SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Tidak Singkron


__ADS_3

Aldo melajukan kendaraanya dengan tenang. Ingin rasanya saat ini dia pergi dimana Lusi berada. Meminta maaf pada wanita itu, karena tanpa sebab yang pasti dia telah menyakiti hati Lusi. Tetapi rasa gengsinya lagi lagi menyelimuti pikiran Aldo.


Aldo memarkirkan kendaraannya di pinggiran pantai di kawasan Jimbaran Bali. Berjalan menelusuri sisi pantai yang damai. Di sana banyak sekali sepasang kekasih yang sedang memadu kasih bersama. Aldo semakin gundah mana kala ingatannya akan Vivian dan dia sering pergi ke tempat ini untuk sekedar menikmati angin malam.


Aldo duduk termenung di salah kursi yang tersedia di sana. Angin malam ini membuat Aldo semakin gundah, ditambah lagi pemandangan yang sedikit menyesakkan dadanya. Keraguan akan kenyataan yang ada membuat Aldo tak percaya akan pilihan hatinya.


Aldo membuka lagi aplikasi di ponselnya. Menatap layar ponsel miliknya, kali ini bukan Lusi yang menjadi fokusnya. Tapi mantan istrinya atau lebih tepatnya adalah ibu dari putri kecilnya.


"Vi, apakah kamu marah jika seandainya aku menduakanmu?" tanya Aldo pada foto yang ada di layar ponsel itu.


"Putri kita membutuhkan sosok seorang ibu Vi, dan itu ada di dalam diri wanita yang tak ku kehendaki. Eh tidak, aku ingin dia juga Vi. Tapi aku takut menyakitimu," ucap Aldo lagi. Aldo mengusap kasar air mukanya. Pikiran bimbang itu kembali melintas. Antara maju atau mundur, antara melangkah atau jalan di tempat.


Aldo mengelus lembut layar ponselnya, tak terasa air mata kebodohannya meluncur begitu saja. Ingin rasanya dia tetap bertahan dalam kesendiriannya. Hingga nanti waktu akan menjemputnya bertemu dengan Vivian. Kekasih pertama dan terakhir yang Aldo inginkan. Tapi apa sekarang hah ... hati dan pendiriannya goyah hanya karena kedatangan seseorang yang baru kenalnya.


Aldo memejamkan tanyanya dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menata kembali hatinya. Memantapkan hatinya pada pilihan pertamanya. Tetap bertahan dalam kesendiriaannya sampai waktu yang akan mempertemukannya kembali dengan Vivian. Cinta pertama sekaligus terakhir menurutnya. Oke fix Aldo itu pilihanmu maka jangan goyah lagi batin Aldo menguatkan pemikirannya sendiri.


Setelah memantapkan pilihan hatinya. Aldo pun beranjak dari tempat duduknya, mencoba bangkit dan menyemangati dirinya sendiri untuk tetap bertahan dengan kesendiriannya. Membesarkan Viola sendiri dan mencintai serta memiliki Viola sendiri. Dan ya ... Aldo sudah yakin dengan itu.


Aldo masuk ke dalam mobilnya kembali, bersiap untuk pulang dan menjaga putrinya sendiri seperti malam malam sebelum ini. Aldo tesenyum kecut, keyakinan yang barusan dia dapat seolah menjadi amunisi tersendiri baginya.


Aldo menginjak pedal gasnya dengan sempurna, lamunannya tersentak mana kala dia mendengar ponselnya berdering. Novi menghubunginya, di tengah malam begini, ada apa?. Ini tak seperti biasanya batin Aldo.


Aldo pun mengangkat panggilan telpon itu serta menjawabnya, "Ya Nov. Ada apa?" tanya Aldo.


"Bang, Vio sakit, Novi bawa rumah sakit sekarang. Vio muntah terus Bang, badannya panas," ucap Novi gugup.

__ADS_1


"Apa, kok bisa Nov," jawab Aldo khawatir.


"Nggak tahu Bang, dari pas Abang berangkat tadi Vio udah sumeng Bang," jawab Novi lagi.


"Ya udah Abang nyusul, di rumah sakit tempat Abang kan?" tanya Aldo.


"Iya Bang!" jawab Novi. Aldo dan Novi pun mengakhiri percakapan mereka. Aldo juga langsung putar arah kembali ke rumah sakit di mana dia bekerja.


***


Lusi berlari mencari ruang UGD, barusan dia mendapat kabar bahwa salah satu pekerjanya di kabarkan jatuh dari motor saat mengambil barang yang dibutuhkan butiknya. Kabar kecelakaan itu dia terima dari Kirana yang saat ini sedang berada di Surabaya untuk menghadiri event yang diadakan oleh persatuan butik seJawa dan Bali.


Terpaksa Lusi harus mengurus sendiri jika ada urusan mendadak seperti ini.


Lusi menunggu tepat di depan pintu UGD rumah sakit itu. Lusi terlihat gugup dikarenakan saat ini dia sendiri.


Novi menangis sambil mencium baby mungil yang ada di gendongannya. Baby yang ada di gendongan Novi yang tak lain adalah Viola. Ada apa dengan anak itu Tuhan.


Lusi melangkahkan kakinya untuk mendekati Novi yang sedang menangis meminta pertolongan dokter untuk keponakannya. Tetapi sayang, langkah itu terhenti mana kala dia ingat ucapan Aldo tadi siang. Aldo tak menginginkan Lusi mendekati keluarganya terlebih putrinya.


Lusi menatap nanar ke arah Novi dan Bu Dewi. Mereka berdua kembali manangis mana kala tak diizinkan menemani Viola. Gadis kecil itu kini sendirian melawan mautnya. Lusi menangis membayangkan ini. Ingatannya akan Thania putrinya kembali melintas.


Ah ... tidak, untuk apa aku memikirkan ucapan pria tak berperasaan itu hah. Mumpung Viola masih ada, aku akan menemaninya walaupun ayahnya melarangku. Persentan dengan prasangka buruknya padaku batin Lusi.


Lusi melangkahkan kakinya kembali menuju tempat dimana Novi dan Bu Dewi menangis sambil berpelukan.

__ADS_1


"Tante, Mbak Nov, apa yang terjadi?" tanya Lusi.


"Vio Mbak, Vio ... dia muntah, panas dan tak sadarkan diri," ucap Novi sambil menangis tersedu-sedu. Bu Dewi pun sama, dia malah tak sanggup berkata-kata.


Lusi memeluk wanita paruh baya itu dan mencoba menenangkannya.


"Sabar ya Tant, semua akan baik baik saja. Viola pasti bisa melewati ini," ucap Lusi menguatkan.


Tak lama Aldo pun datang, dia terlihat gugup. Masalah kesehatan Vio belum dia ketahui malah ketemu lagi ama perempuan yang membuatnya gundah seharian ini.


"Nov, Vio kenapa?" tanya Aldo.


"Vio panas Bang, muntah dan tak sadarkan diri!" jawab Novi. Aldo diam, tak lama Dokter yang menangani Viola pun keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana putri saya Dok?" tanya Aldo pada Dokter yang menangani Viola.


"Sepertinya lambungnya bermasalah Pak Al, apakah tadi siang dia kebanyakan meminum susu?" tanya Dokter itu.


"Kebanyakan, maksud Dokter?" tanya Lusi tiba tiba menyela. Karena lucu aja kalau seorang bertanya begitu.


"Begini nyonya, kami masih berusaha memeriksa keadaan perutnya. Sepertinya ada yang kurang beres dengan pencernaanya. Saya rasa susu yang dia konsumsi tak bisa diterima baik oleh tubuhnya." jawab Sang Dokter. Seketika Aldo menatap penuh kebencian pada Lusi karena tadi siang Lusi lah yang menyuapi putrinya susu, dan itu di depan matanya.


"Kami pakek produk susu seperti biasa Dokter, dan selama ini baik baik saja," jawab Bu Dewi.


"Kami belum bisa menjawab soal itu Bu. Kami akan memberi tahu anda jika hasil lab sudah keluar. Untuk sementara itu dulu yang bisa saya sampaikan. Jika ada pertanyaan bisa hubungi tim kami. Permisi Pak Al," ucap Dokter itu berpamitan.

__ADS_1


Aldo diam, tetapi tatapan mata penuh kebencian pada Lusi belum berubah. Tatapan mata itu makin tajam mana kala Lusi ikut masuk kedalam ruang dimana Viola dirawat.


Bersambung...


__ADS_2