
Kekaguman Kevin bertambah ketika Kirana dengan sabar menjawab setiap pertanyaan putrinya, dari hal kecil hingga hal besar diluar nalar mereka bicarakan.
Kevin duduk diselah kanan Sena yang berbaring sambil memeluk boneka marsya kesayanganya. Sedangkan Kirana masih setia disisi kiri putrinya. Sesekali dia mengganti kompres yang ada dikening Sena
"Bun, besok Sena disuruh buguru baca Pancasila bun," ucap Sena mengadu.
"Udah hafal belum cantiknya bunda ni!" jawab Kirana sambil mengganti kompres yang ada dikening Sena.
"Udah bunda, kata buguru Sena suruh ikutan fashion show baju adat juga, boleh kan bun?" tambah Sena lagi.
"Boleh, Sena mau pakek baju adat mana emangnya?" tanya Kirana, dengan senyuman cute nya Sena menjawab "Miss K boleh bun!" canda Sena, dia pun beranjak dari pembaringanya dan mempraktekan cara jalan kuntilanak.
"Biar jalannya gini bunda hahaha," ucap Sena, Kevin yang tak paham pembicaraan mereka hanya tersenyum.
"Hist, ga boleh masak miss k," jawab Kirana.
"Kenapa ga boleh bun kan miss k cantik," ucap Kevin sok tau, Rana dan Sena saling menatap mereka pun bersamaan menertawakan Kevin.
"Loh kok kalian ketawa, iya kan miss k cantik," ucap Kevin lagi, astaga dia terlihat oon dimata Rana dan Sena.
"Emang papi perna lihat miss K?" tanya Sena.
"Pernah di TV, Miss Kolombia kan!" Kevin kembali terlihat bodoh dimata Rana dan Sena, mereka kembali tertawa mendengar jawaban Kevin.
"Bukan papi miss K itu bukan miss apa tadi bun?" tanya Sena.
"Miss Kolombia dek!" jawab Rana.
"Iya itu miss Kolombia, miss k itu sini Sena bisikin (Kevin pun memberikan telingnya pada Sena), Miss k itu kata bunda Kuntilanak pi yang mukanya serem matanya merah," jawab Sena kembali tertawa melihat ekpresi tegang Kevin.
"Ah kalian malah nakutin papi," jawab Kevin sambil mendekatkan dirinya pada Sena.
"Lah itu belum lihat aja takut, dulu Sena pas nangis nangis dimarahin ama papi," ucap Sena, pinter banget anak ini memutar balikan keadaan.
Kevin menatap bingung kearah putrinya, "Emang adek lihat Kunti juga?" tanya Kevin tak percaya.
__ADS_1
"Iya, terus ada juga yang ga punya kepala, ya kan bun, terus yang di belakang butik itu ada uwok uwok (genderuwo)," ucap Sena, meski udah tau apa yang pernah disaksikanya tapi Kevin nasih berusaha berfikir logis.
"Ah ga ada begituan, kamu diboongin bunda," ucap Kevin berusaha menolak kenyataan yang ada.
Kirana hanya tersenyum mendengar ucapan Kevin, "Dih papi ga percaya bun, panggil Rani bun," pinta Sena.
"Rani, siapa itu Rani?" tanya Kevin sambil mengerutkan keningnya.
"Sahabat bunda, yang suka jagain Sena kalau bunda kerja," jawaban Sena membuat Kevin kepo.
"Sahabat bunda, kok papi ga tau, bunda belum pernah kenalin kepapi," tambah Kevin lagi, Sena tertawa lagi tapi tidak dengan Rana dia malah tersenyum dan meminta putrinya untuk berhenti menertawakan kekurangan papinya.
"Sssstt dedek ga boleh ketawain orang tua gitu dosa tau," ucap Rana, Sena kembali menatap papinya dengan muka cute nya.
"Habis papi lucu bunda, ga percaya tapi nanya nanya," jawab Sena mukanya sangat menggemaskan buat Kevin.
"Ya kan memang papi ga kenal, makanya papi nanya," ucap Kevin lagi.
"Beneran papi mau kenalan ga takut!" ledeka Sena.
"Bukan dia hantu papi," jawab Sena lagi.
"Hah serius,"
"Dua rius papi, tu dia dibelakang papi kalau papi mau kenalan, Sena kenalin mau," ucap Sena malah memicu andrenalin papinya.
Kevin malah celingukan, jujur aja saat ini bulu kuduknya merinding.
"Dek jangan main main lah, serem papi," ucap Kevin mulai merasakan keanehan.
Rani dasarnya jail dia pun mengelus pipi Kevin, "Ih apa sih," ucap Kevin spontan. Merasakan ada yang mengelus pipinya, padahal ga ada siapa siapa disampingnya. Rana yang melihat itu rasanya tak rela, dia pun melotot kearah Rani, Sena kembali tertawa.
"Kenapa pi?" tanya Sena geli.
"Rasa ada yang ngelus pipi papi tadi," jawab Kevin masih belum mengerti apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Ya itu kak Rani yang elusin papi, dia suka sama papi dia bilang papi tampan," jawab Sena, astaga Sena papi udah sangat merinding ini.
"Ih, enggak ah ga mau papi," ucap Kevin sambil beringsut memeluk Sena.
Sena kembali menertawakan papinya.
Rana yang tau bahwa Kevin takut pun meminta Rani untuk pergi sementara waktu, untungnya Rani tak ngeyel kali ini.
"Udah pak dokter Rani udah pergi, pak dokter bisa keluar sekarang," ucap Kirana.
"Ogah papi mau disini aja bobo ama kalian," ucap Kevin, tak mau melepaskan pelukanya pada Sena.
"Ya udah kalau gitu, Sena bobo papi ya bunda bobo disofa oke," ucap Kirana.
"Ga mau bunda, bunda bobo sini juga Sena mau sama bunda," ucap Sena, astaga Sena mengertilah bunda dan papi ga boleh seranjang sayang.
"Ga bisa sayang bunda sama papi kan beda, jadi ga boleh bobo satu ranjang oke, Sena ngerti kan maksud bunda," ucap Kirana sambil mengelus rambut panjang Sena.
"Ga mau pokoknya bunda bobo sini deket Sena," aduh anak ini, Kevin malah pura pura memejamkam matanya, bukanya bantuin jelasin malah diem diem bae, "dasar tukang modus," umpat Kirana dalam hati.
"Ayolah bunda sini dekat Sena, papi ga tau ini papi udah bobo," ucap Sena,
"Aduh dek kamu pinter banget, terus dek bujuk bunda biar mau bobo seranjang ama kita," ucap Kevin dalam hati.
"Ayolah bunda," Sena kembali merajuk, Rana tak tega dia pun berbaring disamping putrinya tanpa melepas hijabnya.
Dasar Kevin duda mesum tingkat dewa, dalam hatinya tertawa bahagia, tanpa dia sadari dia malah berharap bisa terus diposisi seperti ini.
Kirana agak menjauhkan tubuhnya, karena didekat perutnya ada tangan Kevin yang memeluk putrinya, was was iya takut apa lagi, Rana gelisah dalam hati. Tentu saja takut dengan keadaanya sekarang, meski tak ada pikiran kotor diotaknya tapi tetap saja namanua manusia rentan khilaf bukan.
Malam semakin larut kesadaran yang dimiliki Kirana pun berangsur hilang, matanya mulai merapat seiring terdengarnya suara teratur nafas Rana.
Entah apa yang terjadi dengan perasaan Kevin sekarang, yang jelas dia bahagia bisa tidur seranjang dengan ibu asuh putrinya.
Bersambung....
__ADS_1