak ada satupun keluarga mu yang bisa menyelamatkan mu. Lalu sekarang, lebih baik kau mati daripada menjadi beban di dunia ini!" sinis Nathan tersenyum mengejek.
"Lihatlah di sana, sayang. Laki-laki itu sangat menyedihkan, dia sangat jelek dan juga menjijikkan. Dia jelek kan?" ucap Nathan membiarkan Nara melihat ke arah Zeno.
Tampak Zeno menatap tajam ke arah dua insan itu lalu meludah ke depan membuat Nathan langsung menutup mata Nara dengan telapak tangannya.
"Anggap saja itu adalah kebebasan terakhir mu untuk melawan." Nathan kembali duduk dan mengkode Xeon agar segera melakukan eksekusi.
"Lakukan!" titah Xeon dan diangguki anak buahnya.
Seketika beberapa lubang dari atas kotak mengeluarkan air membuat Zeno panik. Air turun dengan deras dan dengan cepat naik hingga ke dada laki-laki itu.
Air itu pun berhenti keluar dari lubang atap, Zeno tampak mengatur kembali nafasnya.
__ADS_1
"Lepaskan!" titah Xeon dan diangguki oleh anak buahnya.
Atap kotak kaca itu pun sedikit terbuka dan jatuhlah beberapa mahkluk air yang sangat ganas.
Zeno membelalakkan matanya melihat hewan apa yang jatuh ke dalam air.
"Tidak! Tidak, tolong lepaskan aku! Tolong aku!" teriak Zeno mencoba melepaskan ikatan di kakinya, hal itu menimbulkan gerakan yang dapat memicu insting bahaya dan kelaparan dari makhluk ganas itu.
Puluhan ikan piranha yang sengaja tak diberi makan pun sudah masuk dan berenang di air dalam kotak kaca.
Perlahan, warna air yang jernih menjadi keruh kemerah-merahan.
"Arghhhh! Tolong aku!" teriak Zeno kesakitan.
Nathan pun melepas earphone nya karena telinga nya sakit mendengar teriakan Zeno. Dengan cepat Xeon menekan tombol remote untuk menutup kembali kotak kaca itu.
"Kau lihat, nak. Hidup ini sangatlah keras, jadi tumbuhlah menjadi wanita yang kuat," bisik Nathan menjauhkan telapak tangannya yang tadi menutup mata Nara.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...owow😁😁...
Tentang ikan piranha, menurut research Mbah G. Piranha itu tidak memakan manusia hidup dan sehat kecuali jika manusia itu mengganggu ketenangan mereka dengan berenang pada saat musim bertelur ataupun melakukan pergerakan yang bisa disalahartikan sebagai buah-buahan atau makanan yang jatuh.
Bau darah juga dapat memancing kedatangan mereka, karena insting mereka mengatakan bahwa ada hewan terluka yang akan menjadi makanan dari mereka.
Nah kalau yang dalam film-film, itu sebenarnya sudah di lebih-lebih kan biar nambah tegang. Tapi, itu bisa saja terjadi walau kecil kemungkinannya 😁
Nah, si Zeno ini kan gerak-gerak nih. Panik, gitu loh. Jadi, si ikan pun merasa terancam dan memperkirakan bahwa itu gerakan dari makanan 😁
Begitulah permisah, bisa di research lebih lanjut. Kalau salah boleh di tegur biar bisa di revisi 😁
author beri penjelasan supaya teman-teman tidak bingung 🌹
jangan lupa beri dukungan nya🌹
__ADS_1
tbc.