
"Dalam hitungan ketiga, maka kalian sudah bisa mulai," ucap Baron melipat kedua tangannya di dada.
"Satu, dua, tiga. Mulai!"
Diana memundurkan langkahnya ketika anak buah Baron mendekat dengan tampang sangar
"Jangan takut, Diana. Kau harus membunuhnya, kau hanya perlu membunuhnya," gumam Diana bersiap melawan.
Diana mengayunkan kayu yang ia pegang dengan gerakan yang sering suaminya ajarkan.
Meski tubuh Diana kecil setidaknya ia bisa mengimbangi anak buah Baron. Walau sebenarnya, anak buah Baron tampak sedikit mengalah untuk bersenang-senang saja.
"Ayo, semangat." Dengan tak tau dirinya, Baron menyoraki sembari bertepuk tangan.
"Tunjukkan yang lebih keren, nona." Anak buah Baron tersenyum mengejek sambil terus menghindar dari pukulan Diana.
"Kalian laki-laki tak punya harga diri, hanya bisa melawan perempuan.Kalian takut bukan dengan suamiku, makanya kalian menculik ku," ucap Diana membalas dengan ejekan yang merendahkan.
Anak buah Baron tampak marah lalu memukulkan kayu itu dengan keras ke kepala Diana membuat wanita itu pusing.
"Kami membawa mu untuk menyiksa suamimu yang hebat itu, kami yakin dia akan berlutut dan menangis melihat keadaan istri dan anaknya yang sebentar lagi akan mati," ucap anak buah Baron kembali memukul kepala Diana hingga kepala wanita itu mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Anak mu sudah mati, kami tak membunuhnya. Dia hanya rewel saja, jadi kami menenangkan nya dengan menepuk pelan tubuh mungilnya itu dan akhirnya dia tertidur juga. Kau tak perlu berusaha untuk keluar dari sini, karena kau akan mati di sini menyusul anak mu," lanjut anak buah Baron.
Diana yang sudah sangat lemah pun terduduk dan menggeser tubuhnya mendekati Nara.
"Hari ini kalian bisa tertawa dan merasa di atas awan. Tapi, esok atau sebentar lagi, kalian akan mendapatkan bayaran atas perlakuan kalian!" tekan Diana menatap tajam Baron dan juga anak buahnya. Darah yang mengalir sudah memenuhi wajah wanita itu.
"Uh, penasaran," ejek Baron tertawa lepas.
Diana mengangkat putrinya lalu memeluk Nara dengan erat. Tak ada yang ia harapkan sekarang, ia hanya ingin ikut kemanapun putrinya pergi nanti. Ia tak ingin hidup jika putrinya pergi, Diana akan ikut mati juga.
"Habisi dia!" titah Baron tersenyum puas.
Anak buah Baron pun melayangkan satu pukulan lagi di kepala Diana membuat wanita itu terbaring sembari memeluk Nara.
Baron tertawa lepas, ia merasa menang sekarang. Ia sudah tak sabar melihat reaksi keponakannya nanti.
"Pastikan dia mati!" titah Baron.
"Baik, tuan."
Anak buah Baron pun mengangkat kayu yang yang ia pegang berniat memukul tubuh Diana lagi.
Dorr!
Satu tembakan mengenai anak buah Baron membuat laki-laki terkapar di lantai.
Baron pun langsung melihat siapa yang berani mengacaukan acara mereka, tatapannya menunjukkan kebencian melihat siapa yang berjalan di hadapannya sekarang.
Nathan akhirnya datang dengan memegang tongkat besi. Dengan cepat laki-laki itu melayangkan tongkat besi ke kepala Baron membuat laki-laki tua itu terjatuh ke lantai dengan kepala yang sudah mengeluarkan darah.
Rayyan dan yang lainnya pun menghajar anak buah Baron dengan ganas. Tampak kemarahan yang begitu besar dari mereka ketika melihat keadaan Diana dan juga Nara.
"Hari ini aku akan membunuhmu!" teriak Nathan penuh amarah.
__ADS_1
"Tuan, kita harus menyelamatkan nona muda. Beliau masih bernafas," ucap salah satu anak buahnya.
Nathan pun langsung melihat ke arah Diana, amarahnya semakin memuncak.
"Bawa dia ke markas! Aku akan mengulitinya di sana!" titah Nathan memukul tubuh Baron sekali lagi.
Setelah itu, Nathan pun bergegas membawa Diana dan Nara keluar dari mansion Baron dan pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan, Nathan membersihkan wajah Diana dari merahnya darah. Tangannya juga memegang tangan mungil putrinya. Air mata laki-laki itu meleleh begitu saja, tak memperdulikan supirnya, ia terisak pilu di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
******
Sesampainya di rumah sakit.
Diana dan Nara kini tengah di periksa sedangkan Nathan, duduk di depan ruangan sembari menatap kosong ke depan.
Tangannya terus bergerak menghitung jumlah jaringan, bibirnya terus bergerak bergumam tak jelas. Laki-laki itu benar-benar terlihat sangat kacau.
"Tuan muda," panggil pak Hans yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Saya membawa pakaian ganti untuk anda, pakailah. Pakaian anda sudah terkena darah," ucap pak Hans menyodorkan pakaian yang ia bawa. Nathan tak merespon, ia hanya bergumam tanpa memperdulikan kehadiran pak Hans.
Pintu ruang pemeriksaan pun di buka, Nathan langsung berdiri dan menghadap dokter yang menangani istri dan anaknya.
"Luka di kepala istri anda sangatlah parah, kami sudah menjahit lukanya dan istri anda sudah melewati masa kritisnya, namun, kini istri anda masih koma," ucap dokter itu dengan raut wajah bingung.
"Pak Hans, pindahkan Diana ke ruangan lain!" titah Nathan. Pak Hans pun mengangguk dan mengkode beberapa anak buah Nathan untuk segera melaksanakan tugas dari tuannya.
Nathan menatap sendu ketika istrinya di bawa ke ruang rawat lain. Sebelum istrinya di bawa pergi, Nathan menyempatkan untuk mencium kening istrinya.
"Lalu, bagaimana dengan anakku?" tanya Nathan beralih pada dokter tadi.
"Maafkan kami, tuan. Kami tak bisa menyelamatkan putri anda." Dokter itu tertunduk tak berani menatap wajah laki-laki yang ada dihadapannya sekarang.
"Putri anda sudah lama meninggal, tuan."
Deg!
Tubuh Nathan seketika lemas dan hampir terjatuh, untunglah pak Hans sigap menangkap tuannya itu.
"Nara ku," lirih Nathan masuk ke ruangan berjalan ke arah ranjang rumah sakit.
"Nara." Nathan mengangkat tubuh mungil putrinya lalu duduk di lantai. Tangisnya pecah ketika melihat wajah pucat dan penuh luka memar di tubuh putrinya.
"Arghhhh!" teriak Nathan frustasi. Semua yang ada di ruang itu pun memilih untuk keluar karena takut kena imbas.
"Nara! Jangan tinggalkan Daddy, kita kan mau liburan Minggu depan," tangis Nathan menepuk-nepuk pipi putrinya.
"Bangun, sayang. Jangan tinggalkan Daddy, Nara sayang sama Daddy kan? Bangun, nak." Nathan masih berusaha agar buah hatinya itu bangun, namun, takdir mengatakan lain.
"Jangan, jangan, nak. Nara sayang, jangan tinggalkan Daddy," tangis pilu Nathan.
Laki-laki itu benar-benar lemah sekarang, sang istri kini tengah koma ditambah buah hatinya yang pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
"Daddy punya baju baru, nak. Daddy juga beli boneka untuk Nara, jangan tidur yah. Bangun, sayang."
__ADS_1
"Kita pulang yah, kita pulang. Kita bawa ibu mu pulang juga," ucap Nathan berdiri dan berjalan ke arah pintu. Nathan pun membuka pintu dengan masih menggendong jasad anaknya.
"Tuan muda, anda ingin kemana?" tanya pak Hans menyeka air matanya.
Sudah ada Rayyan di sana dan juga Xeon yang baru saja tiba.
"Aku akan pulang, Nara ku tidak boleh pergi. Dimana Diana? Kami akan pulang sekarang," jawab Nathan berjalan ke sembarang arah sembari memeluk erat putrinya.
"Tuan, sadarlah." Pak Hans mengejar Nathan yang tampak seperti orang gila.
"Di mana ruangan Diana? Kami harus pulang sekarang," gumam Nathan tampak kebingungan.
"Tuan muda, tuan muda!" teriak pak Hans memegang kedua bahu tuannya itu.
"Sadarlah, tuan! Nona Nara sudah tiada dan nona Diana kini koma. Anda tidak bisa seperti ini, anda harus kuat!" tegas pak Hans.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu pada ku! Dan apa kau bilang tadi? Nara ku sudah tiada? Nara ku baik-baik saja! Nara ku hanya tertidur," balas Nathan tak kalah marahnya.
"Sadarlah, tuan. Lihat ini," ucap pak Hans sembari menunjuk Nara yang ada di pelukan Nathan.
"Bangunkan nona Nara jika memang dia hanya tidur! Bangunkan cepat!"
Nathan tampak terdiam sembari menatap wajah putrinya yang sudah pucat. Tubuhnya lemas seketika, laki-laki itu terduduk sembari masih menatap wajah putrinya.
"Anda sudah sadar sekarang? Anda sudah lihat bukan, bahwa nona Nara sudah meninggal," lanjut pak Hans dengan pipi yang sudah basah dengan air matanya.
Rayyan dan Xeon pun ikut merasakan kehilangan itu, sebuah kebahagiaan untuk tuan mereka yang selalu mereka nanti-nantikan kehadirannya.
"Nara," bisik Nathan mengelus pipi gembul putrinya.
"Nara," tangis Nathan memecah keheningan. Tangis yang begitu pilu sehingga, siapapun yang mendengar itu akan ikut merasakan kehilangan.
_
_
_
_
_
_
_
...Babay dedek Nara 😩 terimakasih karena sudah membuat Daddy mu merasakan kehangatan sebuah keluarga 🥀...
Thor, mengapa harus begini?
Yah memang begitu, kalau gak begitu, gak jalan alurnya 🤧
terimakasih karena masih setia dengan cerita author. Eps nya masih panjang 🙃 jadi, tetap dinantikan walau tanpa kehadiran dedek Nara.
tbc.
__ADS_1