
Setelah kejadian cabai di gigi, Diana sudah tak punya keberanian lagi untuk keluar kamar. Ia tak mau terus di ejek oleh Nathan.
Diana lebih memilih untuk berdiam di kamar saja sembari menonton televisi.
"Sudah lama sekali Nana tak mengunjungi ayah, Nana rindu ayah," lirih Diana sembari masih menatap layar televisi.
"Hari ini aku coba saja minta izin, semoga diizinkan," gumam Diana.
"Sekarang saja lah," lanjut Diana berdiri dan pergi keluar dari kamar mencari keberadaan suaminya.
Diana kembali ke halaman belakang, ternyata suaminya sudah tidak ada di sana. Diana pun berinisiatif mencari ke kamar, siapa tahu Nara tertidur jadi Nathan membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar Nathan, benar saja laki-laki itu tengah berbaring sembari menepuk-nepuk paha Nara. Diana tersenyum senang melihat pemandangan itu, meski Nara bukan anak kandung suaminya, tapi Nathan sangat menyayangi Nara.
"Mau sampai kapan kau berdiri dan tersenyum seperti orang gila di situ?"
Diana langsung tersadar dari lamunannya, ia pun berjalan mendekati Nathan lalu duduk di tepi ranjang.
"Aku ingin meminta izin," ucap Diana menatap Nathan yang masih fokus dengan Nara.
"Tidak ada izin!"
"Ck, aku bahkan belum mengatakan meminta izin untuk apa, kau langsung menolaknya," kesal Diana.
"Aku ingin mengunjungi makam ayah ku, aku merindukannya. Apa boleh aku pergi melihat makam ayahku?" tanya Diana pelan.
Tak ada jawaban dari Nathan, laki-laki itu tampak diam membuat Diana menghela nafas berat.
"Aku mohon, kali ini izinkan aku untuk melihat makam ayahku. Aku sangat merindukannya, bukankah kau juga akan menemui orang tua mu jika kau rindu dengan mereka. Aku mohon, berikan izin mu," ucap Diana lirih.
"Pergilah, tapi jangan bawa Nara ku, dia sedang tidur," sahut Nathan membuat Diana tersenyum senang.
"Baiklah, terimakasih. Aku akan mengajak Nara lain waktu untuk mengunjungi makam kakeknya, sekali lagi terimakasih," ucap Diana berdiri.
Diana berjalan ke arah putrinya yang tertidur lalu mencium pipi Nara.
"Ibu pergi sebentar yah, jangan rewel." Diana kembali mencium pipi Nara lalu pergi dari kamar Nathan.
Nathan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu menghubungi pak Hans.
"Biarkan dia mengunjungi makam ayahnya, tugaskan dua penjaga saja!" titah Nathan.
"Bukankah itu sangat berbahaya jika hanya menempatkan dua penjaga, tuan?" tanya pak Hans.
"Apa aku memintamu untuk bertanya?" geram Nathan.
Nathan langsung memutuskan panggilan dan membuang ponselnya. Ia menatap wajah Nara yang sangat lucu dengan air liur yang keluar dari mulut bayi mungil itu.
"Apa yang tak dimakan ibu mu sampai air liur mu keluar?" tanya Nathan membersihkan mulut Nara dengan tangannya.
"Kau senang kan saat berada di dekatku, aku berharap kau bisa melupakan ibumu itu agar kau tak akan menangis jika kehilangan dia nantinya," lanjut Nathan memilih menutup matanya.
*******
Diana kini sudah berada di mobil, ada dua pengawal yang menemaninya untuk pergi ke makam ayahnya, Diana tak mempermasalahkan jumlah pengawal yang mengawasinya, yang penting sekarang adalah bertemu dengan ayahnya.
Sesampainya di lokasi makam ayahnya, Diana memilih turun dari mobil karena memang mobil tak bisa masuk ke dalam kompleks perumahan sederhana itu.
Diana berjalan diikuti anak buah Nathan.
"Kalian tak perlu ikut, biarkan aku sendiri saja," pinta Diana membuat dua pengawal itu kebingungan.
"Kami akan tetap mengikuti anda kemanapun itu, nona. Kami tak ingin terjadi sesuatu pada anda," tolak mereka.
__ADS_1
Diana pun tak bisa membantah lagi, karena ia tau jika dirinya terluka maka dua pengawal ini akan mati di tangan suaminya. Walau suaminya tak mencintainya, tapi Diana yakin suaminya masih membutuhkan nya untuk merawat Nara.
Diana berjalan menuju semak-semak tempat ayahnya di makamkan, jika ia meminta agar makam ayahnya di pindahkan, apakah Nathan akan mengabulkan nya?
"Ayah, apa kabar?" lirih Diana menyentuh batu nisan ayahnya.
"Lama tak berjumpa membuat Nana sangat merindukan ayah, apa ayah juga merindukan Nana?"
Rambut Diana berterbangan saat angin bertiup sepoi-sepoi.
"Mengapa ayah tak hadir di sini? Padahal Nana sangat berharap ayah hadir dan menemui Nana," lirih Diana menatap kesana-kemari tapi ia tak menemukan ayahnya.
"Ayah dimana?" lirih Diana berdiri mencari ayahnya yang tak terlihat di manapun, tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak.
Door!
Door!
Dua suara tembakan mengejutkan Diana, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya melihat dua pengawalnya yang sudah terkapar di semak-semak.
Suara tembakan membuat para warga berkumpul, Diana langsung mendekati dua pengawalnya.
"Bangun, jangan mati!" teriak Diana.
"Ikut kami!" bentak beberapa wanita yang bertubuh tegap dan juga wajah yang sangar.
"Tidak! Tolong! Mereka ingin menculik ku, tolong aku!" teriak Diana ketika ia di gendong secara paksa oleh orang-orang itu.
"Diana!" teriak Juna ingin menolong tapi tangannya langsung di tarik oleh ibunya.
"Jangan ikut campur urusan orang lain!" tegas ibu Juna. Juna tak bisa membantah, ia hanya bisa melihat ketika Diana di gendong paksa memasuki mobil berwarna hitam.
"Mereka berdua sudah meninggal, bagaimana ini?" tanya salah satu warga.
"Biarkan saja, kalau kita ikut campur bisa-bisa kita ikut di seret ke penjara," sahut ibu Juna.
Di dalam mobil, Diana sudah tak memberontak lagi karena sudah di suntikan obat penenang. Mobil pun melaju menuju tempat yang akan menentukan takdir Diana nantinya.
******
Di apartemen Rayyan, laki-laki itu tampak fokus dengan laptopnya. Ia memang sedang diberhentikan bekerja sementara oleh Nathan, tapi ia tetap memantau dari kejauhan. Mendengar Diana pergi dengan dua pengawal, Rayyan pun memilih untuk memantau kepergian Diana.
Sedikit terlambat untuk mengikuti mobil Diana karena Rayyan baru saja tau tentang Diana yang pergi berziarah. Tapi, tak apa, toh anak buah Rayyan sudah tau dimana lokasi makam ayah Diana.
"Mengapa Nathan membiarkan Diana keluar dengan dua pengawal saja? Apa maksud nya?" gumam Rayyan penasaran dengan pemikiran tuan nya itu.
Drrrrttt
Drrrrttt
Ponsel Rayyan bergetar, ia pun langsung menerima panggilan dari anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Rayyan.
"Dua pengawal nona Diana mati tertembak di semak-semak," jawab anak buah Rayyan.
Rayyan pun langsung berdiri karena terkejut.
"Lalu dimana Diana?" tanya Rayyan marah.
"Tidak ada tanda-tanda nona Diana di sini, tuan."
"Arghhhh! Sial!" teriak Rayyan marah membuat anak buahnya ketakutan.
__ADS_1
"Cari informasi dari warga setempat! Laporkan dalam waktu lima menit!" titah Rayyan lalu memutuskan panggilan. Matanya menatap tajam ke depan.
"Jadi, ini maksudmu membiarkan Diana pergi dengan dua pengawal, Nathan! Kau memang bajingan!" geram Rayyan.
Rayyan pun memilih untuk pergi ke mansion Nathan, ia akan meminta penjelasan secara langsung dari Nathan tentang kejadian ini.
"Semoga kau baik-baik saja, Diana."
*******
Di mansion Nathan, laki-laki itu tampak sedang memakai bando karakter untuk menenangkan bayinya yang menangis.
"Tara," sorak Nathan menghibur Nara dengan memainkan telinga bando. Nathan tadi memesan bando karakter pada pak Hans, dan baru datang bertepatan dengan Nara yang menangis.
"Nah, begitu dong. Jangan nangis yah," ucap Nathan menyentuh perut Nara.
"Eum, si gendut Daddy." Nathan mencium pipi Nara dengan gemas lalu menggelitik bayi itu.
Di saat Nathan tengah sibuk dengan bayi nya, pintu kamar terbuka dan menampakkan Xeon dan pak Hans yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
"Tak bisakah kalian mengetuk terlebih dahulu?" tanya Nathan menatap tajam dua orang itu.
"Maafkan kami, tuan. Tapi, ada yang lebih penting," ucap Xeon masuk ke kamar.
"Apa yang lebih penting daripada etika masuk ke kamarku, ha!"
"Maafkan kami, tuan. Tapi, nona Diana di culik dan dua pengawalnya mati tertembak," ucap Xeon. Tak ada perubahan ekspresi dari Nathan, hanya ada ekspresi datar saja.
"Jadi?" tanya Nathan membuat Xeon dan pak Hans saling menatap.
"Kita harus cepat bergerak, tuan. Saya yakin ini adalah perbuatan Baron, kita harus cepat-cepat bertindak sebelum nona Diana terluka," jawab Xeon.
"Coba kau lihat wajahku, Xeon."
Xeon langsung menatap wajah tuannya.
"Apa aku terlihat peduli?"
"Ta-tapi tuan....
"Jangan banyak tingkah! Kembali bekerja seperti sediakala sebelum aku marah!" bentak Nathan membuat Xeon dan pak Hans memundurkan langkahnya.
"Tu-tuan?"
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Uh, gimana tuh😱😱...
__ADS_1
...Si Nathan kagak peduli🤧🤧...
tbc.