
Diana terbaring lemah di atas ranjang dengan tatapan kosong, matanya sembab karena tak henti-hentinya menangis.
"Sudah siang, waktunya makan. Mau sampai kapan kau diam seperti itu?" Nathan menatap istrinya yang tak merespon dan masih menatap kosong langit-langit.
"Sayang, ayo makan." Nathan mengambil sepiring nasi serta lauknya lalu menyendoki makanan itu.
"Buka mulutmu," pinta Nathan mendekatkan sendok yang sudah berisikan nasi dan juga sayur.
"Sayang, ayo buka mulutmu," ucap Nathan berusaha membujuk istrinya untuk makan. Nathan tak mau Diana jatuh sakit lebih parah karena tak makan.
"Kau tak mau makan?" tanya Nathan menatap Diana dengan tatapan sulit diartikan.
"Baiklah, terus saja merenung sampai mati. Aku tak peduli lagi!" ketus Nathan meletakkan piring itu di atas nakas dengan kasar lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Jangan pergi," lirih Diana menatap suaminya yang hendak keluar kamar.
"Untuk apa aku di sini jika kau terus saja seperti itu? Lebih baik aku keluar saja, mana tau kau akan ceria nantinya," sahut Nathan dingin.
"Jangan, jangan pergi." Diana berusaha bangkit dari baringnya lalu berjalan sempoyongan ke arah Nathan.
Melihat itu, Nathan hanya diam saja. Tak ada niat untuk membantu istrinya berjalan atau mendekat.
Sesampainya di dekat Nathan, Diana langsung memeluk suaminya itu dengan erat.
"Aku akan makan, tapi kau harus ada di sini. Aku tak mau kau jauh, cukup aku kehilangan putriku yang tak ku ingat sama sekali," lirih Diana.
Nathan pun membalas pelukan Diana lalu mengelus rambut istrinya itu.
"Yasudah, ayo makan." Diana pun mengangguk dan pasrah saat Nathan menggendongnya kembali ke ranjang.
Setelah itu, Nathan pun menyuapi Diana perlahan-lahan.
"Aku tidak mau sayur," ucap Diana menolak memakan sayur.
"Kau harus banyak makan sayur agar cepat sehat," ucap Nathan tetap menyuapi Diana dengan sayuran. Diana pun akhirnya tetap mengunyah sayur itu dan menelannya.
"Aku ingin datang ke makam Nara," pinta Diana dengan tatapan penuh harap.
"Aku tidak akan membawamu jika nanti ketika pulang kau malah sakit, aku tak mau kau sakit. Cukup aku saja yang sakit," ucap Nathan masih menyuapi istrinya itu.
"Aku janji, aku akan kuat. Aku janji tidak akan sakit, aku janji." Diana mengangkat tangannya lalu menampakkan jari kelingkingnya.
"Baiklah, nanti sore kita pergi ke sana."
"Terimakasih," ucap Diana sembari melahap habis makanan nya.
*******
Sore harinya.
__ADS_1
Nathan dan Diana kini sudah berada di mobil, kali ini mereka pergi berdua tanpa supir. Mobil melaju menembus jalanan yang masih ramai.
"Nanti, kalau keadaannya sudah membaik, boleh tidak kalau kita jalan-jalan?" tanya Diana menatap suaminya yang tengah mengemudi.
"Boleh," jawab Nathan menoleh sekilas ke arah Diana lalu tersenyum.
"Terimakasih," ucap Diana kembali fokus pada lingkungan luar yang ia lewati.
Beberapa menit kemudian.
Mobil pun memasuki area pemakaman, Nathan turun dari mobil diikuti Diana.
Mereka datang dengan membawa setangkai bunga yang dipegang Diana.
Nathan membimbing istrinya menuju makam keluarganya yang sangat istimewa.
"Di sini, ada ibu ku, ayah ku, dan juga anak kita," ucap Nathan menatap tiga makam orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Diana pun mendekati makam Nara lalu meletakkan bunga itu di dekat batu nisan nya.
"Maafkan ibu karena melupakan mu. Namun, asal kau tau, cinta ibu tak akan pudar meski ibu tak mengingatmu, nak." Diana berusaha menahan tangisnya, suaranya terdengar bergetar karena menahan tangis.
"Ibu akan sering berkunjung kemari, Nara ibu harus bahagia di sana yah. Ibu sayang Nara banyak-banyak," lanjut Diana menyeka air matanya. Ia sudah berjanji untuk kuat, ia tak ingin melanggar janjinya.
"Ibu bahagia karena sudah di berikan kepercayaan mengandung mu dan juga melahirkan mu. Ibu bahagia, nak. Ibu akan selalu mendoakan mu di setiap nafas ibu," lirih Diana dengan air mata yang membasahi pipinya.
Diana memeluk Nathan sebagai pelampiasan kesedihannya.
"Maaf karena aku menangis," ucap Diana lirih.
"Tak apa, itu wajar. Kalau begitu, kita pulang yah."
"Iya."
"Sampai jumpai lagi, sayang. Kami akan sering berkunjung nanti," ucap Nathan menatap makam putrinya.
Setelah itu, mereka berdua pun masuk kembali ke mobil lalu pulang ke rumah.
******
Beberapa Minggu Kemudian.
Kondisi Diana kembali memulih dan kini sudah lebih baik lagi. Setiap minggunya, Diana dan Nathan akan berkunjung ke makam, hubungan diantara keduanya semakin membaik, walau kadang-kadang Nathan masih menunjukkan sikap cueknya.
"Sayang, kita makan di luar yuk malam ini," ajak Diana memeluk lengan Nathan yang kini tengah duduk di ranjang sembari fokus pada laptopnya.
"Makan apa?" tanya Nathan masih fokus dengan laptopnya.
"Apa saja yang penting makannya bersamamu," jawab Diana manja.
__ADS_1
"Oke, nanti malam yah."
"Terimakasih, sayangku." Diana kembali bergelayut manja di lengan Nathan, bahkan sesekali memegang dada suaminya itu.
"Dulu, kalau kita melakukan itu, berapa lama yah?" tanya Diana membuat fokus suaminya itu terganggu.
"Maksudnya?" tanya Nathan menatap bingung istrinya yang senyum-senyum sendiri.
"Maksudnya, dulu kalau kita anu-anu, berapa lama yah?" tanya Diana semakin membuat Nathan bingung.
"Anu-anu apa?" tanya Nathan meletakkan laptopnya di atas nakas dan kini fokus pada istrinya.
"Anu-anu itu, yah hubungan suami istri lah," jawab Diana pelan.
"Oh, itu yah. Eum, berapa lama yah?" Nathan pura-pura bingung karena memang ia bingung mau menjawab apa. Mereka saja belum pernah anu-anu. Rencananya sih, nanti ketika semuanya sudah sangat membaik. Karena, mana mungkin ia melakukan malam pertama, sedangkan suasananya masih berduka.
"Kenapa diam? Apa selama itu yah sampai kau sendiri tak tau mau menjawab apa?" tanya Diana membuat Nathan tersenyum kecil lalu dengan cepat mengecup bibir istrinya.
"Iya, waktunya bermacam-macam. Kadang lama, kadang juga lama sekali," jawab Nathan mengedipkan sebelah matanya membuat pipi Diana memerah.
"Ah, kan jadi malu." Diana memilih membaringkan tubuhnya lalu menutup wajahnya dengan selimut.
"Kenapa harus malu, sayang? Kan kau sendiri yang bertanya tadi," ucap Nathan menarik selimut yang menutupi wajah Diana lalu menghujani pipi istrinya itu dengan ciuman.
"Aku mencintaimu," bisik Nathan.
"Eum, kalau aku sih masih rahasia," balas Diana membuat Nathan tertawa kecil.
_
_
_
_
_
_
_
...Maaf yah telat atau kurang seru. Sebab author sedang UAS dan juga dalam keadaan kurang sehat. bayangin aja, lagi UAS di situ pula kurang sehat. nyatu banget sensasi deritanya 😁...
kok malah curhat
Lanjut?
tbc.
__ADS_1