Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 103. Patah hati.


__ADS_3

Di meja makan.


Suasana tampak senyap tanpa ada obrolan, sesekali Adel melirik dua insan yang tampak memperlihatkan keromantisan mereka. Adel mengunyah makanannya dengan tidak berselera.


"Jadi, siapa nama kekasih mu ini, Ray? Aku belum pernah melihatnya," tanya Diana penasaran.


Sama seperti Diana, Adel pun juga sangat penasaran. Masih ada keraguan di hatinya mengenai kekasih misterius belahan jiwanya itu.


Rayyan tampak berpikir sejenak, tiba-tiba ia tak ingat nama kekasih bayarannya itu. Apa mungkin karena ia terlalu menganggap remeh nama orang yang tidak penting.


Semuanya menunggu Rayyan untuk menjawab pertanyaan Diana, ada senyuman sinis di bibir gadis kecil Nathan melihat ketegangan wajah laki-laki di hadapannya sekarang.


"Nama saya Kanaya, boleh dipanggil Naya." Akhirnya Naya lah yang menjawab agar keheningan terpecahkan.


"Kau terlalu grogi, Ray. Santai saja, aku tau kau sangat mencintai kekasihmu hingga kau tak memperkenalkan nya ke publik takut kalau ada yang merebut," ucap Nathan mencoba untuk mencairkan suasana.


Rayyan pun tersenyum kecil karena merasa bodoh saat ini.


"Eum, Rayyan memang seperti itu. Sedari dulu dia selalu saja gugup kalau mengenai saya," ucap Naya menambahkan.


"Iya kan, sayang?" lanjut Naya menatap penuh cinta pada Rayyan.


"Iya," jawab Rayyan tersenyum manis untuk menutupi kegugupannya.


Baru kali ini ia sangat gugup dan itu semua karena ulah bocah yang tengah menatap sengit padanya.


"Yasudah ayo dilanjut makannya, nanti kita mengobrol lagi setelah makan," ucap Diana.


Merekapun melanjutkan makan mereka sembari sesekali berbincang ringan.


*****


Setelah selesai makan siang. Kini semua anggota keluarga berada di ruang keluarga kecuali Leo yang memilih untuk pergi tidur daripada mendengarkan obrolan orang dewasa.


Hanya Adel yang setia mengikuti kemana orang-orang dewasa itu pergi karena jujur di lubuk hatinya ia belum bisa menerima kenyataan.

__ADS_1


"Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Diana antusias. Ia begitu penasaran bagaimana Rayyan bertemu dengan Naya, terlebih lagi Rayyan tipikal laki-laki cuek pada wanita sama seperti suaminya.


"Eum, sebenarnya kami sudah berpacaran cukup lama. Sekitaran tiga tahun," jawab Rayyan dengan tenang. Sontak saja Naya sedikit terkejut karena itu terlalu lama.


Nathan menatap istrinya yang tampak masih penasaran, seharusnya ia menjelaskan bahwa ini adalah sandiwara, tapi semuanya sudah terlanjur. Harap-harap Rayyan bisa menjawabnya dengan baik.


"Wah, lama sekali. Selama tiga tahun baru ini aku melihat kekasihmu, pintar juga kau menyembunyikan nya," ucap Diana salut.


"Itu karena Naya cantik dan juga sangat lembut, saya tidak mau orang merebutnya karena iri, apalagi saya ini banyak musuh, nyonya," ucap Rayyan.


"Tiga tahun cuma pacaran?" tanya Adel memotong pembicaraan.


"Kami sudah tunangan tapi itupun harus sembunyi-sembunyi," jawab Rayyan cepat.


"Mana cincin tunangannya?" tanya Adel membuat kedua insan itu tertegun.


"Iya, kenapa kalian tidak memakai cincin?" sambung Diana.


"Eum, itu...


"Iya, bukankah cinta itu tidak diukur melalui cincin." Sahut Rayyan tersenyum manis karena baru saja mendapatkan angin segar.


"Mana ada sepasang tunangan tidak memakai cincin, itu sangat konyol. Daddy dan Mommy saja selalu memakai cincin pernikahan mereka kemanapun itu berada," ucap Adel sinis.


"Sayang jangan berbicara seperti itu, lain orang lain prinsip. Kita hanya perlu menghargai keputusan orang lain, kalau menurut Uncle Rayyan cincin itu bukan prioritas, maka kita harus menghargai pendapatnya," ucap Diana menasehati anak gadisnya yang tampak semakin murung.


"Tidak pakai cincin, datang hanya sekali, terlihat nya juga hanya sekali, tiba-tiba mengaku sudah 3 tahun bersama. Adel rasa itu semua hanya omong kosong," ucap Adel tersenyum sinis.


Diana dan Nathan pun saling menatap melihat sikap Adel yng semakin menjengkelkan.


"Apa Uncle membayar wanita itu untuk menjadi kekasih bohongan?" tanya Adel membuat kedua insan itu kembali terkejut dengan pertanyaan Adel yang tepat sasaran.


Lama Rayyan terdiam begitu juga dengan Naya yang masih berpikir untuk membuat bocah dihadapannya ini percaya.


"Saya rasa nona sendiri tau bahwa saya adalah orang yang tertutup untuk segala hal, tak terkecuali masalah percintaan. Apa saya harus mengumbar kesemua orang masalah asmara saya? Saya rasa tidak. Lagipula, untuk apa saya menghabiskan uang demi membayar seorang wanita untuk menjadi kekasih saya? Apa saya akan mendapatkan keuntungan dari tindakan itu?" jelas Rayyan membuat Adel terdiam karena merasa dipojokkan. Hatinya begitu sakit karena ia harus mendengarkan kenyataan pahit di hidupnya.

__ADS_1


"Kata-kata tiga tahun bersama itu tidak bisa dipercaya jika tidak ada buktinya!" tekan Adel masih tetap gigih dengan pemikirannya.


"Jadi, nona ingin bukti?" tanya Rayyan serius.


"Iya, aku mau bukti! Buktikan bahwa kalian memang punya hubungan agar aku sadar diri untuk tidak menyukai Uncle lagi!" jawab Adel dengan garang namun matanya tampak sudah memerah.


"Baiklah, buktinya adalah anak. Kami sudah mempunyai anak dan usianya 1 tahun! Dan sebentar lagi, kami akan menikah." Tegas Rayyan membuat 4 orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bahkan, Naya pun ikut terkejut karena ini semua tak ada dalam rencana.


"Tidak mungkin," lirih Adel.


"Apa saya harus membawa nona untuk melihat anak kami?" tanya Rayyan mulai berbicara santai.


Adel hanya diam dan menunduk sembari meremas ujung bajunya.


"Tidak perlu," jawab Adel pelan lalu berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.


Keempat orang itu menatap kepergian Adel dengan pikiran yang bermacam-macam. Ada yang merasa bersalah, merasa sedih, dan juga merasa lega.


_


_


_


_


_


_


...Eum, kasian Adel. Tapi kamu gak cocok sama om-om, kamu cocoknya sama yang masih muda ❤️ semangat 😘...


...maaf yh masih telat up. Sebab author sedang magang, jadi bangun pagi, pulang sore. Terlanjur capek dan tertidur kalau udah sip isya. Semoga masih suka❤️...


tbc.

__ADS_1


__ADS_2