SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Bertemu Ibu


__ADS_3

Kirana sedang mempersiapkan kamar untuk orang paling istmewa dalam hidupnya. Orang yang lama dia rindukan, orang yang pernah dia nilai buruk. Karena meninggalkannya tanpa kabar.


Kesalahpahaman yang ternah tertancap dalam hatinya seketika sirna. Mana kala dia tahu dan bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi.


"Semua sudah siap, Bun?" tanya Kevin.


"Sudah Mas, tinggal pasang sprei aja," jawab Kirana.


"Ya udah biar mbak nya aja yang pasang. Kita harus ke Bandara, Bunda. Bentar lagi pesawat ibu mendarat loh," ucap Kevin memperingatkan.


"Oke, Bunda ganti baju bentar ya, Mas!" jawab Kirana.


Kevin pun mempersilakan istrinya untuk menganti pakaian sesuai yang istrinya kehendaki. Kirana tak ingin terlihat jelek di mata ibunya. Dia ingin membuat wanita yang melahirkannya bangga padanya.


Dalam perjalanan menuju Bandara, jantung Kirana susah dikendalikan. Bagaimana tidak ini adalah pertama kalinya dia akan bertemu dengan ibu kandungnya setelah hampir dua belas tahun tidak bertemu.


Ada perasaan takut sang ibu tidak mengenalinya. Dan itu wajar bukan.


"Jangan tegang gitu istriku, harusnya kamu bahagia," ucap Kevin sambil mencium tangan istrinya.


"Aku takut ibu nggak ngenalin, Bunda, Mas," jawab Kirana jujur.


"Kamu cantik istriku, pasti ibu ngenalin lah. Wajahmu sangat mirip dengannya," ucap Kevin apa adanya.


"Benarkah?" tanya Kirana sambil memegang pipinya.


"Iya sayang, kamu persis dengan Ibu, bahkan Bunda dan Sena pun mirip," goda Kevin.


"Mas, bikin Bunda malu ih,"


"Enggak sayang, ngapain malu. Kenyataanya kan begitu!" ucap Kevin lagi.


Kirana memang cantik bahkan sangat cantik. Wajah Kirana sangat adem jika dipandang. Bahkan, jika orang tahu kelembutannya maka orang akan lebih jatuh cinta padanya. Kevin melirik wajah ayu sanh istri, senyum mengembang di wajah tampannya.


"Kenapa Mas ngliatin Bunda segitunya?" tanya Kirana.


"Enggak, Bunda cantik banget," goda Kevin.

__ADS_1


"Gombal," jawab Kirana.


"Serius sayang,"


"Mas, Bunda pengen nanya nih?" ucap Kirana.


"Nanya apa sayang!"


"Biasanya kalau wanita dinyatakan hamil itu cirinya gimana?" tanya Kirana.


"Ya, pastinya telat datang bulannya. Terus suka muntah, pusing juga. Ada juga yang nggak ngrasain gejala seperti itu. Tapi kalau telat datang bulan biasanya sih positif," jawab Kevin.


"Ooo,"


"Bunda telat?" tanya Kevin.


"Iya, Mas. Udah hampir 10 hari tamunya nggak dateng-dateng," jawab Kirana. Kevin melirik tak percaya pada apa yaang istrinya ucapkan barusan.


"Serius, Bunda?" tanya Kevin memperjelas pernyataan istrinya.


"He em, Mas. Biasanya Mas malah paling tahu jadwal tamu bulanan Bunda kan," ucap Kirana memperjelas pernyataannya barusan.


"Apa Mas bahagia?" tanya Kirana.


"Tentu saja ratuku. Nggak ada yang lebih indah dibanding ini. Mas pikir, Mas akan selamanya sendiri. Tanpa Sena, tanpa Bunda. Mas pikir Mas akan selalu tersesat dalam ego yang tak jelas itu sayang," ucap Kevin bahagia. Lagi lagi pria tampan ini menciumi tangan sang pemilik hatinya.


"Kalau ingat Sena waktu Mas tolak dulu kasihan sekali ya Mas. Bunda bawa dia naik motor butut. Pakek jaket, helm dan masker. Bunda, ajak kemanapun Bunda pergi, anak itu jantung hatiku Mas," jawab Kirana mengeluarkan isi hati yang dia rasakan untuk Sena.


"Mas, rasa Sena juga merasakan hal yang sama seperti yang Bunda rasakan. Mas yakin itu," ucap Kevin.


Mobil yang di kendarai Kevin pun sampai dengan selamat di Bandara Juanda kota Surabaya.


Kevin mengandeng mesra tangan istrinya. Tangan Kirana terasa sangat dingin. Mungkin dia gugup, menurut Kevin ini sangat wajar.


"Bunda, gugup kah?" tanya Kevin.


"He em," jawab Kirana. Kevin tersenyum karena tebakkanya tak meleset.

__ADS_1


Kirana dan kevin sekarang sudah berada di pintu kedatangan domestik. Waktu begitu cepat berlalu, hingga semuanya terasa begitu cepat.


Kevin merangkul istri kecilnya agar tetap bersabat dan tegar saat nanti sudah berjumpa dengan ibu tercintanya.


Hampir lima belas menit mereka menunggu. Akhirnya orang yang mereka tunggu pun datang. Sahabat Kevin terlihat clingukan mencari orang yang hendak menjemutnya.


"Vin!!" panggilnya.


Kevin yang mendengar seseorang memanggilnya pun langsung mencarinya. Benar saja itu adalah sahabatnya yanv membawa serta ibu mertua yang di carinya.


"Surya ..!" saut Kevin. Surya dan Kevin pun saling mendekat dan berpelukan. Sedangkan Kirana dan wanita paruh baya yang disinyalir sebagai ibunya hanya saling menatap penuh kerinduan.


Surya dan Kevin sangat tahu bahwa Kirana dan ibunya terlihat canggung.


"Ibu Sunarsih, sini!" pinta Surya. Pria itu mengandeng tangan wanita paruh baya itu dengan kembut.


Mata Kirana berkaca kaca, dia tak sanggup lagi menahan perasaanya.


"Ibu kenal dia?" tanya Surya pada Ibu Sunarsih. Wanita itu pun mengeluarkan buku kecil dan sebuah pena.


Wanita itu menulis "Rani," yang artinya itu adalah nama anak pertamanya.


"Dia menulis RANI," ucap Surya membaca tulisan ibu Sunarsih.


"Bukan Bu, ini Rana," jawab Kirana.


Kemudian Ibu Sunarsih pun menulis lagi dibukunya."Siapa Rana?"


Agaknya Surya tak ingin menyakiti Kirana dia pun memberikan catatan itu pada Kevin.


"Bu, ini Rana adeknya Rani. Ibu masih ingat nggak. Anak ibu juga?" tanya Kevin lembut pada ibu Sunarsih. Wanita paruh baya ini terlihat linglung. Mungkin rasa bersalah telah lalai menjaga Ranilah yang membuatnya lupa dan hanya mengingat satu nama yang membuatnya terus merasa bersalah.


Kevin menarik tangan istrinya, mengajaknya agak menjauh.


"Bun, jangan sedih ya. Sepertinya rasa bersalah ibu pada kakakmu membuatnya hanya ingat satu anaknha saja. Mas harap Bunda bisa memaklumi ini. Kita bawa ibu pulang dulu, nanti kita cari psikiater yang bisa bantu ibu. Gimana?" ucap Kevin berusaha meminta kebesatan hati istrinya sekali lagi. Kirana tak biaa berkata apapun selain menurut apa yang dikatakan suaminya.


"Baiklah Mas, Bunda akan bersabar untuk ini," jawab Kirana yakin. Dia kecewa sih, pastilah itu. Tapi untuk memaksa jiwa seseorang yang terluka kan nggak mungkin.

__ADS_1


Kirana pun meraih tangan ibunya dan menciumnya. Kirana mempersembahkan senyum termanisnya. Bu Surnasih pun menyambut pelukan dan senyuman Kirana dengan perasaan bahagia.


Bersambung...


__ADS_2