
Kevin sangat kasihan pada wanita yang terus menangis disebelahnya, Kevin pun memutuskan untuk membawa kembali Kirana kerumahnya.
Kiran terlalu sibuk dengan kemelut masalah yang kini muncul begitu saja. Ibu yang sudah meninggalkanya tiba tiba datang.
Kirana baru menyadari saat mobil itu masuk dipelataran rumah Kevin
"Pak kok kita balik kesini?" tanya Kirana.
"Turunlah aku mau nunjukin sesuatu sama kamu," ucap Kevin.
""Sesuatu, apa itu?"
"Makanya turun nanti aku kasih tau kamu heemmm,"
Kirana pun menurut dia ingin protes sebenarnya, kenapa dia ga diantar kebutik tapi malah dibawa pulang kembali kerumahnya.
Kirana merasa sangat aneh saat masuk kedalam rumah ini, pasalnya biasanya Asisten rumah tangga disini sudah datang jam segini, tapi ini terlihat sangat sepi.
"Kok asisten bapak belum ada yang dateng?" tanya Kirana, jujur aja saat ini dia deg degan karena tak ada siapapun diantara mereka.
"Mereka minta ijin libur Ran!" jawab Kevin dengan tenang.
Kirana pun tak bertanya lagi, dia berusaha tenang juga. Mengikuti langkah Kevin menaiki anak anak tangga dan berjalan menuju loteng rumah ini.
"Kita mau ngapain disini?" tanya Kirana.
"Aku mau kasih tau kamu tempat rahasiaku," jawab Kevin, Kirana mengerutkan dahinya tapi tetap saja mengikuti langkah Kevin masuk kedalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.
Disana hanya ada ranjang dan beberapa lukisan.
"Bapak suka melukis?" tanya Kirana.
"Tidak, ini semua lukisan mendiang maminya Sena," jawab Kevin.
Kirana bingung, bukankah dia membenci wanita itu tapi mengapa dia masih menyimpan rapi barang barang peninggalan Denada.
"Awalnya aku ingin membuang semua ini Ran, tapi anehnya aku tak tega!" ucap Kevin.
"Kenapa apakah bapak terlau mencintai maminya Sena?" tanya Kirana.
"Kamu sudah tau ceritanya kan, ga perlu aku jelasin," jawabnya sedikit ketus.
"Saya melihat bapak sangat mencintainya kala itu!"
__ADS_1
"Jika seandainya dia tak menghianatiku!" ucap Kevin pelan.
"Ini adalah baju baju dia Ran waktu kami masih bersama, aku dan dia suka tidur dikamar ini. Makanya aku bawa semua barang dia yang ada disini," ucap Kevin lagi sambil menceritakan setiap sudut ruangan kamar ini.
"Apakah bapak punya foto mendiang istri bapak?" tanya Kirana lagi.
"TIdak Ran aku sudah membuang semua foto foto yang berhubungan denganya, tapi sebelum dia pergi dia sempat melukis dirinya sendiri, bahkan waktu dia terahir menghembuskan nafasnya dia juga memakai baju itu," ucap Kevin, tak dipungkiri walau dia sangat benci pada mendiang istrinya tetap saja namanya juga pernah ada rasa, iya kan.
"Boleh aku lihat pak dokter?" pinta Kirana.
"Boleh," ucap Kevin.
Kevin pun membawa Kirana kedalam ruangan yang yang berisi peralatan pealatan make up, kuas kuas lukisan sepatu dan lain lain. Semua tampak rapi Kevin sangat teliti terhadap barang barang ini.
"Pak apakah ini barang peninggalan almarhum?" tanya Kirana.
"Iya, nah kamu buka aja lukisan yang paling kecil itu, itulah Denada," jawab Kevin, Kirana menatap Kevin penuh tanya kenapa bukan dia yang mau membukakanya.
Kirana pun membuka pelan lukisan itu, pelan tapi pasti. Kirana sangat terkejut tak percaya ketika dia berhasil melepaskan penutup lukisan itu.
Mata Kirana menatap nanar penuh tanya, bagaimana ini mungkinkah dia adalah Denada?
Kepala Kirana terasa amat sangat sakit memikirkan ini, Kirana hampir jatuh. Untung Kevin cepat cepat menangkapnya.
"Bapak yakin itu Denada!"
"Itu pertanyaan, ya iyalah masak sama istri sendiri lupa, piye to," jawab Kevin sambil meledek Kirana.
"Ya Allah pak, apa yang harus aku katakan pada Sena," ucap Kirana.
"Ya katakan aja itu wanita yang melahirkan dia," jawab Kevin ringan.
"Masalahnya bukan itu bapak, Ya Allah bagaimana ini, pantesan saja," gumam Kirana, Kevin semakin bingung dia heran kenapa Kirana jadi seperti ini.
Kirana duduk disisi ranjang yang ada disitu, matanya menatap tak percaya dengan apa yang dialaminya, air matanya terus menetes tanpa henti.Yang dia pikirkan saat ini bagaimana caranya menjelaskan sesuatu yang tak logis ini kepada Kevin dan Sena.
"Kamu kenal Denada Ran?" tanya Kevin.
"Ketika masih hidup atau sudah ga ada?" Kirana malah mengajukan pertanyaan yang membuat heran yang mendengarnya.
"Ya hidup lah, masak orang udah meninggal kenala gimana sih!" ucap Kevin menyepelekan.
"Bapak lupa dengan apa yang Kirana bisa," jawab Kirana tegas.
__ADS_1
Kevin menatap tak percaya pada gadis yang ada disebelahnya, menyangga kepalanya dengan satu tanganya. Bodoh sekali kenapa dia bisa lupa ini.
"Apakah kamu pernah bertemu denganya?" tanya Kevin.
"Ya Allah bagaimana caranya Kirana jelasin ini semua kebapak, bapak pasti ga percaya!" ucap Kirana, dia pun menjatuhkan tubuhnya diranjang dan berbaring meringkuk disana.
Melamun dan menatap kosong kearah yang dia mau.
"Katakan saja Ran, aku pasti akan coba mengerti," ucap Kevin sambil memegang pundak Kirana.
"Bapak jangan pegang pegang saya," ucap Kirana memperingatkan dengan halus dan pelan.
"Oh maaf maaf ya," balas Kevin.
Kirana bangun dan duduk bersila didepan Kevin, menghela nafas dalam dalam dan mulai membuka suaranya.
"Apakah bapak tau Rani?" tanya Kirana.
"Rani sahabat gaib kamu itu!"
"Iya yang ngelus pipi bapak, yang ngefans banget sama bapak yang selalu belain bapak kalau aku lagi kesel sama bapak," ucap Kirana, Kevin mengerutkan dahinya dan menatap intens kearah Kirana.
"Kenapa bapak ngliatin Rana segitunya?" tanya Kirana.
"Kamu marah marah kesel juga dibelakang aku, kamu ghibahin aku sama sahabat gaibmu itu?" tanya Kevin sambil menggoda Kirana.
"Maaf ya pak maaf banget, besok besok ga lagi deh." jawab Kirana dengan senyuman manisnya.
"Tapi tenang aja, Rani pro kok sama bapak." tambah Kirana.
"Kenapa dia pro sama aku?" tanya Kevin.
"Karena dia adalah belahan jiwa bapak saya rasa," jawab Kirana lemah tanpa ekpresi, tentu saja Kevin bingung dengan apa yang barusan dia dengar.
"Ngaco kamu!" balas Kevin tak percaya dia pun beranjak dari duduknya. Mengambil kain penutup itu dan kembali menutup lukisan wajah Denada.
"Bapak percaya ga kalau saya bilang bahwa wanita yang ada didalam lukisan itu adalah Rani," ucap Kirana, tentu saja Kevin terkejut dengan ini.
"Ngawur kamu, kebanyakan ngehalu kamu ni!" ucap Kevin tak percaya, atau lebih tepatnya dia menepis apa yang dia dengar.
"Rana ga bohong bapak, jika bapak ga percaya tanya aja sama Sena, gadis hantu yang nemenin saya sama persis dengan istri bapak, bahkan mereka juga memakai baju yang sama!" ucap Kirana menjelaskan secara logika apa yang dia tau, tapi ga tau kalau sang penerima bisa menerima dengan akal sehat atau tidak.
Kevin duduk termenung disisi Kirana, masih berusaha mencerna apa yang barusan dia dengar. Hatinya menerima tapi otaknya tidak, Keputusan yang berat memang tapi dia juga ta bisa memungkiri bahwa Kirana tak mungkin berbohong padanya.
__ADS_1
Bersambung....