
Kembali di masa sekarang, setelah bercerita panjang mengenai masa lalu, Nathan meletakkan Nara ke tempat tidur karena memang anaknya itu sudah tertidur. Sesekali, Nathan menyeka air matanya, ia masih berusaha untuk terlihat kuat meski sebenarnya, hatinya begitu rapuh sekarang.
Setelah meletakkan Nara ke tempat tidurnya, Nathan berniat untuk keluar dari kamar.
"Mau kemana?" tanya Diana menghalangi suaminya untuk keluar. Ia tau, pasti suaminya ini akan pergi dan menangis sendirian.
"Aku akan ke kamar ku, aku ingin sendiri." Nathan berjalan ke arah pintu, namun Diana langsung menahan suaminya itu.
"Tak bisakah kau berbagi tangis bersamaku? Kau sudah terlanjur bercerita yang membuat hatiku terluka," ucap Diana sangat-sangat mengerti perasaan suaminya.
"Aku, aku ingin sendiri," ucap Nathan pelan.
"Tidak boleh, aku tak akan mengizinkan mu menangis sendirian. Malam ini, detik ini, kau harus membagi semua luka mu padaku, agar aku bisa membuatmu lega walau sedikit. Aku mohon, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam lembah masa lalu," ucap Diana menarik tangan Nathan untuk kembali ke tempat tidur.
Diana duduk lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sedangkan Nathan duduk menghadap istrinya itu.
"Menangis lah, biarkan malam ini aku melihat sisi lemah mu. Setelah itu, mau kau kembali bersikap dingin dan kejam, itu adalah hak mu." Diana merentangkan kedua tangannya agar Nathan masuk ke dalam pelukannya.
Nathan tampak menatap Diana dengan tatapan
yang sulit diartikan, sesekali ia menghela nafas berat lalu akhirnya memeluk istrinya itu.
"Menangis lah," ucap Diana pelan sembari mengelus kepala Nathan dengan lembut.
Sedikit demi sedikit, Diana bisa mendengar suara isakan tangis suaminya, pelukan Nathan juga semakin kencang beriringan dengan tangisannya yang sudah mulai membesar.
Tangisan yang sangat pilu, penuh penyesalan dan juga ketidakberdayaan. Diana ikut merasakan rasa sakit itu, kehilangan seseorang yang begitu kita cintai, yang selalu menerima kekurangan kita dan selalu menyayangi kita memanglah sangat menyakitkan.
Malam itu, adalah malam di mana hanya ada tangisan pilu yang penuh dengan penyesalan dan juga kerinduan.
*******
Pagi harinya.
Diana mengucek matanya sembari melepaskan pelukan suaminya. Mereka tidur dalam keadaan sedih, jadi, sedikit melelahkan ketika bangun pagi.
Diana menatap wajah suaminya yang masih tertidur pulas, tangannya mengelus kepala Nathan dengan lembut lalu mencium kening suaminya itu.
__ADS_1
Setelah itu, Diana pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kebetulan, Nara juga belum bangun.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi dan berpakaian. Kebetulan sekali, Nara juga sudah bangun, Diana langsung memandikan putrinya itu lalu memakaikan pakaian yang cantik.
"Sudah wangi," ucap Diana mencium pipi Nara lalu menyusui putrinya.
Sesekali, Diana melirik suaminya yang masih tertidur, biasanya kalau Nara menangis, Nathan akan bangun, tapi tidak dengan hari ini, mungkin suaminya itu terlalu lelah karena menangis.
Setelah selesai menyusui, Diana pun memilih untuk turun dan sarapan. Sesampainya di meja makan, Diana dapat melihat pak Hans tengah memantau para pelayan yang mengatur sarapan di meja makan. Diana sangat kagum pada sosok pak Hans setelah mendengar cerita suaminya.
"Selamat pagi, nona. Apa tidur anda nyenyak?" sapa pak Hans tersenyum membuyarkan lamunan Diana.
"Oh, selamat pagi juga, pak Hans. Lumayan nyenyak, pak Hans sendiri bagaimana?" sapa Diana balik.
"Saya tidur nyenyak, nona. Terimakasih karena sudah bertanya," jawab pak Hans mengambil alih Nara.
"Apa tuan muda belum bangun?" tanya pak Hans memperhatikan Diana yang mulai sarapan.
"Belum, dia mungkin sangat lelah."
******
Setelah selesai sarapan, Diana pun membawa Nara kembali ke kamar untuk melihat apakah suaminya sudah bangun atau masih tidur.
Sesampainya di kamar, ternyata Nathan baru saja selesai mandi dan kini tengah mengeringkan rambutnya. Laki-laki itu, hanya menggunakan handuk sebatas pinggang saja.
"Kau sudah bangun? Mau aku ambilkan sarapan?" tanya Diana sembari meletakkan Nara di tempat tidurnya dan memberikan mainan pada anaknya itu.
"Hm, tidak perlu. Nanti pak Hans akan datang sendiri," sahut Nathan sembari mendekati tempat tidur putrinya.
"Cantiknya putri Daddy, sudah makan, sayang?" Nathan tampak mencubit pelan pipi putrinya yang gembul sembari tersenyum manis.
"Sudah, Daddy. Tadi kami makan nasi goreng," jawab Diana sembari membereskan tempat tidur.
Tatapan Nathan pun langsung beralih pada Diana. Nathan tampak berjalan ke arah istrinya, lalu memeluk Diana dari belakang membuat wanita itu terkejut.
"Pakai baju dulu, baru peluk." Diana jadi merinding karena Nathan memeluknya dengan keadaan bertelanjang dada.
__ADS_1
"Eum, aku sedang bahagia. Aku tak peduli mau pakai baju atau tidak, yang penting aku harus memelukmu," ucap Nathan pelan semakin membuat Diana merinding. Apa ini efek menangis semalam sehingga suaminya menjadi berbeda?
"Tunggu-tunggu, ada apa ini? Mengapa kau begitu berbeda?" tanya Diana membalikkan badannya lalu menyentuh kening suaminya.
"Tidak panas, tapi, kenapa kau seperti orang sakit?"
Nathan tak menjawab apapun, ia kembali memeluk istrinya sembari sesekali mencium leher Diana.
"Aku bahagia karena kau," ucap Nathan sembari menampilkan senyuman manisnya yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Karena ku? Tapi, kenapa?" tanya Diana dengan pipi yang memerah merona.
"Entahlah, aku tidak tau. Aku hanya sedang bahagia saja. Oh ya, kau lupa mencium ku, aku sudah bercerita tadi malam, tapi kau tak mencium ku," jawab Nathan sembari menagih janji.
"Bagaimana bisa aku mencium mu? Kau saja sedang bersedih. Bisa-bisa, aku dikatakan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan," ucap Diana sembari mengerucutkan bibirnya.
"Yasudah, sekarang aku sudah baik-baik saja. Cium aku sesuai janjimu," ucap Nathan menutup matanya membuat Diana tersenyum geli.
Apa ini pertanda mereka akan menjadi sebuah keluarga yang romantis dan juga harmonis? Apa benar, ini sebuah pertanda baik bagi mereka?
_
_
_
_
_
_
Maaf yh kalau udah gak seru. Author dah coba semampu mungkin untuk buat alur yg menarik.🙏
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.
__ADS_1