SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Keyakinan Kirana


__ADS_3

Kirana merasa amat kasihan pada Lusi, bagaimana tidak. Dulu Lusi wanita yang sangat baik dan penyayang. Bahkan dia juga sangat sayang pada Sena. Lalu kenapa dia sekarang berubah. Mungkinkah dia benar-benar terkena hasutan mantan suaminya atau kah kabar yang dia terima adalah benar, bahwa Lusi terobsesi dengan suaminya


Sesuai permintaan Delon, Kirana dan Kevin pun tetap stay di rumah.


Bisa dikatakan mungkin raga mereka memang di rumah tapi pikiran mereka melayang entah kemana. Terlebih Kirana. Kirana ingin sekali menemui Lusi dan berbicara dari hati ke hati. Kirana yakin jika Lusi masih bisa diajak bicara.


Kirana sedang memasak seperti biasa, dia harus menyiapkan keperluan sang suami terutama asupan nutrisi. Kevin memang bukan pria pemilih soal makanan yang penting sehat.


"Mbak ... tolong hidangkan ya, biar aku panggil bapak," ucap Kirana pada asisten rumah tangganya.


"Baik non," jawab asisten rumah tangga Kirana.


Kirana pun berjalan menuju ruang kerja sang suami, di sana juga ada Sena yang asik menggambar seperti biasa.


"Hay semua," sapa Kirana. Kevin tersenyum, Sena juga.


"Hay Bunda ... Sena gambar Bunda sama Papi sama Dedek Bayi Bunda," ucap Sena menunjukkan hasil karyanya.


"Wah ... cantik banget. Lalu Kakak Senanya mana?" tanya Kirana menanggapi hasil karya sang putri. Kevin masih duduk di kursi kerjanya. Tersenyum sambil memperhatikan interaksi ibu dan anak itu.


"Ini Sena di belakang Papi," ucap Sena.


"Loh kok di belakang Papi, harusnya Kakak Sena di sini dong deket Bunda," jawab Kirana sambil menunjuk tempat di mana seharusnya Sena berada.


"Bunda ma curang ya Kak," ucap Kevin sambil bergabung di sofa ruang kerjanya.


"Kok curang kenapa Pi?"tanya Kirana.


"Anak anak suruh deket Bunda semua, la yang deket Papi siapa?" balas Kevin sambil menarik Kirana lebih dekat padanya. Kirana tersenyum sambil melirik manja ke arah suaminya.


"Papi deket Bunda aja ," jawab Sena.


"Bener juga Kakak ya Bun. Ya udah deh Papi temenan sama Bunda aja deh," jawab Kevin. Sepertinya Sena tak ingin membalas ucapan Papinya . Dia lebih memilih serius menyelesaikan pekerjaannya.


Kevin memaksa Kirana menghadapnya dan mencuri ciuman sang istri. Kirana pun memberikan bibirnya dengan suka rela.


"Sudah nanti Sena lihat," ucap Kirana lirih, Kevin hanya tersenyum tanpa mau melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.


"Mas, boleh nggak Bunda ngobrol sama Lusi?" tanya Kirana.


"Jangan Bun, Bunda tahu kan Lusi itu orangnya seperti apa!" jawab Kevin sedikit kesal.

__ADS_1


Kirana mengelus pipi suaminya, "Suamiku, kita kan nggak tahu apa sebenarnya yang menjadi faktor Lusi berubah seperti itu. Bisa jadi dia hanya termakan hasutan mantan suaminya. Lusi yang Bunda kenal ga seperti ibu Mas, serius," ucap Kirana menyuarakan isi pemikirannya.


"Mas juga heran, kenapa dia berubah jadi sekeji itu ya Bun!"


"Makaknya, anter Bunda ke tempat Lusi yuk Mas," pinta Kirana.


"Boleh deh, tapi Mas kabarin Delon dulu ya," ucap Kevin.


"He em, Mas sama Sena makan dulu yuk. Keburu dingin," ajak Kirana.


"Boleh deh,"


Kirana merasa sedikit lega karena Kevin mau mendengarkan pendapatnya. Kirana sangat yakin bahwa Lusi masih bisa di ajak bicara baik baik.


"Bunda nggak makan?" tanya Kevin.


"Bunda masak tadi, kok malah berasa kenyang," jawan Kirana.


"Bunda sini duduk dekat Papi," pinta Kevin.


Kirana pun duduk di samping kanan suaminya, di tempat biasa dia mendampingi Kevin kalau makan.


"Aaa ... Bunda!" ucap Kevin meminta Kirana membuka mulutnya.


"Enak kan Bunda," ucap Sena menggoda Bundanya.


"Enak sayang, makasih Papi," ucap Kirana. Sena hanya tersenyum meledek.


"Bunda malu sama Sena, Mas," bisik Kirana.


"Habis Bunda suruh kita makan, tapi nggak mau makan bareng. Ya kan Kak!" ucap Kevin membalas senyuman manis dari Sena.


"Bunda emang jarang makan Pi. Dulu waktu Sena masih kecil Bunda kalau beli nasi bungkus buat Sena doang Pi," ucap Sena menceritakan awal mula dia ikut Kirana. Kirana diam karena itulah kenyataannya.


Kevin menatap Kirana dengan perasaan yang sukar diartikan.


"Maafkan Papi ya Bun, Papi sudah menyakitimu padahal dulu kita belum kenal," ucap Kevin.


"Sudah lah Mas, jangan diingat lagi. Udah makan habisin, Sena nambah nggak Nak?" tanya Kirana.


"Enggak Bunda, Sena kenyang. Besok Sena mau udang masak kayak gini lagi ya Bun," pinta Sena. Kirana tersenyum dan menghiyakan keinginan putrinya.

__ADS_1


Kevin semakin percaya bahwa pilihan mendiang istrinya tak salah. Kirana memang ibu tiri, tapi kasih sayangnya pada Sena sunggun luar biasa.


"Kakak di rumah dulu ya sayang, Bunda sama Papi mau ketempat temen. Jangan rewel ya sayang, Bunda nggak lama kok," pinta Kirana.


"Oke Bunda," jawab Sena.


"Cantiknya Bunda mau dibawain apa nanti?" tanya Kirana sambil membantu Sena membersihkan mulutnya.


"Es krim boleh Bunda?" tanya Sena.


"Boleh, nanti Bunda bawain. Kakak bobo siang lo ya. Gosok gigi jangan lupa. Jangan nonton TV terus," ucap Kirana memperingatkan putrinya.


"Oke Bunda, Kakak mau rasa vanila sama stroberi ya Bunda," pinta Sena lagi.


"Oke," Sena pun mencium pipi bunda dan papinya kemudian dia mengajak pengasuhnya masuk ke kamar.


Kirana membereskan bekas peralatan makan suami dan anaknya, mencuci piring dan merapikannya.


Kevin tak tinggal diam, dia juga membantu Kirana bekerja.


"Udah Mas, biar Bunda aja," ucap Kirana, Kevin malah memeluk pinggang istrinya, dan menaruh kepalanya di pundak Kirana. Mereka terlihat begitu mesra.


"Gimana Bunda mau gerak kalau Masnya kunciin Bunda kayak gini," ucap Kirana. Kevin malah mencium harum pipi istrinya.


"Bun, jangan panggil Papi Mas napa," pinta Kevin.


"Lalu, honey, sweety atau apa," goda Kirana.


"Panggil Papi aja kayak Sena," jawab Kevin.


"Baiklah Papi, Bunda emang pantesnya jadi putri Papi juga kok," jawab Kirana sambil tertawa lepas.


Kevin menggelitik Kirana gemas. Tawa Kirana makin lepas oleh kenakalan suaminya.


"Udah Papi ah, nggak kelar-kelar ntar kerjaan Bunda. Nanti keburu sore, kasihan Sena sendiri," ucap Kirana.


"Bunda yakin mau menemui wanita ular itu Bun?" tanya Kevin.


"Papi jangan ngomong gitu ah, mau bagaimanapun juga dulu Bunda ama Sena sering ditolong ama Lusi lo Pi," jawab Kirana.


"Baiklah kalau Bunda yakin, siapa tahu nanti kita bisa bikin dia sadar," ucap Kevin, mulai bisa mengerti jalan pikiran Kirana. Semoga ini adalah keputusan terbaik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2