Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 44. Labirin #1


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Labirin yang di perintahkan Nathan akhirnya selesai juga, dengan rasa bangganya Rayyan mengatakan bahwa labirin nya selesai tepat waktu.


Pagi ini Nathan terlihat sudah rapi dengan stelan baju lengan pendek dan celana pendeknya, ia sudah menggendong bayi Nara dengan sebelah tangannya yang kekar.


Tampak, Diana berjalan mengikuti Nathan dari belakang dengan menggunakan baju tidur. Memang pasangan yang serasi, yang satunya sangat suka memakai celana pendek dan kaos lengan pendek, sedangkan yang satunya lagi sangat suka dengan pakaian tidurnya.


"Loh, pak Hans ikut juga?" tanya Diana pada pak Hans yang tampak rapi juga.


"Benar, nona."


"Kita mau kemana yah, pak? Pagi-pagi sekali sudah berpergian," tanya Diana penasaran.


"Saya kurang tau, nona. Mungkin anda bisa menanyakannya pada tuan muda," jawab pak Hans sembari tersenyum kecil. Tentunya, laki-laki itu tau kemana tuannya membawa mereka nantinya, hanya saja ia tak ingin menambah rasa takut di hati Diana yang membuat wanita itu depresi nanti.


"Hah, bertanya padanya, sama saja seperti bertanya pada hantu," gerutu Diana membuat pak Hans tertawa kecil.


"Hantu tampan maksudnya, nona?" ledek pak Hans.


"Iya, hantu tampan." Diana ikut tertawa mendengar penuturan pak Hans, ia pun memilih untuk segera masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, mobil pun melaju menuju markas utama tempat pembangunan labirin itu. Nathan tampak menatap Nara yang tumbuh dengan sehat, Nathan sangat suka dengan bola mata Nara yang besar dan berwarna hitam.


"Anak Daddy sudah besar," gumam Nathan mencium pipi Nara, laki-laki itu tampak gemas.


Melihat itu, Diana hanya tersenyum saja. Meski suaminya tak mencintainya, tapi ia bersyukur karena suaminya mau mencintai Nara yang bukan darah dagingnya.

__ADS_1


"Nanti besar mau jadi apa?" tanya Nathan memperbaikinya baju Nara sembari sesekali menggelitik perut Nara.


"Mau jadi dokter atau jadi guru?"


"Mau jadi dokter, Daddy." Diana menjawab sembari memperagakan suara anak kecil.


Mendengar itu, Nathan langsung menatap Diana dengan tatapan tak suka.


"Putriku tidak boleh menjadi dokter!" ketus Nathan kesal.


"Kalau tidak boleh mengapa di tawarkan, Daddy? Dasar plin-plan," sindir Diana semakin membuat Nathan kesal.


"Bicaralah sesuka hatimu! Setelah ini, aku yakin kau akan diam!" tekan Nathan membuat Diana langsung takut, apalagi yang akan terjadi hari ini. Semoga tak ada kejadian yang mengerikan hari ini, Diana sudah tak kuat untuk menanggung siksaan lagi.


Beberapa menit kemudian.


Diana tampak kagum melihat dinding tinggi yang ada di hadapannya sekarang.


"Berjalanlah sendirian dan temukan ujung dari labirin ini! Ingat satu hal, bahwa aku akan selalu berada di ujung labirin jika kau bisa melewatinya," jelas Nathan yang kemudian kembali masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Diana yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Semua mobil masuk ke dalam labirin menuju markas yang ada di tengah. Hanya, mobil Nathan yang melaju menuju ujung labirin untuk menunggu kehadiran Diana yang akan memakan banyak waktu nantinya.


Di pintu labirin, Diana tampak kebingungan harus mulai dari mana. Kalau ia memutar langkah nya, ia tak akan tau jalan pulang dan juga bisa saja ada bahaya di sana. Apalagi tempatnya sunyi, ia takut kejadian masa lalu terulang kembali.


Diana menanamkan sebuah pemikiran dimana jika ia berbalik, maka akan ada orang tak di kenal yang akan menggangu nya, tapi jika ia masuk ke labirin itu, walau sulit untuk melewatinya, tetap tak akan ada yang berani melukainya.


Diana memegangi dadanya, matanya sudah berkaca-kaca. Ia berjalan masuk ke dalam labirin yang begitu tinggi itu, di tambah lorong yang begitu banyak membuat Diana semakin sedih.

__ADS_1


"Nara, tolong ibu." Diana berjalan ke sembarang arah, ia tak boleh menyerah. Kakinya berjalan menapaki jalan berlantaikan semen, ia mencari-cari jejak mobil yang melintas barusan, tapi ia tak menemukan apa-apa.


"Buntu," lirih Diana kembali ke tempat semula. Lorong satu buntu, berarti ia harus mencoba lorong dua. Semoga ia tak tewas karena kelelahan.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Wah, udah main labirin nih😁 berarti konfliknya udah dekat😁 ingat author punya konflik biasa dan konflik utama ya 🤭...


...Yang jelas aman dari pelakor nya😁...


Jangan lupa beri dukungan, di sini jaringan susah di akses jadi harus penuh dengan perasaan baru bisa buka apk Noveltoon.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2