SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Ada Om


__ADS_3

Kirana dan Sena sudah siap dengan koper mereka, setelah selesai cek in Rana menggendong Sena naik eskalator menuju ruang tunggu keberangkatan, Sena gadis pendiam itu pun hanya memeluk pasrah pada ibu angkatanya, kadang tanpa Sena ketahui Rana sangat sedih jika Sena seperti itu.


Dari pelukan tangan mungil itu Rana merasa Sena sangat membutuhkannya, Sena sangat berharap dia bisa menemaninya sampai kapanpun, itu sih yang Rana rasakan.


Rana menurunkan anak cantik yang ada digendonganya tepat dikursi duduk penumpang sebelum mereka dipanggil untuk boarding pass.


"Sena laper ga sayang?" tanya Rana.


"Enggak bunda, Sena cuma haus!" jawabnya.


"Oke, ini mimiknya (Rana membukakan tutup botol minum itu dan memberikanya pada anak gadisnya) kalau mau apa apa bilang ya sayang jangan di tahan, bunda suapin kue yang yang tadi mau?" tanya Rana lagi, Rana memang teramat sayang sama anak asuhnya ini, boleh dikatakan saat ini Sena adalah hidupnya.


"Mau bunda, tapi mam sediri ya," jawab Sena sambil mengambil sendok dari tangan Rana dan menyuapkan sendiri kemulutnya.


Rana kembali trenyuh ketika tangan munggil itu mulai menyuap kue itu," Ya Allah kenapa hamba selalu merasa sesedih ini jika menatap wajah lugu anak ini, berilah hamba umur panjang ya Allah, berilah hamba rejeki yang melimpah ya Allah agar hamba bisa menjaga dan membahagiakan titipanmu ini," doa Rana dalam hati, bahkan saat ini mata Rana berkaca kaca.


Tanpa sengaja Sena menangkap kesedihan Rana dari ujung matanya, Sena pun menoleh dan berkata," Bunda nangis!"


"Enggak sayang, siapa bilang bunda nangis?!" jawab Rana berbohong.


"Itu ada air matanya!" anak ini memang cerdas, dia tak bisa dibohongi memang.


"Enggak cantik bunda cuma klilipan debu ni, oia pakek jaketnya sayang, ntar dipesawat dingin lo!" ucap Rana mencoba mengalihkan perhatian Sena, Sena hanya menurut dan mengenakan jaketnya.


Rana merapikan tempat makan Sena dan mengelap mulut gadis itu, Sena tertegun tak berkedip, seperti biasa sama seperti saat melihat mahluk tak kasat mata.


Rana sudah tak heran jika Sena bersikap seperti itu, "Adek kenapa sayang?" tanya Rana, tapi masih dengan nada biasa.


"Bunda,"


"Hemmm," Sena malah langsung memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya didada Rana.


"Ada apa cantik heemm, Sena lihat yang serem kah?" tanya Rana lagi.

__ADS_1


"Bukan bunda!"


"Lalu kenapa adek sembunyi?"


"Ada om!" jawab Sena pelan, tapi Rana mendengar dengan jelas, Rana langsung memeluk anak tak bersalah ini.


Mereka berdua terdiam sejenak, Rana menoleh kekanan dan kekiri, saat menoleh kebelakang mata Rana menangkap siapa yang di maksud putrinya, benar sekali apa yang dikatakan Sena bahwa di melihat papinya dikursi belakang dimana mereka duduk.


Rana tak takut jika Kevin akan melihat mereka, toh bukan dia yang sengaja membawa Sena kehadapannya.


Rana memakai tas slempang nya dan menenteng paperbag berisi makanan dan cemilan Sena, entah kenapa seketika hati Rana terasa sakit ketika melihat wajah tampan orang tua gadis yang sekarang ada digendongan nya.


Rana membawa Sena menuju pintu boarding pass karena pesawat yang akan membawa mereka menuju Bali akan segera berangkat.


Sena semakin erat memeluk leher Rana, tanpa Rana ketahui Sena sedikit mengintip keberadaan ayah kandungnya, mau setakut dan sebenci apapun namanya anak pasti punya rasa cinta, kangen pada orang tuanya. Pada dasarnya anak dan orang tua tetap memiliki ikatan batin entah itu disadari apa tidak.


Rana menurunkan Sena digarbarata dan menggandengnya, Sena sudah tak berani melihat kebelakang lagi, takut nanti Rana akan menanyainya.


"Seneng bunda!" jawab Sena, ini adalah pengalaman pertama mereka naik pesawat, sebenarnya Sena bahagia, tapi saat melihat papinya tadi ada kecemasan yang tergambar diwajah munggil Sena.


Rana tau jika Sena takut bertatap muka dengan ayah kandungnya.


Sena meminta duduk dekat jendela, Rana pun mengijinkannya agar pengalaman pertama ini bisa berkesan dihati putrinya.


"Pesawatnya besar ya bunda!"


"Iya sayang!"


"Nanti kalau Sena besar, Sena mau bisa terbangin mereka bunda," ucap Sena lugu.


"Tentu saja sayang kenapa tidak, yang penting Sena sehat rajin belajar rajin sholat rajin ngaji terus berdoa nanti pasti bisa," ucap Rana sambil membantu Sena memakai setlbelt nya.


Tanpa mereka sadari disebelah mereka ada seorang pria yang tertegun melihat mereka berdua, "Kalian," ucap nya, Rana dan Sena pun menoleh.

__ADS_1


"Ya Tuhan kenapa engkau pertemukan kami disini, ditempat yang sempit ini, ditempat yang terasa terkunci ini," batin Rana.


Mata Rana dan Kevin bertemu, terkejut iya, takut apa lagi, terlebih Sena sekarang dia hanya memegang erat baju kemeja bundanya.


Rana yang tanggap akan ketakutan putrinya langsung berbalik tak menghiraukan Kevin, dia langsung mendekap putrinya yang sedang ketakutan ini, "Sayang ga papa nak, kan ada bunda," bisik Rana sambil memeluk Sena yang menggigil ketakutan, Rana mencium kening anak itu agar dia tetap tenang.


Kevin duduk disamping Rana dan menutup wajahnya bingung saat melihat Sena begitu ketakutan padanya, Kevin merasa saat ini dia adalah manusia paling jahat yang ada dimuka bumi ini, bagaimana tidak dia seakan menjelma jadi zombe untuk darah daging nya sendiri.


"Mbak apa dia masih takut?" tanya Kevin.


Rana hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Tolong katakan padanya, papi udah ga marah, papi minta maaf," ucap Kevin sungguh sungguh, Rana yang mendengar ucapan Kevin langsung menatapnya heran.


"Bapak serius?" tanya Rana.


"Serius mbak, bahkan sudah berbulan bulan aku mencari kalian dan aku tak menyangka akan menemukan kalian dalam keadaan seperti ini," tambah Kevin, Sena masih saja takut meski dia juga mendengar sendiri apa yang diucapkan papinya.


Mereka diam sejenak, Kevin tak tau apa yang harus dia ucapkan, kembali dia menatap kedua wanita yang ada disampingnya, Kevin melihat tangan munggil putrinya memeluk erat pinggang Rana, Kevin memberanikan diri menyentuh tangan munggil itu dan menggenggamnya.


"Sayang maafin papi ya nak, papi salah maaf ya cantik," ucap Kevin, tanpa sengaja Kevin mendekap tubuh Rana yang sedang memeluk Sena, aduh ni orang bukan hanya nakutin anak nya tapi juga nakutin aku batin Rana.


"Pak, tolong lepasin saya, bapak salah peluk ni," bisik Rana tanpa menoleh, seketika Kevin menyadari kecerobohanya.


"Oh, maaf mbak," jawab Kevin langsung menjauhkan tubuhnya, tapi tidak dengan aksinya, dia malah menciumi tangan munggil Sena.


Sena kembali ketakutan," Bunda takut," ucap Sena semakin erat memeluk Rana, dan tetap mengunci wajahnya di dada wanita yang selama ini mengasuhnya.


"Pak, tolong lepasin tangan adek kasihan dia takut," ucap Rana, Kevin pun menurut dia pun melepaskan genggamannya.


Meski hatinya ingin meneluk putrinya tapi Kevin berusaha sabar karena dia juga dokter, mengobati seseorang yang trauma lebih susah dibanding mereka yang mempunyai luka fisik.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2