
Dua hari berlalu....
Sena sudah diijinkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Sena terlihat sedikit takut saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Papi Sena takut!" ucap Sena sambil memeluk erat leher papinya.
"Ga papa sayang, Papi sama Bunda ada bersamamu. Semua akan baik baik saja anak manis. Mobil papi aman kok, kamu lihat om om yang pakai baju hitam itu. Mereka teman teman papi sayang, mereka juga jagain mobil papi supaya ga di nakalin sama bapak jahat," ucap Kevin berusaha menenangkan putrinya.
"Ga pa pa kan Pi, Papi janji akan jagain Sena sama Bunda kan?" tanya Sena sambil menatap mata papinya. Sena anak yang cerdas, pasti dia tak akan percaya begitu aja pada seseoranh walaupun itu adalah orang tuanya sendiri.
"Iya sayang, Papi akan jaga Sena dan Bunda. Papi janji," jawab Kevin sambil mencium kening putrinya.
"Ayo Bun," ajak Kevin sambil membukakan pintu untuk sang istri.
"Terima kasih suamiku" balas Kirana. Kevin pun tersenyum.
Didalam mobil, Kevin masih terus memangku dan memeluk sang putri. Sejak tragedi itu rasa cinta Kevin kini berubah menjadi lebih posesif. Dia sangat khawatir akan keselamatan Sena. Tak henti hentinya Kevin mencium kening gadis cilik yang ada dipangkuannya ini.
"Bun, bulan depan Papi pindah tugas ke Surabaya. Bunda sama Sena ga keberatan kan ikut papi pindah ke sana?" tanya Kevin tiba tiba. Kabar ini sedikit mengejutkan Kirana, soalnya Kevin pernah bilang kalau masa kerjanya di Bali masih setahun lagi.
"Ga papa Pi, kami akan ikut kemanapun Papi pergi, ya kan Dek," jawab Kirana sambil memegang tangan putri cantiknya.
"Iya Sena mau sama Papi," jawab Sena. Sena merasakan kenyamanan yang luar biasa. Berada di pelukan orang tua kandungnya. Dulu Sena sering memimpikan ini, bisa di peluk oleh papinya. Bermanja manja di sana, dan kini Tuhan menjawab keinginan sederhananya.
Mobil yang membawa mereka pun sampai dengan selamat di kediaman Kevin. Kevin masih saja menggendong putrinya. Dan Sena sangat menyukai ini.
"Adek istirahat dulu ya ditemenin mbak Lilik. Papi mau ngobrol ama bunda bentar oke," ucap Kevin. Sena pun mengangguk tanda setuju. Kevin mencium kening sang putri dan meminta asisten rumah tangga yang sudah lama kerja dengannya ini.
Kevin dan Kirana masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas..."
"Heemm,"
"Mas terlihat sangat risau, ada yang Mas pikirkan kah?" tanya Kirana sambil duduk di samping Kevin.
"Iya Bun, ini soal kematian Denada dan kedua orang tua Mas," jawab Kevin jujur.
__ADS_1
"Maksud Mas?" tanya Kirana.
"Mas merasa kematian mereka karena sabotase sayang, coba kamu ingat ingat lagi apa yang pernah Rani ucapkan padamu?" Kevin mulai bisa terbuka dengan apa yang menganggu pikirannya.
Kirana menatap tak percaya pada suaminya, pikirn Kirana masih belum bisa menangkap maksud sang suaminya.
"Apakah Rani mengatakan sesuatu tentang kematiannya Bun?" tanya Kevin, agaknya Kevin mulai percaya bahwa Rani adalah Denada.
"Rani hanya mengatakan kalau dia sangat mencintaimu suamiku. Dia dijebak untuk melayani klien bosnya dan ..." ucap Kirana sambil mencoba mengingat apa yang pernah Rani ucapkan padanya.
"Dan apa Bun?" tanya Kevin.
"Kalau Bunda ga salah, Rani pernah bilang kalau bosnya mengancamnya akan menghabisi kalian semua. Makanya dia mau melakukan itu," jawab Kirana, kembali muka Kirana terlihat serius.
"Bunda yakin dia ngomong begitu?" tanya Kevin memastikan.
"Bunda yakin Mas dia bilang begitu ... andai saja Rani punya buku harian, atau paling tidak pesan chat atau apalah yang bisa membuktikan dirinya diancam," ucap Kirana, Kevin menatap tak percaya Kirana bisa punya pemikiran yang sama dengannya.
"Bun, coba Bunda lihat," ucap Kevin sambil menunjukan pesan tagihan ponsel milik Denada.
Kirana membaca pesan itu dengan teliti, "Denada Maharani," gumam Kirana sambil menatap sang suami.
"Pantesan dia bilang namanya Rani, nama belakangnya coba Mas baca," ucap Kirana, Kevin pun melihat lagi ponselnya. Dia pun ikutan tak percaya dengan ini.
"Apakah mungkin hantu bisa berbohong Bun?" tanya Kevin.
"Hantu juga mirip kita gini Mas, bisa aja mereka bohong. Tapi untuk kasus Rani sepertinya dia ga bohong, mungkin saja itu panggilan dia saat kecil. Atau keluarga kandungnya menanggilnya begitu. Mas kenapa ga mencoba mencari tahu lewat keluarga kandungnya?" tanya Kirana.
"Denada di asuh oleh seseorang yang menemukanya ketika terlepas dari orang tuanya Bun. Sayangnya sang nenek yang membesarkannya sudah meninggal, jadi dia tak punya keluarga inti. Itubsih yang Mas tahu tentang dia. Soal ini dia juga tak bohong Bun, dulu waktu Mas di jodohkan sama dia keluarga Mas tahu kok sejarah tentang dia. Soalnya papa kenal dekat dengan nenek yang mengasuh Denada, " ucap Kevin menceritakan sedikit tetang masa lalu mendiang istrinya.
"Agak rumit ya Mas," balas Kirana, tak dipungkiri saat ini pikiran mereka sama sama bergelut dengan kata mungkinkah dan mungkinkah.
"Kalau udah gede kemungkinan dia tahu keluarga kandungnya Mas, apakah dia ga pernah kasih tahu nama ibuk bapaknya Mas?" tanya Kirana.
"Enggak Bun, soalnya pas ditemukan Denada dalam keadaan koma. Dia sempat hilang ingatan," jawab Kevin.
"Ya Tuhan miris banget nasibnya."
__ADS_1
"Makanya Mas menyesal, sedari kecil dia sudah menderita Bun. Punya suami pun bodoh macam Mas.Tak bisa menjaganya, Ya Tuhan Denada maafkan suami bodohmu ini," ucap Kevin, kembali rasa sesal itu menghantuinya.
"Kita doakan dia terus saja Mas, biar jalannya terang menuju keabadian. Insya Allah sekarang Denada sudah bahagia, kan Sena udah ada yang jaga. Kita ya kan," ucap Kirana sambil mengelus pundak sang suami.
"Dosa Mas terjadap Denada teramat banyak Bun. Dan Mas menyesal," ucapnya lagi.
"Bunda ngerto sayang. Kalau memang kematian Denada disabotase kita harus menghukum mereka Mas. Kirana bisa bantu apa?" tanya Kirana.
"Bunda serius mau bantu Mas?" tanya Kevin.
"Tentu suamiku, aku istrimu dan aku juga mencintaimu," jawab Kirana mantap. Mata Kevin memang menangkap binar cinta dari mata sang istri. Dan itu adalah hal terbaik dalam hidupnya.
Kevin mendekatkan wajahnya dan mulai mencari bibir pemilik hatinya. Kevin memberikan kecuoan sekilas di sana. Kirana hanya membalasnya dengan senyuman.
"Mas capek sayang," ucap Kevjn sambil merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Kirana sebagai bantalnya. Jika dipikir pikir ini adalah posisi favorit sang suami. Kirana pun tanggap keinginan Kevin, jari jemarinya pun mulau menari di kepala sang pangeran hati.
"Bun ..."
"Hemm,"
"Mas besok mau ke Surabaya ya, Mas mau periksa barang barang peninggalan Denada. Siapa tahubkita dapat petunjuk," ucap Kevin.
"Boleh ga masalah, tunggu ..."
"Apa Bun,"
"Bukankah barang barang Denada sebagian ada di lantai atas?" ucap Kirana mengingatkan.
"Oia ya ..." sepertinya Kevin lupa.
"Kenapa kita ga coba mulai mencari dari sana Mas!"ajak Kirana.
"Boleh Bun kenapa enggak," balas Kevin. Seolah semangatnya mendapat amunisi, Kevin pun bangkit dari pembaringannya dan mengajak Kirana naik ke lantai atas rumahnya di mana barang barang Denada dia simpan.
Bersambung....
CA :"Like dan komennya tetep ema nanti ya... Yang belum kenalan sama Mamas Yudha dan Mbak Arumi boleh banget main kerumah mereka, siapkan tisu dulu, oke😘."
__ADS_1