
Malam masih berlanjut tepatnya pukul dua. Di markas, Rayyan tampak belum tidur dan memilih memantau pembuatan labirin, laki-laki itu tampak tak lelah atau lapar, ia hanya fokus pada perintah tuannya untuk menyiapkan labirin dalam kurung waktu satu bulan.
Salah satu anak buah Rayyan berjalan mendekati laki-laki itu lalu berbisik. Tiba-tiba saja Rayyan tersenyum menyeringai setelah mendengar perkataan anak buahnya.
"Mari kita berburu b*bi malam ini," ucap Rayyan kembali masuk ke dalam markas untuk mengambil senapan dan juga peralatan yang akan ia gunakan untuk berburu.
"Beraktivitas lah seperti biasanya!" titah Rayyan.
Para anak buahnya pun mengangguk mengerti dan membiarkan tuan mereka pergi masuk ke dalam hutan sendirian.
Di sisi lain, tepatnya di atas sebuah pohon seorang wanita tengah memantau pembuatan labirin di tengah malam. Senyuman sinis terukir di bibir seksinya, ia adalah Vera, asisten dari Baron. Ia merasakan kejanggalan dimana lawan tak bergerak ataupun memberikan serangan, ternyata ada yang sedang melakukan siasat untuk melawan tuannya.
"Mereka pikir dengan mengikuti bentuk pola labirin tuan Baron akan membuat mereka menang, dasar bodoh!"
Dorr!
"Arghhhh!" teriak Vera meringis kesakitan ketika sebuah peluru melesat mengenai pahanya. Alhasil, Vera pun kehilangan keseimbangan dan jatuh dari ketinggian.
Ibarat kata pepatah, sudah jatuh di timpa tangga. Begitu juga dengan yang Vera alami, sudah kena tembak kini malah jatuh dari ketinggian yang membuat tulang-tulang nya remuk.
"Lain kali jika kau ingin mengintip atau menjadi mata-mata belajar dulu atau les privat," ucap Rayyan keluar dari balik semak-semak.
"Sialan!" umpat Vera berusaha untuk berdiri namun kalah cepat dengan Rayyan yang sudah menginjak luka di paha Vera.
"Arghhhh!" teriak Vera kesakitan.
"Kau adalah asisten tua bangka itu, bukan? Apa yang ingin kau cari di sini? Apa kau sedang belajar main petak umpet atau main detektif?" tanya Rayyan tersenyum mengejek sembari terus menekan luka tembakan di paha Vera.
"Arghhhh! Sialan kau! Kalian tak akan bisa mengalahkan tuan Baron karena aku akan memberitahu nya bahwa kalian sedang mencoba meniru labirin nya!" teriak Vera membuat Rayyan tertawa lepas.
"Memberitahunya? Apa kau yakin akan tetap hidup setelah melewati malam bersama ku, sayang?" ledek Rayyan tertawa sinis.
"Kau pikir aku wanita bodoh, ha! Aku akan melawan mu jika kau membiarkanku berdiri, jangan jadi pengecut dengan melawan wanita yang tengah terluka!"
"Baiklah," ucap Rayyan menjauh dari Vera membiarkan wanita itu berdiri.
Vera berdiri dengan tegap mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia pun mengeluarkan belati yang ada di saku jaket nya lalu mengeluarkan pistolnya.
"Kau akan menyesal karena sudah melepaskanku, sayang." Vera pun mulai menyerang Rayyan dengan belati dan pistolnya, namun Rayyan dengan lihai menghindar.
"Kau akan menyesal karena sudah menantang ku," balas Rayyan dengan cepat menendang wajah Vera lalu memukul kepala Vera dengan senapannya.
"Kesabaran ku sudah habis!"
__ADS_1
Dengan brutal Rayyan memukuli wajah Vera dan juga perut wanita itu, tak peduli jika yang dilawannya adalah seorang wanita, yang terpenting baginya saat ini adalah hasratnya terpenuhi.
Uhuk, uhuk.
Vera tampak terbatuk-batuk, mulutnya mengeluarkan darah begitu juga dengan hidungnya.
"Aku akan mengirimkan Baron hadiah yang istimewa," bisik Rayyan tersenyum mengerikan.
"Ampun, ampun."
"Kau akan merasakan sakitnya jika di gigit. Aku memang tak punya taring, tapi aku bisa menggigit kulit mu hingga robek," bisik Rayyan lalu menggigit leher Vera dengan keras membuat wanita itu berteriak histeris. Tak ada rasa iba di hati Rayyan ketika mendengar teriakan kesakitan itu, yang ada hanyalah hasratnya untuk membunuh lawannya semakin besar.
"Cuih!" Rayyan meludahi wajah Vera, ludahnya pun sudah berwarna merah pertanda yang ia ludahkan tadi adalah darah. Ia sudah seperti vampir sekarang.
Prok
Prok
Prok
Suara tepuk tangan membuat Rayyan langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata ada Xeon dan dokter Doni di sana, Rayyan pun langsung berdiri dan menerima air mineral dari Xeon.
Rayyan langsung berkumur-kumur dan tertawa kecil melihat dua temannya itu.
"Kau sangat keren," puji dokter Doni memberikan dua jempolnya.
"Itu hanyalah bentuk kecil dari hiburan saja, aku sedang bosan. Jadi, daripada galau lebih baik aku berakting seperti vampir," sahut Rayyan menatap mayat Vera yang berlumuran darah.
"Boleh aku membawanya?" tanya dokter Doni memperhatikan mayat Vera dengan teliti.
"Bedah saja di markas, aku masih membutuhkan mayatnya untuk memberi kejutan pada Baron," jawab Rayyan.
"Minta izin terlebih dahulu pada tuan muda, Rayyan. Kau tak boleh asal mengirim dan memancing keributan," sela Xeon. Rayyan pun mengangguk mengerti, ia akan meminta izin pada Nathan besok.
"Ayo kita kembali ke markas."
******
Jika di markas para anak buah Nathan tengah berpesta karena Rayyan tengah dalam suasana hati yang baik setelah mendapatkan buruan, lain halnya dengan suasana di mansion.
Di mansion, Nathan tampak tertidur pulas di samping Diana. Awalnya Nathan hanya ingin melihat bayi Nara saja, tapi tanpa sadar ia juga ikut tertidur bersama dengan Diana dan Nara.
Terlihat wajah Nathan pucat dan juga berkeringat, tubuhnya menggeliat gelisah. Diana yang tadinya hampir tertidur setelah menyusui bayinya yang rewel pun terbangun dan melihat ke arah Nathan yang bergerak gelisah.
__ADS_1
Diana pun memilih meletakkan bayi Nara ke dalam boks bayi daripada terhimpit oleh Nathan nantinya.
"Ibu, ayah. Aku tidak ingin bersembunyi," ucap Nathan lirih. Tangannya meremas sprei dengan kuat. Diana pun tampak bingung, sepertinya laki-laki yang ada di dekatnya ini tengah bermimpi.
"Jangan! Jangan lukai ibu ku!"
"Ayah! Selamatkan ibu! Ayah bangun!" tangis Nathan membuat Diana semakin kebingungan. Diana pun memilih mengusap keringat Nathan dan mencoba membangunkan laki-laki itu sebelum terlalu jauh bermimpi.
"Jangan tinggalkan aku!" tangis Nathan pilu. Diana pun kebingungan, ia sudah berusaha membangunkan Nathan dengan menepuk-nepuk tangan laki-laki itu, tapi Nathan tak merespon sama sekali.
"Ayah, ibu. Jangan tinggalkan aku." Diana pun mengelus kepala Nathan dengan lembut dan menggenggam tangan Nathan yang sudah berkeringat.
"Mereka tak meninggalkan mu, mereka ada di dekatmu," bisik Diana masih mengelus kepala Nathan dengan lembut. Ini pertama kalinya ia melihat Nathan yang kejam dan dingin menangis dan tangisan itu, sangatlah menyayat hati Diana.
"Kau pasti sangat kesepian sehingga berubah menjadi seperti ini. Mulai hari ini, kau tak akan kesepian lagi. Ada aku dan Nara yang akan menghiburmu," lanjut Diana kembali menarik selimut dan berbaring sembari masih mengelus kepala Nathan.
Sungguh malam yang panjang dan penuh kejutan.
_
_
_
_
_
_
_
_
...Bang Rayyan lagi main vampir-vampiran, ada yang mau jadi gadis si pemikat hati bang vampir🤭😂...
...Ada yang penasaran dengan kisah Nathan di umur 10 tahun?...
...Gimana yah kisahnya? Yang jelas kalian pasti bakalan ngerasa ngeri dan sedih😁 atau mungkin hanya author yang bakalan sedih ketika nulisnya nanti😥...
Mohon dimaklumi.
Tetap di pantau 😁
__ADS_1
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.