
Lusi mengarahkan kendaraanya ke rumah pribadinya. Membuat Aldo sedikit bingung, wajah lah dia kan nggak tahu kalau Lusi punya rumah sendiri.
"Ini rumah siapa?" tanya Aldo, sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
"Rumah pribadi saya Pak," jawab Lusi.
"Oh," Lusi pun membuka pintu mobilnya dan mengajak Aldo turun. Lusi pun menenteng tasnya dan membukakan pintu untuk suaminya. Eh bukan suami tapi tamunya. Mungkin begitu lebih enak di dengar, batin Lusi.
"Silakan masuk Pak!" ajak Lusi. Aldo pun hanya tersenyum dan masuk ke dalam.
Lusi pun langsung menuju dapur dan bersiap membuat sarapan untuk pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
Aldo hanya berdiri santai, melipat tangan dan juga memperhatikan istrinya melakukan pekerjaannya.
"Bapak biasanya sarapan berat atau ringan?" tanya Lusi.
"Ala orang indo pada umumnya," jawab Aldo. Dasar pria mulut cabe, kalau ngomong bisa nggak sih biasa aja, umpat batin Lusi kesal.
Lusi pun segera memasak nasi dan membuatkan omlet sayur, serta bihun goreng maklum hanya itu yang tersedia di rumahnya saat ini.
"Apa Bapak suka makanan pedas?" tanya Lusi.
"Suka!"
Pantas mulut anda pedas ternyata anda suka makan pedas juga, batin Lusi.
"Oke," jawab Lusi.
Lusi kembali melanjutkan pekerjaannya. Aldo memutuskan untuk keliling rumah Lusi. Langkah kakinya terhenti di sebuan lemari hias. Di sana banyak sekali mainan mainan anak kecil. Ada juga foto seorang gadis cantik dengan senyum manis yang menggemaskan.
"Cantik banget," gumam Aldo. Tatapan mata Aldo
berhenti pada sebuah figura yang di dalamnya ada foto Lusi menggunakan gaun rangannya sendiri. Dia terlihat anggun dan cantik.
"Dia memang cantik," gumam Aldo. Menatap Lusi lewat fotonya ternyata mampu menggetarkan hati Aldo, tapi sayang gengsinya terlalu tinggi.
Lusi berjalan mendekati Aldo dan memintanya untuk kembali ke meja makan. Dan menyantap sarapan paginya.
"Pak, silakan sarapan. Semua siap," ajak Lusi. Astaga kenapa dia jadi seperti asisten pribadiku batin Aldo. Aldo pun mengikuti langkah Lusi dan duduk di tempat yang sudah Lusi siapkan.
"Apakah di sini tak ada yang tinggal?" tanya Lusi.
"Ada Pak, mbak nya lagi ke pasar beli bahan makanan. Dia tahu kalau saya mau pulang," jawab Lusi sambil mengambilkan suaminya nasi dan lauk.
"Apa segini cukup?" tanya Lusi. Aldo mengangguk dan memberikan senyumnya. Tumben senyum biasanya ngeluarin taringnya batin Lusi.
"Makasih," ucap Aldo. Lusi pun membalas dengan senyumannya juga.
__ADS_1
Dalam diam mereka pun menikmati masakan yang dihidangkan oleh Lusi. Dalam hatinya, Aldo memuji masakan wanita cantik ini. Ternyata dia bukan hanya cantik tapi juga pinter masak. Disamping itu dia juga baik. Apa kurangnya dia, kenapa aku terus menghujatnya.
"Emm, Lus. Apa kamu marah padaku?" tanya Aldo tiba tiba.
"Sedikit," jawab Lusi jujur.
"Maaf ya, aku hanya tak ingin ini terjadi!"
"Tak masalah, toh kita sudah sepakat menjalani ini. Saya akan coba jadi ibu yang baik untuk Vio," ucap Lusi berjanji.
"Makasih ya," balas Aldo. Mereka pun saling melempar senyum. Memang belum ada pembicarakan tentang perasaan yang ada antara mereka. Dan sepertinya mereka memang belum menyadari itu.
***
Kirana sangat merindukan putri sambungnya. Maklum lah tiga hari ini Kirana sangat sibuk mengurus butik milik Lusi. Kevin pun sama, dia juga sedang repot dengan para anak anak koas bimbingannya.
"Mas, malam ini Bunda mau kita bobo bareng Sena ya," pinta Kirana.
"Boleh, lama juga Mas nggak gemesin tu anak. Kangen juga Mas ni," jawab Kevin semangat. Mereka berdua pun berjalan menuju kamar Sena.
Langkah Kevin dihentikan oleh Kirana, karena tak sengaja telinganya mendengar Sena berbicara sendiri.
"Mas, tunggu!" cegat Kirana.
"Apaan Bun!"
"Sena ngomong ama siapa itu?" tanya Kirana berbisik pelan.
Kirana pun mengintip di balik pintu," Astaga Mas," ucap Kirana terkejut.
"Ada apaan Bun!!" Kevin pun ikutan penasaran. Kirana sungguh tak percaya dengan siapa yang sedang berbicara dengan Sena. Bagi Kirana ini sangat Amazing ketika seorang Ratu penguasa daerah ini mau berbicara dengan seseorang, dan itu adalah putrinya.
"Nggak ada apa apakan Bun!" tanya Kevin. Kirana langsung memarik tangan Kevin, mengajaknya menjauh dari kamar Sena.
"Ada apaan sih Bun?" tanya Kevin bingung.
"Mas percaya kan ama Bunda?" tanya Kirana.
"Percaya!"
"Sena lagi ngobrol ama Ibu Ratu Mas," jawab Kirana.
"Ibu Ratu?, Ibu Ratu siapa?" tanya Kevin sambil mengerutkan keningnya.
"Ibu Ratu, Ibu Ratu penguasa pulau ini," jawab Kirana. Ingin rasanya Kevin tertawa, apa hebatnya, apa istimewanya toh dia nggak bisa lihat ini.
"Emang dia hebat Bun?" tanya Kevin.
__ADS_1
Kirana menatap tak percaya pada suaminya. Mungkin ini memang mustahil, tapi Kirana sendiri juga bingung gimana menjelaskan ini pada Kevin.
Kirana duduk termenung, berusaha menyusun kata untuk dia sampaikan pada Kevin. Kevin pun masih berusaha sabar menunggu penjelasan yang akan diberikan pada oleh Kirana.
"Kita tunggu Sena aja Mas, Bunda juga bingung mau jelasin ini sama Mas," ucap Kirana.
Kevin pun tersenyum, sayangnya senyuman Kevin menyulut emosi Kirana.
"Kenapa Mas tersenyum?" tanya Kirana geram.
"Enggak Bun, Bunda jangan tersinggung ya. Mas merasa aneh aja. Mas ni kan nggak peka, tapi berhubungan dengan kalian bertiga sungguh membuat Mas seperti kehilangan akal sehat," jawab Kevin.
"Tapi Mas yakin kan kalau energi itu ada?" tanya Kirana.
"Dulu enggak, tapi sejak kenal Bunda dan mempelajari Sena, sekarang Mas percaya," jawab Kevin. Kirana masih mendengarkan ucapan Kevin. Tapi bau harum bunga melati begitu kental dia rasakan, Kirana pun berdiri dan menagkupkan tanganya seperti sedang memberi hormat pada seseorang. Ya Tuhan dia aneh lagi batin Kevin. Kevin tak melakukan itu, dia hanya bediri dan menunduk.
"Mas, Ibu Ratu udah pergi. Mari kita masuk ke tempat Sena," ajak Kirana.
Kevin pun menurut dan mengikuti langkah Kirana.
"Hay cantiknya Bunda," sapa Kirana.
"Hay Bunda, hay Papi ..." balas Kirana.
Mereka pun saling memeluk.
"Bunda tadi ada itu ...!" ucap Sena, Kevin pun diam, ternyata Kirana tak bohong. Buktinya Sena pun cerita yang sama.
"Iya Bunda tahu, emang sejak kapan Sena sama Ibu Ratu temenan?" tanya Kirana.
"Sena baru ketemu tadi Bun,"
"Oh, Ibu Ratu bilang apaan?" tanya Kirana.
"Enggak cuma bilang Sena anak baik, Sena anak cantik." jawab Sena lugu.
"Ohh,"
"Bu Ratu bilang, Papi cakep!" ucap Sena lugu. Kirana malah tertawa mendengar ucapan lugu putrinya.
"Kok Bunda ketawa, apa lucunya?" tanya Kevin bingung, mukanya terlihat cute saat lugu.
"Enggak Bunda hanya aneh aja, ternyata yang terpesona ama Mas bukan hanya kami yang punya wujud. Yang nggak punya wujud juga pada naksir ama Mas. Kayak itu ya dek, miss K yang di rumah sakit. Ampek ngejar ke rumah hahahaha," jawab Kirana, Sena pun ikutan tertawa membuat Kevin terlihat bodoh.
"Bunda apaan sih," ucap Kevin ngambek.
"Udah resiko Pak Dokter punya anak ama istri yang peka," jawab Kirana lucu. Kevin malas dijadikan bahan lelucon oleh Kirana dan Sena. Dia oun memilih merebahkan tubuhnya di ranjang Sena.
__ADS_1
"Aahh ... nggak tahu lah, Papi mau bobo aja. Suka suka Bunda ama Kakak aja. Papi ma nggak mau tahu," ucap Kevin pasrah. Kirana dan Sena pun kembali menertawakan keluguan Kevin menurut mereka.
Bersambung...