
Prediksi Kevin bukan isapan jempol belaka, Lusi benar benar menjalankan aksinya. Dengan bantuan Rio, Lusi menyewa seseorang untuk melenyapkan Kirana dan Sena.
Pagi itu Kirana bersiap mengantar putri kesayangan mereka kesekolah, Kirana tak menyadari bahwa rem mobilnya sudah diputus oleh orang suruhan Lusi.
Dengan sangat tenang Kirana membawa mobilnya, sayangnya saat jalanan sepi Kirana menambah kecepatan mobilnya. Kirana baru menyadari saat dia hendak menurunkan kecepatan mobilnya. Astaga rem nya tak berfungsi. Kirana masih berusaha bersikap tenang dan berdoa.
"Ya Tuhan bagaimana ini," gumamnya dalam hati.
"Bun kenapa Bunda ngebut?" tanya Sena.
"Bunda ga ngebut sayang, tapi remnya blong," jawab Kirana, dia tak mau menutupi apapun dari Sena. Toh ini adalah kenyataan yang sedang mereka berdua hadapi bukan.
"Apa Bun?" tanya Sena panik.
"Dek, pegagan yang erat ya, di depan ada pantai Bunda belokin mobilnya ke pasir pasir ya sayang," ucap Kirana, dengan cepat mengambil keputusan.
Sena tak tahu apa yang dipikirkan bundanya, dia hanya menurut saja. Ya Tuhan lindung kami, hanya itulah lah yang berkali kali Kirana ucapkan. Kirana pun masih berusaha meredam rasa takutnya, saat melihat suasana pantai sepi Kirana langsung membelokan mobilnya dan bermaksud menceburkan mobilnya ke air. Mungkin ini keputusan yang gila tak ada piliha lain karena sekitar setengah kilo meter adalah pasar tradisional dan kawasan padat penduduk. Dari pada dia nanti mobilnya memakan banyak korban.
Mobil Kirana masih melaju sedikit kencang , beruntung sekali mobilnya terjebak di area pasir membuat mobil itu berkurang sedikit demi sedikit.
"Dek, pegangan kita mau masuk ke air sayang.. begitu masuk dedek buka pintu terus loncat ya nak," ucap Kirana. Sena pun mengerti apa yang bundanya katakam. Mereka berdua siap siap membuka seltbeltnya Sena sudah mengambil ancang ancang loncat, Kirana pun juga.
Mobil masuk dengan sempurna ke dalam air, Sena pun menuruti pesan bundanya untuk keluar dari mobil, begitupun Kirana. Kirana tak perduli dengan mobil yang masih berjalan yang dia pikirkan saat keluar dari mobil adalah putrinya. Untung pagi itu omak masih tenang jadi Kirana bisa melihat dengan jelas saat Sena melambaikam tangan.
Kirana langsung meraih tangan putrinya dan mendekapnya. Kirana tak memikirkan dirinya sendiri, dia langsung mendekap Sena yang terlihat hampir kehilangan kesadaranya itu.
"Sayang, sayang, buka matamu nak," pinta Kirana sambil menepuk pipi Sena.
Saat inilah baru Kirana merasa gugup, merasa gemetar. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada putrinya. Bagaimana jika nanti jika Kevin marah padanya. Kirana tak perduli walau darah meluncur dersa dari betisnya dia tetap saja berusaha berlari hendak mencari pertolongan.
__ADS_1
Kirana menggedong Sena yang sudah mulai kehilangan kesadaran. Untung jarak jalan raya ke tempatnya berpijak tidak jauh, Kirana begitu gugup dan khawatir.
Nasib baik masih berpihak pada Sena dan Kirana. Tak lama ada seorang pengendara baik hati yang menolong mereka. Seorang ibu ibu yang hendak pergi kepasar sepertinya.
"Ya Tuhan Mbak apa yang terjadi?" tanya ibu ibu itu.
"Rem mobil kami blong bu, jadi saya ceburin mobilnya ke laut," jawab Kirana. Ibu ibu paham maksud Kirana, dan membenarkan keputusannya. Mengingat di depan ada pasar trasisonal dan kawasan padat penduduk.
"Ayo masuk cepetan!!" ucap Ibu ibu itu ikutan gugup.
Si ibuk itu terlihat handal membawa mobil, dia langsung memutar arah, kalau milih maju pasti mereka terhalang macet.
"Sabar ya Mbak," ucap sang ibu.
"Iya bu, terima kasih banyak," balas Kirana. Sepertinya sang ibu di kenal di rumah sakit ini, dia langsung tanggap bahkan dia sendiri yang menangani Sena.
Kirana berbaring di ranjang pasien, rasa perih dan sakit tak dihiraukannya. Yang ada dipikiranya saat ini adalah putrinya.
"Sus, boleh aku pinjam ponselnya. Aku harus menghubungi suamiku," ucap Kirana.
"Oh iya bu silahkan," balas sang Suster sambil memberikan ponselnya pada Kirana. Kirana pun bangun dan mulai memencet nomer ponsel suaminya.
Kevin yang merasakan ada getaran di kantong bajunya langsung menyambut panggilan itu.
"Hallo...," sambut Kevin.
"Mas ... ini Kirana, sekarang Kirana dan Sena ada di rumah sakit ... rumah sakit apa ini Sus?" tanya Kirana di sela sela panggilannya.
"Bakti Mulia bu," jawab sang Suster. Kirana mengerti dia pun langsung memberitahu suaminya.
__ADS_1
"Di Bakti Mulia Mas, Mamas cepet dateng ya Kirana takut!" ucap Kirana pada Suaminya.
Kevin tal bertanya lagi, kalau berhubungan dengan rumah sakit pasti mereka ada apa apa.
Kevin segera mengambil kunci mobil dan tancap gas menuju rumah sakit yang Kirana maksud. Disana sudah ada Kirana yang duduk sambil memangis di depan ruang ICU karena Sena belum sadarkan diri.
Kevin berlari mencari di mana ruang dimana anak dan istrinya dirawat.
Kirana yang melihat kedatangan suaminya seketika menangis dan menghambur kepelukan sang suami.
"Mas .... maafik Kirana ga bisa jaga adek," ucap Kirana dalam tangianya.
"Memangnya apa yang terjadi sayang?" tanya Kevin.
"Rem mobil blong mas dan Rana masukin mobilnya ke laut. Soalnya beberapa meterl lagi pasar," jawab Kirana. Kevin paham dengan sedikit cerita yang di ucapkan istrinya.
"Brengsek, ternyata ancaman wanita itu bukan main main bun. Dia benar benar melakukannya," ucap Kevin.
"Maksud Mas?" tanya Kirana.
"Semalam dia menghubungi Mas, dia meminta Maa ceraiin kamu. Jika tidak maka dia tak segan segan memisahkan kita dengan caranya," ucap Kevin sambil mencium kening dan memeluk tubuh wanita yang dicintainya ini.
"Kenapa bu Lusi bisa sejahat itu ya Mas!" ucap Kirana tak percaya.
"Dia kelewat terobsesi terhadap Mas sayang, lihat saja apa yang akan Mas lakukan padanya," ancam Kevin.
Kevin terus berusaha menenangkan istrinya, berkali kali dia mengatakan bahwa ini bukan salahnya. Tanpa sepengetahuan Kirana, Kevin meminta salah satu sahabatnya untuk mencari bukti keterlibatan Lusi dalam rencana pembunuhan istrinya. Mengingat semalan Lusi telah mengancamnya.
Bersambung....
__ADS_1