
Seminggu kemudian...
Rana duduk diteras kamarnya menikmati beberapa mahluk lain yang bersliweran didepanya, Rana berusaha tak menggubris mereka meski tak sedikit dari mereka yang mungkin menertawakannya, bahkan berniat jahil padanya.
Beberapa hari ini Rani tak menampakan wujudnya, entah kenapa Rana pun tak tau.
Tak terasa seminggu sudah Rana tak betemu dengan Sena gadis cantik yang mungkin telah memiliki tempat dihatinya, entah mengapa Rana sangat menyayangi gadis itu, bahkan meski dia belum menerima gaji dia tetap menepati janjinya pada gadis kecil itu untuk membuatkan baju yang sama seperti yang dia pakai ketika bertamu di rumah keluarga Sena.
Rana beranjak dari duduknya dan berencana main ketempat Sena malam ini selepas shalat Isya, Rana mengemas barang bawaan nya dan mengunci kamar nya, berangkatlah dia ketempat dimana Sena dan keluarganya tinggal dengan motor butut peninggalan ayahnya.
Setengah jam berkendara ahirnya Rana pun sampai ditempat tujuan, disana banyak sekali ibu ibu dan bapak bapak majelis taklim dilingkungan pak Yosan yang sengaja diundang untuk mendoakan arwah Sekar wanita tanpa kepala yang sering mendatangi Sena.
"Assalamualaikum," sapa Rana didepan pintu.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada didalam rumah pak Yosan, semua menatap kearah Rana gadis cantik yang tak pernah mereka lihat sebelumnya itu pun menjadi pusat perhatian, terlebih Sena yang berlari mendekati Rana dengan menyebutnya bunda.
"Bunda," sambut Sena ketika melihat Rana.
"Hay gadis cantik," balas Rana sambil menyambut gadis cilik itu seraya langsung menggendong dan menciuminya.
Kasak kusuk terdengar dari para ibu ibu disana, ada yang bertanya apakah Rana adalah calon ibu sambung Sena, ataukah hanya????.
Rana hanya tersenyum mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi diam diam ibu Risma dan pak Yosan tak keberatan jika Rana mau menjadi ibu sambung Sena, tapi tak mudah juga jika Rana mau karena belum tentu Kevin mau menjadikanya istri, karena anak nya itu terlanjur marah pada kedua orang tuanya yang dulu memaksanya menikah dengan maminya Sena yang pada kenyataan nya menghianatinya.
"Bunda bawain baju yang Sena mau, Sena mau ga cobain?" tanya Rana, seketika Sena pun tersenyum dan mengiyakan tawaran Rana.
"Mau bunda," jawab Sena.
Rana pun meminta ijin pada bu Risma untuk mengganti baju Sena, dan ibu Risma pun dengan senang hati mengijinkan Rana untuk mengganti pakaian gadis cilik yang cantik itu.
__ADS_1
"Suka ga?" tanya Rana sambil mengajak Sena bercermin.
"Suka bunda ini cantik," jawab Sena sambil memutar mutar badanya didepan cermin.
"Hijabnya mau pakek?" tanya Rana lagi.
"Mau bunda, bial cantik kayak bunda," jawab Sena, Rana hanya tersenyum mendengar jawaban gadis lugu itu.
Rana pun mengambil sisir dan menguncir rambut Sena agar rambutnya tak keluar dari hijab nantinya.
Dengan telaten Rana merawat Sena, Risma melihat itu semua, hatinya merasa sangat bahagia tapi juga sakit, seandainya Denada tau bahwa putrinya sangat cantik mungkinkah dia akan menyesali perbuatanya karena meninggalkan anak yang tak berdosa tanpa mau melihat wajah dan juga memberinya Asi dulu.
Dan anaknya (Kevin) terus saja marah jika melihat Sena, bahkan Sena tak diijinkanya memanggil dirinya papi, Sena pun menurut gadis cilik yang cantik yang tak tau apa apa itupun mengikuti keinginan papinya untuk tidak memanggil papi.
Jika diingat apa dosa anak ini, apa kesalahanya sehingga orang tuanya tak ada yang menginginkan nya, malahan kini ada orang lain yang lebih menyayanginya.
"Apakah sudah siap?" tanya pak Yosan mengejutkan istrinya dalam lamunan nya.
"Sudah opa," jawab Sena.
"Mari pengajian nya sudah mau dimulai," ucap pak Yosan, Rana pun menurunkan Sena dari ranjang dan menggandengnya untuk bergabung dengan para jamaah yang diundang oleh pak Yosan.
Acara tahlil pun dimulai, Sena tak mau turun dari pangkuan Rana sampai acara itu berahir, Sena sangat suka rupa nya mendengar Rana melantunkan ayat suci Al Quran, beberapa kali dia menatap Rana sambil tersenyum dan berbisik, "Ajari Sena nanti ya bunda?"
Rana pun menjawab dengan anggukan dan senyuman iklasnya.
Selepas acara tahlian itu para jamaah pun pulang kerumah masing masing dengan membawa bingkisan dari rumah pak Yosan dan bu Risma sebagai tanda terimakasih mereka telah bersedia datang dan turut mendoakan keselamatan keluarga ini.
Suasana rumah kembali sepi, dua asiaten rumah tangga mereka pun membereskan sisa sisa acara tadi, bu Risma pak Yosan dan juga Rana mengobrol di salah satu sudut ruangan itu, Sena masih saja duduk dipangkuan Rana, tak lama berselang mereka mendengar deru mobil yang parkir dihalaman depan rumah mereka.
__ADS_1
"Siapa bik?" tanya pak Yosan.
"Den Kevin tuan," jawab bik Sum.
"Ohh," jawab pak Yosan, Sena yang mendengar nama papinya disebut langsung menyembunyikan wajahnya didada Rana, Rana tau alasanya tapi dia masih pura pura tak paham.
"Kenapa bu?" bisik Rana pada bu Risma sambil menunjukan dengan isyarat soal Sena.
"Takut sama papinya," jawab bu Risma sambil berbisik juga.
Kevin pun masuk kerumahnya tanpa mengucap salam, dia langsung saja meminta disiapkan makan oleh bik Sum, tanpa melihat disekelilingnya Kevin langsung masuk ke kamarnya, astaga kenapa dia ga ada etika sama sekali batin Rana.
"Maaf ya nak Rana, Kevin emang gitu," ucap pak Yosan.
"Ga papa pak, saya ngerti ko," jawab Rana.
"Apa yang kamu mengerti?" tanya bu Risma.
"Kalau Den Kevin marah sama bapak sama ibu," jawab Rana.
"Kok kamu tau?" tanya bu Risma lagi.
"Biasanya kalau orang marah ga mau nyapa orang yang lagi dia marahin kan bu," jawab Rana apa adanya.
"Iya kamu bener, kirain," ucap pak Yosan.
Meski Rana sudah tau alasanya tapi tak mungkin dia berterus terang, Rana tak ingin dinilai terlalu ikut campur urusan keluarga ini.
Bersambung...
__ADS_1