
Pagi harinya.
Markas utama anak buah Nathan.
Xeon tampak tengah memantau beberapa anak buah yang tengah latihan, semalam ia dan tuannya memilih untuk tidur di markas karena memang sedang melakukan sebuah misi.
"Pagi," sapa Rayyan yang baru saja sampai ke markas.
"Pagi, bagaimana?" sapa Xeon balik sembari bertanya.
"Beres," jawab Rayyan mengangkat jempolnya. "Ini untukmu," lanjutnya sembari memberikan kotak bekal pada Xeon.
Xeon pun membuka kotak bekal itu, ternyata ada sepotong kue.
"Hanya sepotong?" tanya Xeon cemberut.
"Masih untung aku sisa kan, kalau tidak sudah aku lahap semuanya," jawab Rayyan.
"Yang itu untuk siapa?" tanya Xeon sembari menunjuk satu kotak bekal lagi.
"Untuk tuan," jawab Rayyan memberikan kotak itu pada Xeon.
"Aku yakin tuan tidak akan mau memakannya," tebak Xeon tertawa diikuti Rayyan.
"Setidaknya tawarkan saja, mana tau tuan mau," ucap Rayyan.
"Bagaimana ekspresi nya semalam?" tanya Xeon duduk di kursi di ikuti Rayyan.
"Dia sangat bahagia, sampai menangis. Aku terharu," jawab Rayyan tersenyum tulus.
"Lalu bagaimana reaksinya menerima kado dariku?" tanya Xeon antusias.
Rayyan tampak menepuk jidatnya, ia menatap Xeon lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Jangan bilang kau tak memberikan hadiah ku," tebak Xeon menatap Rayyan tajam.
"Aku lupa," ucap Rayyan membuat Xeon langsung memukuli kepala laki-laki muda yang ada di hadapannya itu.
"Dasar bajingan! Sudah ku bilang jangan lupakan hadiah ku! Kalau sekarang kan sudah lewat waktunya, masa aku harus memberikan hadiah di waktu yang tidak tepat," ucap Xeon mulai mengomel.
"Aku lupa, benar-benar lupa. Hadiah mu tertinggal di dalam kamar ku, aku terlalu bersemangat jadi melupakan hadiah mu," ucap Rayyan tertawa kecil.
"Sialan kau!"
"Tidak apa-apa, kau bisa memberikannya setelah pulang dari sini, kan lebih baik kau sendiri yang memberikannya, dia pasti akan lebih senang," ucap Rayyan menenangkan temannya itu.
"Ah, dasar Rayyan brengsek!" ketus Xeon membuat Rayyan tertawa.
"Dimana tuan muda?" tanya Rayyan tak melihat keberadaan tuannya.
"Masih tidur, semalam sepertinya tuan keluar, entah kemana di pergi."
"Kau tidak mengikutinya?" tanya Rayyan.
"Iya juga yah, bisa di penggal pusaka mu nanti." Xeon pun kembali memukul temannya itu.
"Untungnya semalam tuan memberikan mu izin untuk pulang, kalau tidak kasihan sekali wanita malang itu," ucap Xeon menatap ke arah para anak buah yang tengah latihan.
"Iya, untungnya seperti itu. Aku sangat kasihan padanya yang selalu saja di tekan oleh tuan muda, padahal Diana sudah membantu tuan untuk merasakan kehadiran dari nyonya," sahut Rayyan dan Xeon pun mengangguk. Kedua laki-laki itu pun tampak terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
****
Di mansion.
Diana mengucek matanya lalu meregangkan otot-otot tubuhnya, ia baru saja bangun. Tidurnya sangat nyenyak karena tak ada gangguan dari suaminya.
Diana memilih untuk duduk dan melihat kondisi ranjang yang masih rapi. Sepertinya, suaminya tak pulang, baguslah kalau begitu. Kalau bisa, jangan pulang untuk selamanya.
__ADS_1
Diana pun membereskan tempat tidurnya lalu tak sengaja menemukan sebuah kotak kecil. Ia penasaran kotak apa itu dan darimana kotak itu berasal.
Ia pun membuka kotak itu dan matanya membulat melihat isi kotak itu.
Sebuah liontin cantik yang membuat Diana kagum.
"Apa ini untuk ku?" gumam Diana kebingungan.
Mungkin itu adalah hadiah ulang tahunnya, tapi dari siapa? Apa dari suaminya, ah tidak mungkin.
Diana pun memilih menyimpan kembali kotak itu di lemari, ia akan menanyakan prihal liontin itu pada pak Hans nanti, jangan-jangan itu kalung milik orang lain.
_
_
_
_
_
_
_
...Oh, rupanya kalung. Kirain tadi bom atomπ author juga mau lah dapat kalung misterius π mana tau bisa dijadikan modal investasi π€π...
...nghalu aja lu Thorππ...
Author dah double up, jangan lupa like komen nya banyak-banyak.
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc.