
Sepertinya Rana dan Sena bisa dibilang dewasa sebelum waktunya, Rana harus rele menjadi seorang ibu diusianya yang menginjak 18 tahun kala itu, dan Sena harus bisa menerima keadaanya diusianya yang masih balita, astaga kalian berdua dikumpulkan dalam frekuensi nasip yang sama.
"Bunda," ucap Sena hati hati.
"Ya sayang," jawab Rana sambil menyiapkan piring untuk putri cantiknya.
"Emmm, Sena pengen sesuatu bunda," pinta Sena.
"Apa tuuuuu, kalau uang bunda cukup pasti bunda beliin," ucap Rana, karena biasanya habis foto shot atau ada event tertentu biasanya Sena memang minta barbie atau mungkin sepatu berhak seperti yang sering Rana pakai jika ada event event khusus.
"Sena ga mau minta itu bunda, Sena pengen kayak temen temen aja," jawab Sena ragu ragu.
"Kayak temen temen, maksudnya?" tanya
Rana sambil melirik manja pada putrinya.
"Sena pengen punya Ayah bunda, kayak temen temen Sena disekolah," jawab Sena dan Uuhhuuukkkk, Rana tersedak oleh makanan yang dikunyahnya.
"Ayah?????" tanya Rana tak percaya.
"Iya bunda, biar ada yang antar jemput Sena kalau sekolah kayak temen Sena yang lain," aduh anaku lugu sekali kamu, Rana tak menyangka bahwa anak kecil yang diasuhnya ini memiliki keinginan seperti anak anak pada umumnya.
"Iya nanti ya, kan semua itu rahasia Allah sayang, kita ga bisa nolak atau pun minta kita berdua sabar aja ya semoga kita berdua nanti bakalan ada yang jagain seperti yang Sena mau, oke, sekarang habisin maeman nya dulu baru nanti kita pikirkan itu pelan pelan," jawab Rana sedewasa mungkin, Sena adalah gadis yang pintar dia mampu mencerna setiap kata yang dia dengar, tapi kali ini dia berusaha menerima apa yang bunda sambung nya sampaikan.
Rana mengantarkan Sena kesekolah seperti biasa, selalu ada perasaan senang ketika dia membonceng gadis cantik dibelakangnya.
"Bunda,"
"Heemm,"
"Masak dikamar mandi sekolah ada yang kayak dibutik bunda," ucap Sena.
__ADS_1
"Oh ya, maksud Sena yang kayak Rani?" tanya Rana.
"Bukan bunda, lebih serem bau bunda," jawab Sena, wah Sena udah bilang bau berarti ga ada yang ga beres ini.
"Sena pernah ngobrol ama dia?" tanya Rana lagi sambil memperlambat laju kendaraan nya.
"Takut ah bunda, serem dia juga suka dikelas bunda,"
"Coba nanti bunda masuk kelas Sena ya, bunda lihat dia jahat ga!"
"Boleh, bunda ga kerja?" tanya Sena.
"Bunda siang kan hari ini masuknya, nanti Sena ga usah dirumah singgah, Sena ikut bunda aja mau?" tanya Rana.
"Mau bunda, Sena ikut ke butik aja," Sena merasa sangat senang karena seharian ini dia akan menghabiskan waktu bersama bunda nya.
........
Hari ini Kevin berniat terbang ke Surabaya untuk mencari putri semata wayang nya yang telah dia sia siakan sebelum nya.
Sebelum dia pergi ke kota dimana dia dibesarkan Kevin terlebih dahulu bertanya pada mantan asiaten rumah tangga plus pengasuh Sena dulu ya itu bik Sum.
Berkat keterangan yang didapatkan oleh orang yang pernah mengasuh putrinya itu pun ahirnya Kevin memulai pencarian nya.
Pesawat yang membawa Kevin mendarat dengan selamat dibandara Juanda Surabaya, hampir dua tahun Kevin tak menginjakan kakinya di Kota ini.
Ada rasa lain saat Kevin melangkah, desiran aneh dihatinya menumpuhkam rasa rindu dan penyesalan untuk buah hatinya.
"Sena, maaf kan papi sayang," gumam nya, Kevin masuk kedalam mobil yang menjemputnya.
"Kita kemana den?" tanya pak supir yang membawa Kevin.
__ADS_1
"Apartemen aja pak, eh ga jadi deh pak aku mau jalan jalan ke sekitaran Simokerto," pinta Kevin.
"Siap Den,"
"Eh pak, bapak tau ga rumah wanita yang sekarang jagain Sena?" tanya Kevin.
"Ga tau den, yang bapak tau dulu dia kerja direstauran dikawasan Pakuwon saja," jawab pak Supir.
"Jauhnya pak, naik apaan dia kalau kerja?" tanya Kevin.
"Ga tau den, dulu kan Almarhum tuan sama nyonya kalau pergi bawa sendiri," jawab pak Supir.
"Dulu kok mereka bisa kenal gimana ceritanya pak?"
"Ooo, mbak Rana yang ngobatin non Sena Den," jawab pak Supir itu.
"Ngobatin, emang dia dokter jiwa?" tanya Kevin penasaran.
"Bukan Den, mbak Rana orang bisa sama kayak non," jawaban pak Supir itu makin membuat Kevin bingung.
"Bisa apa pak!"
"Bisa ngliat Den,"
"Ya kalau itu sih aku tau pak, ga usah dikasih tau juga orang dia ada mata kan," jawab Kevin sedikit ketus, pak supir itu tertawa pelan.
"Bukan itu maksud saya Den, bisa nglihat mahluk halus," jawab pak supir, saat itu Kevin tercengang menatap tak percaya pada orang yang telah menjadi kepercayaan keluarganya selama bertahun tahun.
"Pak jangan ngarang deh!"
"Saya ga ngarang Den, saya serius buktinya non Sena sembuh kan, ga pernah nangis lagi kalau dikasih makan ya makan kan, karena rumah udah dibersihin sama mbak Rana," jawab pak Supir menjelaskan sedikit apa yang dia tau, Kevin diam otak nya masih belum bisa mencerna apa yang disampaikan oleh supir pribadinya ini.
__ADS_1
Pak Supir itu tak bicara kali karena Kevin pun tak bertanya lagi, dia minta supirnya untuk berkeliling daerah yang disinyalir tempat dimana Rana bekerja.
Bersambung...