
"Ran, tadi kamu seriusan?" tanya Lusi heran.
"Seriusan apa bu?" sebenernya Rana tau apa yang dimaksud Lusi, dia hanya pura pura tak mengerti.
"Dia sering loh Ran kayak gitu," ucap Lusi.
"Terus ibu apain?" tanya Rana.
"Biasanya aku panggilin ustadz yang digang sebelah, sembuh sih tapi gitu lagi gitu lagi," jawab Lusi dengan muka takut plus heran.
"Nanti habis ini ibu undang pengajian aja, kalau ga keberatan tujuh malem ya bu, soalnya energi disini nyampur, tadi begitu saya masuk wah banyak mata memandang hehehehe," ucap Rana sambil tertawa pelan.
"Mata memandang, maksud kamu apa Ran asisten ku ngliatin kamu gitu?" tanya Lusi masih bingung.
"Bukan itu bu, jadi disekitaran rumah ibu banyak mahkuk tak kasat mata, salah satunya yang iseng tadi," jawab Rana, seketika Lusi paham apa yang dimaksud Rana.
"Kamu serius Ran ada yang begituan, kirain mbak ku yang tadi bawa bawa dari kampung, maksudku dia emang udah diikutin dari kampung nya sana," duh jawabanya Lusi terkesan bodoh dan oon bagi Rana, Rana pun tertawa pelan.
"Astaga, sebentar bu tolong jaga Sena," ucap Rana, kemudian dia langsung berdiri dan keluar duduk dibalkon.
Hampir sepuluh menit Rana berdiam diri disana, kemudian dia pun masuk dengan keadaan yang sedikit menyedihkan.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Lusi.
"Bu, disekitar sini pernah ada pembunuhan ga?" tanya Rana.
"Wah aku ga tau Ran, soalnya aku beli rumah ini juga baru," jawab nya.
"Berapa lama ibu tinggal disini?" tanya Rana.
"Dua tahunan lah Ran,"
__ADS_1
"Entah percaya apa tidak, dibalkon kamar ibu ada arwah sesosok wanita korban pembunuhan bu, dia barusan menarik saya kesana, dia bercerita pada saya untuk mencari pelaku yang membunuhnya, tapi ga mungkin kan rasanya kejadian nya sudah terlalu lampau, suara tangisan dia yang sering didengar oleh mbak yang tadi," ucap Rana, meski bingung tak menyangka Lusi berusaha mengerti.
"Dia jahat ga Ran?" tanya Lusi.
"Sebenernya ga bu, dia hanya mau keadilan untuknya, serta menyampaikan keinginan nya," jawab Rana.
"Banyak banget ya Ran dimari?" tanya Lusi mulai merinding ketakutan, dia melihat sekeliling seperti mengabsen setiap sudut ruangan nya.
"Lumayan bu, tapi udah berkurang dua, kalau saran Rana sih ya tadi, kalau sholat disebut aja, didoain biar adem, nanti Rana bantu komunikasinya biar ga ganggu," jawab Rana.
"Ran, kamu serius bisa begituan?" tanya Lusi masih saja heran.
"Insya Allah bu, ini semua kan titipan Allah biar bisa bantu sesama bantu mereka juga yang masih nyangkut, semoga mereka segera berproses dan mendapat jalan yang terang serta pergi dengan tenang, agar tak mengganggu kita yang masih lengkap ini," jawab Rana mantap, Lusi kembali merinding, dan memeluk Sena erat erat, "Sakit aunty," ucap Sena.
"Ohh, maaf sayangku aunty pikir guling ni tadi, habis Sena diam aja," jawab Lusi sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Bunda dia datang lagi," seru Sena.
"Itu bunda," tunjuk Sena dijendela kamar Lusi.
"Kalau dia ga ganggu dek, biarin aja dia yang jaga rumah ini," jawab Rana, Sena masih saja menatap keluar karena dia juga takut.
"Udah jangan dilihatin sayang," pinta Rana lalu mengambil Sena dari pangkuan Lusi.
"Dia bisa lihat juga Ran?" tanya Lusi heran pada mereka berdua.
"Bisa bu, dia malah lebih peka dari saya, cuma dia belum bisa memilih mana yang energi nya baik mana yang jahil, paling dia cuma kasih tau bunda disitu ada ini disana ada itu, gitu doang paling kalau dulu sebelum ketemu saya dia bisa nangis histeris karena takut," jawab Rana menjelaskan apa yang sebenernya terjadi pada mereka berdua, Lusi masih saja berusaha menerima apa yang dimiliki Rana dan Sena.
"Apa mereka serem serem Ran?" Lusi kembali penasaran.
"Ada yang serem bu, ada juga yang enggak, kalau yang masuk ke mbak nya ibu tadi serem banget, wujudnya miss kun, bau karena belakangnya rusak, wajahnya juga nakutin, serem deh pokoknya, kalau yang barusan ngobrol ama Rana enggak, dia cantik cuma tubuhnya penuh darah karena kan emang diperkosa udah gitu dibunuh lagi, kalau yang tinggi besar ini wujudnya seperti kita cuma tingginya melebihi rumah ini cuma cowok bu," jawab Rana menjelaskan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Apa aku pindah rumah aja ya Ran?" Lusi merinding mendengar jawaban Rana.
"Dimana tempat itu pasti ada bu, yang penting kita doain mereka aja biar ga ganggu, terus jangan ninggalin sholat, minta selalu perlindungan sama Allah, Insya Allah aman, belum tau aja ibu sosok yang ada dibutik lebih serem bu," ucap Rana, eh keceplosan dia.
"Hah, dibutik juga ada?" Lusi terkejut.
"Tanya deh ama Sena!"
"Beneran dek dibutik aunty ada begituan nya?" tanya Lusi pada Sena, Sena hanya menjawabnya dengan angukan, terlihat dia mulai mengantuk.
"Dia ngantuk bu," bisik Rana.
"Iya Ran dia ngantuk," balas Lusi.
"Eh Ran, seriusan ini, jangan bikin aku mati panasaran, beneran di butik ada juga?" cecar Lusi.
"Ada bu, tapi kalau dibutik seringnya dari gedung sebelah, kalau yang dibutik sendiri sosoknya cantik bu, bule, Rana ga ngerti kalau dia ngajak ngobrol, hantu belanda bu," jawab Rana, sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Iya Ran, dulu butik kita itu emang bekas bangunan peninggalan Belanda, pas sebelum revormasi di renov, ama papah ku dibeli dan diberikan padaku satu unit, disana beneran banyak Ran?" Lusi kembali mencecar Rana.
"Banyak bu, tapi ga usah terlalu dipikirin dunia mereka sama dunia kita kan beda, biarkan saja asal ga ganggu kayak yang tadi," ucap Rana.
Lama mereka berbincang bincang, Lusi terkagum kagum akan apa yang Rana miliki, terlebih Rana sangat bijaksana dalam menjawab semua pertanyaan yang Lusi ajukan.
Lusi pun menuruti saran Rana agar rumahnya tetap adem dan nyaman, Lusi berharap meski hidup berdampingan dengan mereka tapi suasana tetap aman dan nyaman.
Rana hendak berpamitan keluar untuk kembali ke kamar yang Lusi pinjamkan untuknya, tapi Lusi masih penasaran dan ingin mengobrol, maka khusus malam ini Sena dan Rana dia minta tetap menemaninya.
Lusi sudah ga takut lagi karena Rana mengemas ceritanya dengan bahasa yang khas dan kocak serta tidak semenakutkan apa yang selama ini ada dipikiran nya, bahkan Rana pun memberi beberapa amalan surat surat pendek yang mampu menjaganya jadi gangguan jin dan manusia, selebihnya serahkan pada pemilik hidup.
Bersambung...
__ADS_1