
Kevin masih diam mematung, mencerna apa yang barusan Kirana ucapkan.
"Bapak ga percaya ya sama saya?" tanya Kirana, Kevin menatap sekilas kearah Rana.
"Aku ga tau Ran, rasanya ini ga masuk akal," jawab Kevin.
"Bapak mau ngobrol sama Rani?" tanya Kirana.
"Enggak takut aku?" ucap Kevin.
"Kenapa, dia baik pak!" balas Rana.
"Mau baik mau enggak namanya hantu kan serem," jawab Kevin sambil mengelus elus lenganya.
"Ya Allah apa ini, apakah Rani sengaja membawaku ke Sena untuk membantunya menjaga Sena," ucap Kirana pelan tapi Kevin mampu mendengar itu dengan sangat jelas.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin.
"Apa bapak mau mendengar ceritaku tentang Rani?" tanya Kirana dengan tatapan sedikit memelas, dia berharap Kevin mau mendengar ceritanya.
"Coba ceritakan!" balas Kevin.
"Tapi ini benar benar diluar nalarku pak, pertama kali dia, maksudku Rani datang pada saya saat Ayah meninggal, dia bilang kamu jangan sedih ada aku yang bakalan nemenin kamu, sejak saat itu dia sering datang padaku. Tapi dia tak pernah cerita apa yang menyebabkan dia meninggal, siapa saja yang dia ingat atau apapun tentang masa lalunya. Dia sangat bahagia dan ceria pak seolah tak punya beban, hanya yang membuatku terkejut adalah saat pertama dia lihat Sena. Mukanya sangat sedih berkali kali dia ingin memeluk Sena tapi tak bisa, dua kali aku meminjamkan tubuhku padanya dan dia sangat bahagia bisa memeluk gadis lucu ini. Mungkinkah itu adalah bentuk ikatan batin antara ibu dan anak pak," Kevin masih setia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kirana, dia berusaha percaya meski otaknya bersikeras menolaknya.
"Aku tak tau Ran, apakah Rani adalah Denada karena dari segi nama aja mereka sudah beda kan!" balas Kevin, logis sih tapi apa yang Kirana bicarakan juga sebuah kebenaran.
"Bolehkah saya pinjam baju almarhum pak, saya akan tunjukan wujud Rani, karena jika saya buka hijab kami terlihat mirip," ucap Kirana.
"Kamu yakin mau buka hijab didepan pria yang bukan mahromu?" tanya Kevin.
"Saya rasa Tuhan paham pak, biarlah saya dosa sedikit tapi saya amat sangat penasaran dengan ini," jawab Kirana.
"Baiklah silahkam kamu pilih saja!" jawab Kevin.
Kirana pun memilih baju milik mendiang Denada dan memakainya diruang ganti kamar itu, tak lupa dia memakai make up tipis mirip seperti wujud Rani ketika bersamanya.
Kirana keluar dengan dres selutut milik Denada, Kevin menatap Kirana tak berkedip, dia sangat terkejut. Bagaimana tidak Kirana sangat mirip dengan Denada.
"Ran bagaimana kamu tau ini gaya Denada?" tanya Kevin.
__ADS_1
Kirana benar benar persis, rambut yang diikat seperti kuncir kuda, bahkan Kirana mencoret lenganya seperti membuat tato dan yang membuat Kevin takjub adalah pewarna bibirnya, bahkan bibir itu bentuk nya sm persis dengan milik mendiang istrinya.
"Apakah istri bapak wujudnya seperti ini?" tanya Kirana.
"Iya," jawab Kevin singkat, jujur saat ini dia tak mampu berkata apapun.
"Beginilah kira kira Rani kalau datang pada saya pak," ucap Kirana, setelah itu dia masuk kekamar itu lagi dan memakai bajunya kembali.
Tinggalah sekarang Kevin termenung memikirkan hal diluar nalarnya. Apa yang dilihatnya barusan seperti mimpi, mimpi bertemu seseorang yang sudah pergi untuk selama lamanya.
Kirana keluar dari ruangan itu dengan menggunakan bajunya sendiri lengkap dengan hijabnya. Duduk disebelah Kevin yang masih termenung tak tau apa yang harus dia lakukan.
"Apa bapak percaya pada Rana sekarang?" tanya Kirana.
"Aku tak tau Ran, tapi saat kamu pakek baju dia tadi kamu terlihat sangat mirip bahkan bisa dibilang sama persis," ucap Kevin gemetar.
"Rani kalau datang ke saya ya begitu itu pak, makanya saya terkejut pas lihat lukisan mendiang istri bapak. Coba nanti saya tanya ke Rani mungkinkah dia masih bisa ingat masa masa dia ketika masih hidup!" ucap Kirana pada Kevin.
Kevin masih saja termenung akan apa yang ada dipikiranya, semua serasa mustahil. Tapi saat Kirana menjabarkannya semua serasa nyata.
"Emmm pak boleh ga saya foto lukisanya, nanti bapak tanya deh ama Sena. Kan Sena juga bisa lihat Rani juga,"ucap Kirana meminta ijin.
Kevin menatap heran pada Kirana, Ya Tuhan kenapa aku harus berurusan dengan sesuatu yang mustahil seperti ini batin Kevin.
Lama mereka berdiam diri dikamar itu, berbicara pada hati masing masing.
"Ran, boleh ga aku minta tolong?" tanya Kevin.
"Silahkan pak!"
"Tolong tanyakan padanya kenapa dia menghianati aku?" ucap Kevin.
Hanya bertanya apa salahnya, tapi Kirana juga tak bisa berjanji dengan hasilnya.
"Coba nanti aku tanyakan ya pak, cuma kita tak bisa memaksa hantu untuk berfikir keras seperti kita, apa yang mereka sampaikan biasanya hanya hal yang membuatnya berat untuk pergi," jawab Kirana, hah lagi lagi hal yang diluar nalar yang Kevin terima.
"Heemmm, meskipun aku ga paham maksudmu tapi aku akan mencoba mengerti Ran," jawab Kevin pasrah.
Kirana pun mengajak Kevin keluar ruangan itu agar merasakan hawa luar dan bisa melepaskan sedikit bebanya.
__ADS_1
"Pesawat bapak jam berapa?" tanya Kirana.
"Sore Ran!" jawab Kevin.
"Emmm,"
"Nanti anterin ya terus mobil nanti kamu bawa!" pinta Kevin.
"Siap pak bos yang penting gajinya," goda Kirana.
"Dasar mata duitan!" ledek Kevin sambil merangkul pundak Kirana.
"Pak,"
"Heemm,"
"Mohon maaf harap dikondisikan tangannya," ucap Kirana.
"Oh maaf maaf, aku lupa Ran kalau kamu beda dengan yang lain," jawab Kevin.
"Jaga jarak bapak issht, awas aja kalau pas kami nginep disini bapak ngotot ngotot mau seranjang, saya tau bapak modus kan," hardik Kirana. Kevin hanya tersenyum licik.
"Tapi sumpah Ran aku ga tau kalau aku meluk kamu, tapi kamu nyaman banget PD kamu pas buat dijadiin bantal," goda Kevin, tentu saja Kirana terkejut dengan apa yang Kevin ucapkan, emosinya disulut dan dia langsung memukul Kevin dengan membabi buta, tentu saja Kevin menghindar dan berlarian.
Saat Kevin berhenti tubuh Kirana pun menabrak tubuh kekar itu, Alhasil dengan sekali tangkap tubuh mungil itu sudah berada didekapan Kevin.
"Kamu cantik Kirana," ucap Kevin dengan suara seraknya.
"Pak lepasin tolong jangan seperti ini," ucap Kirana memohon.
Kevin semakin mendekatkan wajahnya, Kirana langsung tanggap dan membekap mulutnya sendiri dengan jari jari manisnya.
"Kamu ngapain nutup mulut kamu berharap aku cium ya," goda Kevin lagi, Kirana hanya menggelang.
"Otak kamu yang mesum bukan aku," ucap Kevin sambil menunjuk kening Kirana dengan jari telunjuknya.
Kirana hanya diam dan menatap Kevin dengan tatapan jengkel plus marah.
Kevin melepaskan dekapanya dan Kirana pun langsung menjauhinya, "Astaga hampir saja aku lepas kendali," batin Kevin.
__ADS_1
Kirana tak sanggup berfikir pikiranya ngeblank, ahhh tak atu lah yang jelas dia merasakan malu yang amat sangat dengan Kevin.
Bersambung...