
Satu bulan kemudian.
Sudah satu bulan setelah kepergian Nara dan juga koma-nya Diana di rumah sakit. Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada tawa dan juga senyuman.
Nathan kembali seperti semula, dingin dan kejam. Bahkan, kini lebih parah lagi. Hal itu membuat penghuni mansion maupun rekan kerja menjadi semakin takut. Jika mereka berbuat salah, maka nyawa akan melayang dengan mudah di tangan tuan Albert.
Hari ini, Nathan bangun lebih cepat. Ia sudah tampak rapi dengan pakaian santai. Ia akan berkunjung ke makam putrinya sekaligus makam kedua orangtuanya.
Di dalam mobil, Nathan menyalakan ponselnya menatap wallpaper ponsel. Di sana, ada fotonya bersama Diana dan Nara ketika mereka pergi ke taman dan naik ayunan. Nathan menghela nafas panjang lalu menutup matanya hingga tiba di area pemakaman.
Sesampainya di area pemakaman, Nathan berjalan dengan langkah pelan. Kali ini, pak Hans tidak ikut karena memang Nathan ingin sendirian hari ini.
"Bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya Nathan memandangi ketiga makam yang sangat berharga baginya.
"Hai putri Daddy, kau bahagia di sana? Daddy harap kau bahagia, sayang. Ibu mu belum juga bangun, nyenyak sekali tidurnya sampai tak mengingat Daddy mu ini yang kesepian." Nathan menghela nafas panjang lalu menyentuh dadanya.
"Kalian kejam sekali meninggalkan ku," lirihnya sendu.
"Aku merindukan kalian semua."
Setelah mengatakan itu, Nathan pun berjalan kembali menuju mobil. Ia tak bisa lama-lama di makam karena tak ingin terus berduka, ia hanya akan mampir saja untuk menyapa.
"Ke rumah sakit!" titah Nathan pada supirnya.
Pak supir pun mengangguk lalu melajukan mobil menuju rumah sakit. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus ramainya jalanan. Nathan menatap keluar kaca mobil, melihat orang-orang yang berjalan sendirian dan kadang bersama teman ataupun keluarga mereka. Nathan juga ingin merasakan itu, tapi ia sadar, itu tak akan pernah terjadi.
Kehidupannya sudah di selimuti kegelapan, sangat mustahil baginya untuk hidup seperti orang-orang biasa.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan pun turun dari mobil lalu berjalan masuk ke rumah sakit yang luas itu.
Drrt
Drrt
Ponsel Nathan bergetar, laki-laki itu langsung menjawab panggilan dari pak Hans.
"Nona muda sudah sadar, tuan. Saya mendapatkan info dari.......
Tut
Tut
Nathan langsung memutuskan panggilan dan berlari menuju ruangan istrinya.
Diana sudah sadar? Itu adalah hal yang sangat menggembirakan. Sepanjang jalan Nathan tersenyum, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya.
Sesampainya di ruang rawat Diana, tampak di sana beberapa dokter tengah memeriksa wanita itu. Diana tampak linglung dan masih pucat.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Nathan membuat para dokter terkejut.
"Kondisi istri anda masih lemah, tuan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, beliau tak akan mengingat apapun dan itu permanen," jawab dokter memberikan jalan untuk Nathan mendekati Diana.
Diana tampak kebingungan, namun dari raut wajahnya, ia terlihat ketakutan dan sakit.
"Sepertinya beliau juga masih syok," lanjut dokter itu.
"Kalian sudah selesai memeriksa?" tanya Nathan.
"Sudah, tuan."
"Keluar!"
"Baik, tuan."
Sepeninggalan para dokter, Nathan pun kembali fokus pada istrinya yang celingak-celinguk.
"Diana," panggil Nathan namun tak di sahut oleh wanita itu.
"Diana," panggil Nathan sekali lagi dengan menyentuh tangan istrinya itu.
Diana pun menoleh lalu menatap ke arah Nathan, matanya seketika melotot membuat Nathan kebingungan.
"Akhhh!" teriak Diana berontak membuat Nathan semakin kebingungan.
"Pergi! Pergi! Kau menakutkan!" teriak Diana dengan nafas tersengal-sengal.
"Diana, sayang tatap aku." Namun, Diana tak mau menatapnya.
"Diana!" bentak Nathan keras membuat istrinya itu diam.
"Jangan lihat mereka, lihat saja aku! Aku tau, aku di kelilingi banyak hantu, tapi jangan lihat mereka, lihat saja aku!" tegas Nathan memegang kedua bahu istrinya. Nathan yakin istrinya itu masih bisa melihat makhluk halus, mungkin karena kaget, makanya Diana berteriak.
"Lihat aku saja, sayang." Perlahan Diana membuka matanya lalu menatap wajah Nathan, mengamati wajah tampan laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Si-siapa kau? Mengapa banyak sekali makhluk mengerikan yang mengikutimu?" tanya Diana ketakutan.
Nathan tersenyum kecut, ternyata ia benar-benar dilupakan.
"Kau tak mengingat ku?" tanya Nathan, Diana pun menggeleng.
"Aku suamimu," ucap Nathan membuat Diana terkejut.
"Su-suami? Aku punya suami? Aku sudah menikah?" tanya Diana tak percaya.
"Iya, aku suamimu dan kita sudah menikah. Aku bisa membuktikan itu jika kita sudah pulang ke rumah," jawab Nathan menahan diri agar tak lemah, karena jujur dari lubuk hatinya, ia merasakan sakit karena dilupakan.
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Diana pelan membuat Nathan mengerutkan dahi nya karena bingung.
"Syukur? Kenapa?" tanya Nathan.
"Setidaknya kau tampan walau banyak hantu," jawab Diana lemah lalu menutup matanya.
Sontak saja jawaban Diana membuat pipi Nathan memerah, matanya sudah berembun. Ia memeluk sang istri dengan lembut melepaskan rindu yang menggebu-gebu setelah satu bulan berlalu.
"Aku merindukanmu, sayang. Kau lama sekali tidurnya, aku kesepian." Nathan menyeka air matanya, tak ingin sang istri melihat sisi lemahnya.
"Itu berarti kau mencintaiku, bukan?" tanya Diana pelan masih menutup matanya.
"Iya, aku mencintaimu."
"Tapi aku tak mencintai mu," ucap Diana membuat Nathan langsung menatap wajah pucat istrinya.
"Bukan tak mencintai, tapi hanya belum. Aku akan membuat mu jatuh cinta seperti sebelumnya," ucap Nathan yakin. Diana pun membuka matanya menatap lemah laki-laki yang mengaku suaminya itu.
"Caranya?" tanya Diana.
Cup.
"Rahasia," jawab Nathan mengecup pipi Diana membuat wanita itu kembali terkejut. Dirinya saja masih meragukan apa benar laki-laki di hadapannya ini suaminya atau bukan, kini sudah diberikan satu ciuman di pipi.
"Aku mencintaimu, sayangku."
_
_
_
_
_
_
_
_
...Akhirnya, sadar juga🤠Otw, eh otw apa nihðŸ¤ðŸ‘€...
Maaf telat yah🌹 author jamin ceritanya gak bertele-tele, kalau merasa ceritanya sudah bertele-tele atau mutar dan gak menarik lagi boleh di tinggalkan tanpa jejak🖤
tbc.
__ADS_1