Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 22. Kado ulang tahun.


__ADS_3

Pagi hari.


Sebelum Nathan bangun, Diana sudah bangun terlebih dahulu. Wanita itu memilih untuk keluar dari kamar, ia tak ingin berlama-lama satu kamar dengan laki-laki tak berperasaan.


"Anda ingin makan sesuatu, nona?" tanya pak Hans.


"Tidak," jawab Diana pelan lalu berjalan menuju halaman belakang. Ia ingin duduk di sana saja hingga ajal menjemput kalau bisa.


"Hai Diana, pagi." Ternyata ada Rayyan di halaman belakang, laki-laki itu tampak duduk bersama beberapa anak buahnya.


"Pagi," balas Diana tersenyum. Rayyan pun memberikan kode agar anak buahnya pergi dan membiarkan Rayyan dan Diana berdua saja.


Sepeninggalan anak buah Rayyan, kini Diana dan Rayyan duduk berdua di halaman belakang.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Rayyan sembari menyeruput secangkir kopi.


"Belum," jawab Diana.


"Kenapa? Bukankah ibu hamil itu harus sarapan, nanti kau sakit," ucap Rayyan membuat Diana kembali tersenyum.


"Aku tidak berselera," ucap Diana.


"Hah, jadi kau ingin makan apa? Katakan saja, aku akan membelikan nya," tanya Rayyan.


"Hm, aku ingin makan kue ulang tahun," jawab Diana dengan mata yang berbinar.


"Hahahaha, kue ulang tahun yah? Kau lucu sekali, memangnya hari ini ulang tahun mu?" tawa Rayyan seperti mendapatkan hiburan di pagi hari.


"Iya," jawab Diana sembari menganggukkan kepalanya.


Brakk!


"Jadi hari ini kau berulang tahun? Mengapa tak mengatakannya sedari awal?" Rayyan menggebrak meja membuat Diana terkejut.


"Kau kan tidak bertanya," sahut Diana dengan tampang bingung.


"Iya juga yah. Uh, kalau begitu, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."


"Apa itu?" tanya Diana penuh harap.


"Rahasia," jawab Rayyan dan kemudian tertawa.


Hal itu membuat Diana ikut tertawa juga walau ia sendiri tak tau apanya yang lucu.


*****


Setelah puas berbincang dengan Rayyan, Diana pun kembali ke kamar, lebih tepatnya kamar Nathan. Semua barang-barang nya bahkan sudah diangkut ke kamar laki-laki itu. Ia akan tinggal dan tidur di sana secara permanen.


Saat Diana masuk ke dalam kamar, ia sudah tak mendapati Nathan di ranjang. Ranjang pun sudah terlihat rapi dan kamar sudah wangi. Sepertinya sudah di bersihkan.


Diana memilih duduk di sofa sembari menatap keluar jendela kamar, terdengar dari kamar mandi suara gemericik air, sepertinya Nathan tengah mandi.

__ADS_1


Diana mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar, ketika tangan itu menyentuh perutnya, maka ada kebahagiaan yang mengalir ke jiwanya.


"Cepatlah lahir, nak. Ibu akan selalu menunggu kehadiranmu," gumam Diana sembari tersenyum.


Saat Diana tengah berkhayal akan kehidupannya dengan putrinya nanti, Nathan pun keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu tampak memakai handuk sebatas pinggang saja, untungnya Diana membelakangi Nathan, kalau tidak wanita itu sudah berteriak ketakutan.


Setelah selesai mengganti pakaian dengan pakaian serba hitam, Nathan pun keluar dari ruang ganti lalu menatap ke arah Diana yang tampak bergumam dan tersenyum sendiri.


"Kau mau ikut?" tawar Nathan membuat Diana terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kemana?" tanya Diana.


"Ke suatu tempat," jawab Nathan.


"Aku...


"Aku tidak menerima penolakan!" tekan Nathan berjalan keluar dari kamar, Diana pun hanya bisa pasrah. Dengan masih memakai stelan baju tidur, ia pun mengekori Nathan.


"Anda ingin sarapan, tuan?" tanya pak Hans yang sudah berdiri di bawah tangga.


"Tidak."


Nathan pun berjalan keluar dari mansion begitu juga dengan Diana yang masih berjalan di belakangnya. Hingga Nathan masuk ke dalam mobil pun, Diana juga ikut masuk ke dalam mobil. Entah kemana suaminya ini membawanya.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan Nathan lah pengemudinya. Diana yang duduk di sebelah Nathan merasa takut dan memilih berpegangan erat.


Ia tak ingin menegur Nathan karena mengemudi terlalu cepat, karena itu semua percuma saja.


Diana tampak ketakutan, karena ia sendiri tak tau dimana dirinya berada. Apa ia akan di bunuh di sini, atau di siksa lalu di biarkan mati secara perlahan.


Nathan tampak keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke arah Diana dan membukakan pintu mobil.


"Keluar cepat!" titah Nathan. Diana pun tampak ragu untuk keluar, hingga Nathan menarik tangannya.


Nathan menarik tangan Diana masuk ke dalam bangunan itu, kehadiran Nathan dan Diana pun di sambut oleh penjaga bangunan yang tak lain anak buah Nathan.


Diana hanya diam dan tak berani untuk bertanya, ia hanya ikut saja kemanapun Nathan membawanya.


Diana menatap sekitarnya yang ia lewati ketika berjalan mengikuti Nathan, ada banyak sekali laki-laki dan wanita dalam satu tempat yang tengah latihan berkelahi. Bahkan laki-laki itu juga melawan wanita, Diana tak bisa membayangkan jika wanita itu di pukul oleh lawannya.


Apa orang-orang di sini memang dengan suka rela ingin menjadi anak buah Nathan? Kalau iya, apa yang mereka pikirkan hingga mau menjadi anak buah dari laki-laki kejam ini.


Hingga sampailah Diana pada sebuah ruangan yang ukurannya sangat luas serta bersih. Di sana sudah ada Xeon dan juga Rayyan.


"Kumpulkan semuanya!" titah Nathan duduk di kursi kebesarannya. Diana pun menatap Rayyan yang tampak serius, tak ada wajah yang lembut seperti tadi lagi, hanya ada wajah dingin dan juga kejam.


Xeon dan Rayyan memerintahkan para anak buah untuk berkumpul, tuan mereka akan membuat sebuah pengumuman.


Para anak buah pun berkumpul dalam ruangan itu lalu berdiri dan berbaris dengan rapi.


Jumlah anak buah yang ada di hadapan Diana sekarang sangatlah banyak, tapi Diana tak tau bahwa itu hanyalah sebagian kecil dari anak buah Nathan.

__ADS_1


"Sudah tuan," ucap Xeon.


Nathan pun berdiri lalu mengambil mikrofon agar anak buahnya mendengar dengan jelas apa yang akan disampaikannya.


"Hari ini aku membawa istriku datang kemari, kalian sudah lihat bagaimana wajahnya bukan? Jadi, aku akan memperkenalkan kembali istriku kepada kalian agar kalian tau apa yang harus kalian lakukan jika terjadi sesuatu," ucap Nathan.


"Siap tuan."


Nathan menarik Diana agar lebih dekat membuat wanita itu semakin ketakutan.


"Sekarang dia juga adalah tuan kalian dimana kalian harus menjaga nya dari mara bahaya, jika satu goresan saja ada di tubuh istriku, maka kalian semua akan ku bunuh detik itu juga!" tegas Nathan. Hal itu membuat para anak buah Nathan berpikir jika tuannya begitu menyayangi istrinya, padahal Nathan memiliki maksud tersendiri dengan mengatakan itu.


"Siap tuan."


"Baiklah, aku ingin bertanya. Apa istriku cantik?" tanya Nathan tersenyum menyeringai melihat para anak buahnya yang kebingungan harus menjawab apa.


"Jawab!" bentak Nathan.


"Cantik, tuan."


Nathan pun menatap ekspresi anak buahnya lalu mengkode Rayyan untuk melakukan tugasnya.


Dorr!


Satu tembakan melesat mengenai seorang wanita yang tadinya tampak tersenyum. Hal itu membuat Diana langsung memundurkan langkahnya.


"Tuan memerintahkan kalian untuk menjawab, bukan tersenyum!" tegas Rayyan.


Semua tampak tegang termaksuk Diana. Nathan tampak berjalan ke arah belakang wanita itu lalu berbisik dari arah belakang.


"Apa kau menyukai kado ulang tahun mu?" bisik Nathan membuat tubuh Diana terasa lemas. Perlahan, penglihatannya kabur dan akhirnya Diana pun jatuh pingsan.


Wanita itu sudah terlalu syok hingga daya tahan tubuhnya pun sangat lemah. Nathan pun tak menampilkan wajah khawatir atau bersalah, ia memerintahkan dua wanita untuk mengangkat tubuh Diana ke mobil.


Melihat itu, Rayyan dan Xeon hanya bisa saling menatap saja. Kasihan sekali Diana yang akan dijadikan umpan oleh suaminya sendiri, pikir mereka.


_


_


_


_


_


_


_


Hm, gimana-gimana? Lanjut?

__ADS_1


tbc.


__ADS_2