
Lima hari berlalu....
Viola sudah dinyatakan sembuh oleh Dokter. Lusi dengan setia mendampingi baby Viola dalam masa pengobatannya. Lusi tak perduli meski Aldo tak menyukainya. Toh dia ada buat Viola bukan buat dia si pria egois yang tak tahu terima kasih itu.
Bu Dewi sangat berterima kasih pada Lusi. Karena Lusi mau menemainya menjaga Viola. Lusi terlihat sangat enjoy dan tanpa beban saat bersama Viola. Terlihat di sana Viola juga sangat menyukai Lusi.
"Nak ... Tante harus balas apa sama kamu. Kamu begitu baik pada kami terutama pada Viola," ucap Bu Dewi.
"Jangan begitu Tant, Lusi tulus kok sama Vio. Kan Lusi sama Vio sahabatan. Ya kan Dek, heemmm kita sahabatan kan heemmm gemes Onty," ucap Lusi sambil menggelitik perut si baby mungil ini. Seolah tahu bahwa Lusi mengajaknya bercanda Viola tertawa dengan gemasnya.
Bu Dewi tersenyum melihat adegan indah di depannya. Andai saja Aldo mau menerima perjodohan ini. Pasti yang paling berbahagia saat inj adalah keluarga besar Aldo terutama Viola.
Lusi masih asik bercanda gurau dengan Viola di ruang tamu rumah Bu Dewi. Disana hanya ada Viola, Lusi dan juga Bu Dewi.
Bu Dewi tak bisa menahan keinginannya ini. Sebenarnya dia malu jika menanyakan ini, tapi Bu Dewi juga tak ingin mati penasaran soal ini. Paling tidak dia sudah mencobanya.
"Lus ... maukah kamu jadi ibu sambung buat Viola?" tanya Bu Dewi tiba-tiba. Lusi mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada Bu Dewi yang tiba tiba meminta sesuatu yang mustahil baginya. Jujur dia tak berharap akan mendengar ini. Karena tak menutup kemungkinan Aldo pasti akan marah padanya.
"Tante ini ngomong apa toh. Saya sama Vio kan udah berteman. Kalau jadi ibu sambung dalam arti saya harus menikah dengan Pak Al ... maaf Tante, Lusi nggak bisa. Tapi kalau bebas seperti ini, Lusi tak ada alasan untuk menolak," jawab Lusi tegas. Lusi tak mau menciptakan kesalah pahaman lagi antara dia dan Aldo.
"Tapi kenapa Lus, apa kurangnya putra Tante, apakah karena dia duda?" tanya Bu Dewi. Lusi malah tersenyum.
"Bukan itu alasannya Tant, yang namanya menikah kan nggak hanya satu saja alasannya. Saya dan Pak Al kan nggak ada perasaan sama sekali. Dan, Lusi nggak tahu Tant, yang jelas Lusi dan Pak Al tidak bisa," jawab Lusi. Lusi sungguh nggak tahu harus bagaimana mengutarakan perasaannya. Ditambah lagi dia harus menghadapi kemarahan Aldo lagi jika dia menerima tawaran ini.
"Kalau soal cinta kan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Nak. Apa kamu nggak kasihan sama Viola. Kamu tahu kan Viola membutuhkan sosok wanita yang mengerti dirinya sepertimu," desak Bu Dewi.
__ADS_1
Lusi diam, mulutnya terkunci. "Nanti kalau kamu mau biar Tante bicara pada Al. Al pasti mau berkorban untuk putrinya. Meskipun pernikahan ini adalah pengorbanan tapi Tante percaya kalian bertiga pasti bisa bahagia," ucap Bu Dewi lagi mencoba mempengaruhi Lusi.
"Tapi Lusi sungguh minta maaf Tant, Lusi nggak bisa. Orang tua Lusi sudah menerima lamaran seseorang untuk Lusi. Dan akhir bulan ini kami akan tunangan," jawab Lusi. Bu Dewi menatap tak percaya pada jawaban Lusi. Lusi mengatakan hal itu seperti lepas tanpa beban tapi Bu Dewi tetap menangkap bahwa Lusi terpaksa pasal perjodohan ini.
***
Malam semakin larut tapi Bu Dewi masih tak bisa memejamkan matanya. Dia masih memikirkan perbincangannya tadi siang bersama Lusi.
Bu Dewi tak bisa terima kalau Lusi menikah dan menjadi menantu orang lain. Wanita paruh baya ini pun bertekat menyatukan putranya dengan wanita itu bagaimanapun caranya.
"Mama ini kenapa kok nggak tidur tidur?" tanya Pak Ilham suami Bu Dewi.
"Papa tahu Lusi kan, wanita yang bantu mama jaga Vio di rumah sakit?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Bu Dewi malah balik bertanya.
"He em, dia Pa. Menurut Papa dia tu cocok nggak jadi ibu sambung buat Vio?" pancing Bu Dewi.
"Cocok ma. Papa juga suka sama perempuan itu. Pembawaanya kalem, cocok kalau dampingin si Al yang agak keras kepala itu," jawab Pak Ilham. Dan Yes pak suami sudah ACC maka tunggu apa lagi. Bu Dewi tinggal merencanakan rencana yang sudah jauh jauh hari dia rencanakan.
"Papa mau nggak nemenin Mama ke Surabaya?" pinta Bu Dewi.
"Mau ngapain Ma?"
"Papa ini gimana sih. Orang tua si Lusi kan tinggal di sana. Agak nya Lusi nurut sama orang tuanya. Kita deketin mereka aja Pa. Masalah Aldo gampang nanti Mama yang atur. Gimana Pa!" jawab Bu Dewi.
"Ya nggak pa-pa Mama atur aja," jawab Pak Ilham. .Bu Dewi terlihat girang. Karena dia yakin kali ini dia tak akan gagal.
__ADS_1
***
Keesokan harinya...
Bu Dewi sudah terlihat rapi bahkan dengan manisnya dia mempersiapkan keperluan Pak Ilham dengan manisnya. Membuat Pak Ilham ingin tertawa.
Wanita yang telah setia menemaninya dua puluh delapan tahun ini masih saja terlihat manis manja dan menggemaskan baginya. Sikapnya masih sama jika bersamanya. Selalu mau dimanja dan dimanja.
"Ayo Pa, Mama udah siap. Calon besan enaknya dibawain apa ya Pa?" tanya Bu Dewi.
"Kue khas Bali aja Ma. Papa udah minta sama sopir kita buat ambil semalam Papa udah pesan. Papa tahu Mama lah, kalau mau bertamu tak bawa buah tangan pasti heboh," jawab Pak Ilham sambil memakai jas nya.
"Astaga suamiku, kamu memang terbaik," jawab Bu Dewi sambil mencium pipi suaminya.
"Kalau Papa nggak terbaik mana mungkin Mama bertahan," goda Pak Ilham.
Bu Dewi mukanya bersemu merah, Pak Ilham memang pandai mengambil hati belahan jiwanya ini.
"Ma, udah cari tahu alamat mereka kan?" tanya pak Ilham.
"Sudah Pa, kita tinggal jalan," jawab Bu Dewi.
"Ya udah ayok," jawab Pak Ilham. Bu Dewi pun mengambil tas tangannya dan mengikuti langkah sang suami. Duh tak sabarnya ingin segera meminta Lusi pada orang tuanya. Dan menjadikan wanita cantik itu sebagai menantunya. Dalam perjalanan ke Bandara, senyum terus mengembang di wajah cantik wanita paruh baya ini. Semangatnya begitu tinggi hingga dia lupa memakai lipstik dibibirnya, sampai suaminya ingin menertawakannya, tapi tak tega.
Bersambung...
__ADS_1