SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Antara Percaya dan Tidak


__ADS_3

Yosan sudah menelusuri jalanan sepanjang jalan Simokerto dan tak ada satupun dari orang orang yang dia tanya mengetahui tentang Rana, gadis pendiam yang aneh menurut orang orang.


Yosan hampir putus asa, ahirnya dia pun memarkirkan mobilnya dibawah pohon beringin yang ada disekitar jalan yang dia lewati.


Saat memainkan ponselnya tanpa sengaja Yosan melihat gadis yang dia cari, Yosan pun segera keluar dari mobil dan mengejar Kirana yang saat itu sedang bersepeda.


"Kirana." panggil Yosan, Kirana yang biasa dipanggil dan dipermainkan oleh mahluk halus itu pun tak menghiraukan panggilan Yosan, dia terus mengayuh sepedanya.


Yosan tak putus asa, dia pun terus berlari mengejar Rana, dan terus memanggilnya sampai Rana mau berhenti untuknya.


"Kirana, Kirana, tunggu aku mau bicara."teriak Yosan, untung ada bapak bapak yang menghentikan sepeda Rana.


"Mbak ada yang manggil tu." ucap bapak bapak itu oh berarti aku ga halu batin Rana menertawakan dirinya sendiri. Rana pun ahirnya turun dari sepeda dan menengok kebelakang.


Benar saja ada seorang pria paruh baya yang mengejarnya.


"Hos hos hos..aduh Kirana kamu bapak panggil panggil kok makin kenceng ngayuh sepedanya." ucap Yosan dengan nafas ngos ngosan.


"Bapak kenal saya?" tanya Rana.


"Enggak sih cuma kamu ingat ga pernah bantu saya nenangin cucu saya direstauran malam itu." ucap Yosan mengingatkan ingatan Rana.


"Ohh, adek kecil yang nangis itu?" tanya Rana.


"Iya kamu bener, saya mau minta tolong sama kamu lagi boleh?" tanya Yosan.


"Minta tolong apa pak?" tanya Rana balik.


"Bisa kita bicara dimobil saya," pinta Yosan, sebenernya Rana ragu dia takut juga semobil dengan pria yang tidak dia kenal.


"Saya mohon Kirana, saya hampir stres memikirkan ini." ucap Yosan sambil memohon dan menangkupkan tangan nya pada Rana.


"Baiklah pak." Rana pun menuntun sepedanya dan menyenderkannya di tepian jalan dekat mobil Yosan.


"Masuk dek, bapak mesti panggil kamu apa?" tanya Yosan.

__ADS_1


"Panggil Rana aja pak." ucap Rana sambil membuka pintu mobil mewah Yosan dan masuk kedalam nya.


"Apa yang bisa saya bantu pak?" tanya Rana.


"Saya hanya ingin bertanya apakah kamu tau kenapa cucuku bisa nangis histeris seperti itu ?" tanya Yosan.


Rana diam sejenak, dia masih berfikir bagaimana cara menyampaikan jawaban yang mungkin tidak Yosan mengerti atau lebih tepatnya tidak percaya karena apa yang akan dia ucapkan tidak bisa dinilai logis.


"Kenapa kamu diam Ran, apakah jawaban kamu tidak bisa diterima akal sehat?" tanya Yosan.


"Apakah bapak percaya bahwa ada mahluk lain disekitar kita?" tanya Rana.


"Sedikit, tapi saya selalu berfikir positif, " jawab Yosan.


"Tidak masalah pak, tapi saya berharap bapak bisa menerima jawaban yang akan saya berikan seputar anak bapak." jawab Rana.


"Dia bukan anaku Rana, dia cucuku." jawab Yosan.


"Ohh, maaf pak saya kira gadis itu anak bapak." jawab Rana.


"Maaf pak, maaf banget." ucap Rana.


"Oia Ran satu lagi, selain suka nangis histeris cucu saya juga ga mau makan dan minum kadang kadang saja dia mau makan, itu pun bukan nasi dan air putih, dia hanya makan jagung rebus saja dan sama sekali tak pernah mau minum kamu lihat sendiri kan badan nya sangat kurus padahal usianya udah hampir empat tahun." ucap Yosan menceritakan sedikit tentang Sena cucunya.


"Apakah kejadian ini sudah berlangsung lama pak?" tanya Rana.


"Sejak ibunya meninggal Rana, sekitar setahun lebih lah." jawab Yosan..


"Baiklah, saya akan jawab sesuai apa yang saya lihat saya rasakan dan saya ketahui." jawab Rana.


"Saya penasaran Rana apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yosan.


"Huuuff( Rana menghembuskan nafas dalam dalam, dia menegakan tubuhnya dan memegang tangan Yosan)." Yosan hanya diam dan merasakan sentuhan tangan Rana, Yosan mengerutkan dahinya sepertinya dia merasakan sesuatu.


Rana membuka matanya dan bertanya pada Yosan, " Apa yang bapak rasakan barusan?"

__ADS_1


"Tanganmu panas sekali Rana." jawab Yosan.


"Itu artinya disekeliling bapak ada yang berniat jahat pada keluarga bapak salah satunya cara mereka adalah mengganggu putri bapak, eh maaf cucu bapak maksud saya." ucap Rana.


"Apakah kamu serius Rana?" tanya Yosan.


"Insya Allah dugaan saya ga meleset pak, karena sosok yang membuat cucu bapak menangis kemarin itu bisa dibilang sangat jail dan jahat, karena dia berhasil mengsugesti cucu bapak." jawab Rana.


"Maksudnya mengsugesti apa Rana?"


"Dia mengubah semua makanan yang ada didepan cucu bapak berubah menjadi belatung dan minuman nya darah, makanya dia ga mau makan dan minum kan," jawab Rana sesuai apa yang dia lihat.


"Maaf Rana bukan aku tak memepercayaimu tapi ini sangat ga logis." jawab Yosan.


"Kan tadi saya sudah bilang pak jawaban yang akan saya berikan pada bapak itu sangat tidak masuk akal, bahkan orang orang yang ada disekitar saya pun mengganggap saya gila pak, tapi mahluk seperti itu memang ada dan dijok belakang mobil bapak juga ada sahabat saya, namanya Rani bapak mau kenalan?" tanya Rana berusaha membuat Yosan percaya akan ucapan nya, Yosan malah menjatuhkan kepalanya di setir mobilnya, karena dia merasa perasaan nya menolak dan menerima apa yang barusan Rana ucapkan.


"Saya bisa gila karena ini Rana," ucap Yosan


Rana diam, karena dia tak mungkin memaksakan apa yang dia percayai.


"Ran, mau kah mau ikut kerumah bapak dan lihat apa yang sebenernya terjadi." pinta Yosan.


"Jawaban Rana tetap sama pak." jawab Rana.


"Paling tidak tolong bantu bapak sembuhin Sena cucuk bapak Ran, kasihan dia masih kecil." pinta Yosan.


"Baiklah pak, Rana akan coba bantu tapi ga bisa malam ini karena Rana kerja." jawab Rana.


"Ran ayolah kasihan Sena, seharian ini dia kambuh." ucap Yosan, Rana menengok kebelakang dan berbicara pada sahabatnya.


"Rani ikut ya." ucap Rana, Rani pun mengangguk.


"Baiklah pak mari." ucap Rana, Yosan pun mulai mengijak gas mobilnya dan melajukan kendaraan nya ke kediamannya dimana Sena tinggal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2