
Kirana mengikuti langkah Kevin menuju lobi bandara. Sena masih setia digendongan papinya sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama.
"Bun papi titip putri cantik papi ya," ucap Kevin pada Kirana. Kirana hanya tersenyum menjawab permintaan Kevin.
"Bun jaga kesehatan ya, minum vitamin biar nanti kalau pas mengandung adeknya Sena bunda ama dedek bayi bisa sehat terus," goda Kevin lagi.
Kirana melotot kearah Kevin, Kevin sangat menyukai ini emosi Kirana adalah amunisi terbaik baginya, terasa mendapatkan asupan tenaga Kevin pun melancarkan kejahilanya lagi.
"Jangan marah marah terus atuh bun, nanti stres lo kasihan nanti calon anak kita, belum dibuat masak udah stres duluan," goda Kevin lagi, Ya Tuhan kenapa pria gila ini terus saja menyulut emosinya. Mana pinter banget lagi cari tempat.
"Dasar pria gila," umpat Kirana pelan.
"Tapi tampan kan," balas Kevin.
"Mboh!"
"Loh kok mboh piye to," tambah Kevin lagi. Entah mengapa membuat Kirana marah adalah hobinya. Kevin merasa membuat jengkel Kirana adalah obat stres yang paling mujarab untuknya.
"Bun papi pergi dulu ya, jangan marah marah mulu bun. kan pulang dari Semarang kita mau bikin adek buat putri cantik kita bun ya kan dek, senyum dong bun," sepertinya Kevin belum puas membuat Kirana marah, ingin rasanya Kirana ijek tu kaki.
Sena tertawa mendengar ucapan papinya terlebih papinya sangat pandai menjahili bundanya.
"Oke papi, jangan ingkar ya pi," ucap Sena mengingatkan.
"Yang penting Sena pinter pinter bujuk bunda biar mau mengandung adeknya Sena ya," tambah Kevin. Kirana menghela nafas dalam dalam pertanda dia menahan gejolak ingin menghajar seseorang. Sena memberikan jempol nya pada papinya pertanda dia menyetujui usul papinya.
"Bunda sudah mau papi, ya kan bun!" tanya Sena lugu.
Kirana tak mau menjawab obrolan tak masuk akal ini, kalau dia terus meladeni kekonyolan mereka bisa bisa Kirana gila seDNA yang ada ditubuhnya.
__ADS_1
Kevin pun menurunkan Sena dari gendonganya dan mengecup kening putri cantiknya. Senyum mengembang mengiringi perpisahan mereka.
Saat Kevin akan mengkah meninggalkan mereka ada seorang bapak bapak berceloteh "Istrinya belum dicium lo pak," ucap Bapak Itu sambil berlalu.
Kevin pun tersenyum dan menjawab, "Oia lupa pak," jawabnya, Kevin pun kembali mendekati Kirana dan Sena, tanpa meminta ijin Kevin langsung menarik kepala Kirana dan mengecup kening itu. Spontan saja Kirana terkejut, bagaimana tidak pertama Kirana tidak menyangka bahwa pria gila ini akan nekat, Kedua dia tak bisa menghindar karena semua terjadi begitu cepat.
"Dada Sena dada Bunda, papi sayang kalian," ucap Kevin dengan senyuman jahilnya.
Kirana bertambah kesal pada Kevin melihat senyum jahil itu, ingin rasanya dia memaki pria menyebalkan ini. Pandai sekali dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kevin tak perduli dengan kemarahan Kirana, siraja konyol ini pun hanya cuek dan berlalu pergi.
Sena melambaikan tangan untuk papinya dan dengan senyum tampanya Kevin pun membalas lambaian tangan gadis manis itu.
Kirana mengandeng Sena kembali ke mobil, dan membatu gadis cantik itu masuk kedalam mobil.
Dimobil Kirana hanya diam, Sena tau kalau bundanya kesal dia pun ikutan diam tak banyak bicara.
Dipesawat Kevin terus tersenyum mengingat pembicaraan mereka tadi dimobil. Wanita itu sungguh menggemaskan batin Kevin.
Andai dia tak sedang menjalin hubungan dengan seseorang Kevin pasti sudah serius melamarnya. Kevin menyadari bahwa perasaannya terhadap Lusi dan Kirana bisa dikatakan imbang
Kevin mulai sering membandingkan mereka, senyumanya, tutur katanya, kebaikanya tapi sayangnya Kevin bukan pria yang mudah mengambil keputusan.
Jujur saja saat ini dua wanita yang menganggunya ini memiliki pesona yang sama baginya. Nilai plus Kirana dimatanya adalah Kirana bisa membuatnya bahagia meski dalam marahnya. Sedangkan Lusi wanita dewasa ini lebih bisa menerima hasratnya tanpa dia harus mencurinya.
Kevin kembali tersenyum mengingat apa yang semalem diperbuatnya. Dia lucu sekali andai dia tau kalau aku nakalin pasti bakalan ngamuk ngamuk, siapa suruh tidur kayak kebo batin Kevin.
Menunggu semua penumpang bording pass Kevin pun membuka aplikasi diponselnya. Di buka nya satu persatu foto foto yang dia ambil. Kirana sangat cantik disitu.
Walaupun wajahnya polos tanpa make up tetap saja mampu memperlihatkan daya tariknya. Kevin jadi mengingat lagi apa yang Kirana sampaikan pagi tadi. Tentang Rani sahabat gaib Kirana. Kirana mengatakan bahwa sahabat gaibnya mirip dengan mendiang istrinya. Tapi Kevin tak bisa begitu saja percaya, dia mencoba menepis semua ini. Sayangnya apa yang disampaikan Kirana seolah nyata adanya.
__ADS_1
Apa yang terjadi padanya dan Denada, seolah terulang kembali. Ditambah lagi kehadiran Kirana yang membawanya kembali kemasa lalu.
"Benarkah apa yang dikatakan gadis aneh itu. Ah Sena kan bisa lihat nanti aku tanya aja sama dia, Siapa tau Kiran bohong!" gumam Kevin.
Kevin tersadar dari lamunanya saat terdengar notif dari ponselnya.
Kevin melihat bahwa Lusi mengirim pesan padanya, bahwa saat ini Lusi pun on the way menuju Semarang.
Kevin tersenyum karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasihnya.
....
Disini bukan hanya Kevin yang galau, Kirana juga galau memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Tentang apa yang hatinya inginkan.
Kirana duduk termenung didepan laptopnya, sedangkan Sena masih asik dengan buku gambar dan pensil warnanya.
Kirana menatap penuh pertanyaan pada putri asuhnya. Mungkinkah Rani adalah ibu kandung dari gadis itu kenapa gadis gaib itu mirip sekali denganku. Siapakah dia?
"Ya Tuhan bantulah hamba memecahkan teka teki ini," gumam Kirana.
Masalah satu belum terselesaikan Kirana kembali teringat dengan ibu dan kakak kandungnya yang telah lama meninggalkanya. Kirana membuka lagi aplikasi diponselnya siapa tau orang yang mengpost foto ibunya itu akan memberikan balasan atas pesanya.
Kirana mencoba mengingat kembali nama kakak kandungnya, pertemuan kakak beradik itu bisa dikatakan hanya bisa dihitung dengan jari. Itu sebabnya Kirana tak dekat dengan kakak kandungnya. Dia dan Kakaknya hanya selisih lima tahun kala itu. Kirana memang tak pernah berkumpul dengan kakak kandungnya karen sejak lahir Kakak kandungnya ini tinggal bersama kakek neneknya.
Mereka jarang sekali bertemu dikarenakan jarak dari Jawa ke Sumatra sangatlah jauh. Biaya untuk sampai kesana juga terbilang mahal. Terlebih ekonomi keluarga Kirana sangat pas pasan. Jangankan untuk pulang ke kampung halaman ibunya untuk makan sehari hari aja jarang ada.
Kirana ingat betul malam itu ibu dan Ayahnya bertengkar hebat, dikarenakan selisih pendapat. Ibu menginginkan anak pertamanya ikut dengan mereka dan menukar Kirana ikut dengan kakek neneknya di Sumatra. Ayah Kirana tak bisa terima dengan ini dikarenakan dia tak bisa jauh dari Kirana. entahlah rasanya rumit sekali. Pokok permasalahan mereka sebenarnya hanyalah masalah uang. Seandainya keluarganya tak kekurangan uang pasti ibu dan kakaknya tak akan pernah pergi meninggalkanya.
Bersambung....
__ADS_1