
Sejak mengetahui fakta bahwa suaminya adalah iparnya, Kirana merasa sedikit canggung. Kirana tahu kalau mendiamkan suaminya adalah salah. Tapi Kirana masih belum bisa terima perlakuan Kevin pada kakak kandung dan juga keponakan yang kini menjelma menjadi anak sambungnya.
Malam itu Kirana baru saja selesai sholat isha, dia duduk manis diranjang dengan rambut terurai cantik.
Kevin masuk kekamar tanpa mengetuk pintu, cepat cepat Kirana menggelung rambutnya dan hendak menutup mahkotanya itu dengan kerudung.
Kevin menghampiri Kirana yang kini bersikap dingin padanya.
"Bun ... maafin Mas sayang. Mas mohon jangan diemin Mas kayak gini. Mas lebih suka Bunda marah dan memaki Mas, rasanya sesak sekali Bun kalau di diemin kayak gini," ucap Kevin sambil meraih pinggang Kirana dan mencium lembut kening sang istri.
Kirana mentap sayu wajah pria tampan yang kini sedang mendekapnya.
"Bunda marah aja kalau mau marah sama Mas, Mas siap dimaki Bun. Demi Tuhan, apapun yang Bunda katakan Mas akan lakukan demi maafmu Bun. Mas janji," ucap Kevin lembut. Kirana kembali menatap mata Kevin, Kirana yakin sorot mata itu mencerminkan ketulusan hati sang suami.
"Mas sungguh sungguh?" tanya Kirana.
"Iya sayang, Mas sungguh sungguh. Mas janji," jawab Kevin, hatinya sudah tak tahan dengan kerinduan yang menyeruak di dalam sanubarinya. Beberapa hari ini Kirana memang mendiamkannya dan Kevin sengaja membiarkan itu. Agar Kirana bisa bebas berfikir untuk mengerti keadaan ini.
"Kalau gitu tangkap dan penjarakan orang orang yang menjebak dan menyakiti kakakku," pinta Kirana pada Kevin.
"Baik istriku Mas akan melakukan apa yang kamu mau. Karena Mas juga menginginkan hal yang sama. Mas ingin menunjukan sesuatu padamu," jawab Kevin tegas.
"Apa?" tanya Kirana.
"Sebelum Mas menunjukkan bukti yang Mas punya ini, bolehkah Mas menciummu sayang. Mas kangen," pinta Kevin.
Kirana menatap penuh amarah pada Kevin, "Ya sudan lah, tak boleh cium tak apa lah. Tapi jangan ketus gitulah Bun nglihatinnya. Takut Mas," jawab Kevin sambil melepas pelukannya.
Kirana menaruh hijab yang tak jadi dipakainya tadi diranjang, dan mengikuti langkah Kevin ke meja kerjanya.
Kevin duduk di kursi kebanggannya, mulai membuka laptop dan mulai mengoprasikannya.
"Bunda coba lihat ini, ini rekaman yang Mas dapat dari ponsel Denada," ucap Kevin.
__ADS_1
Kirana memperhatikan rekaman itu dengan teliti, dan melihat orang serta menghafal wajah manusia manusia jahanam yang telah memanfaatkan kakaknya.
"Mas ... coba ulang di menit pertama detik ke empat puluh. Lalu stop !" pinta Kirana. Kevin pun menuruti perintah istrinya.
"Nah itu Mas bener," ucap Kirana.
"Ini Bun,"
"Iya Mas, coba Mas perhatikan, bukankah itu mantan suami bu Lusi," ucap Kirana sambil menunjuk pria yang terlihat agak kurang jelas. Kevin memutar kembali agar kelihatan wajah pria yang dimaksud sang istri.
"Oh iya Bun, Bunda bener itu adalah Rio mantan suami Lusi. Berarti dugaan Mas bener Bun kalau Riolah di balik semua masalah yang menimpa keuarga Mas," ucap Kevin sambil menatap kosong kedepan.
"Maksud Mas apa?" tanya Kirana.
Kirana pun jadi penasaran dengan apa yang tidak dia ketahui tentang suaminya.
"Orang tua Rio dulu adalah patner kerja papa Bun, sayangnya beliau curang dan papa membongkar kejahatannya. Dia terlibat pencucian uang negara dan beberapa bisnis kotor. Papa melaporkan tindakan tak terpujinya pada pihak berwajib. Dan sepertinya Rio tak terima, makanya dia balas dendam mau menghancurkan keluarga Mas. Dan dia berhasil Bun, tapi Mas tak ingin itu terulang lagi Bun. Mas ga mau milik Mas dia hancurkan lagi. Cukup Denada dan orang tua Mas yang jadi korbannya. Mas ga mau kehilangan Sena dan juga kamu istriku," ucap Kevin jujur, Kirana yang mendengar penjelasan sang suami langsung memeluk erat sang suami.
"Sabar ya Mas, semua akan berlalu. Semoga mereka dapat ganjaran yang setimpal," ucap Kirana mencoba menguatkan suaminya.
"Iya Bun Mas udah iklas dengan kepergian mereka. Tapi Mas ga rela kalau orang orang yang membuat mereka pergi bebas begitu saja," jawab Kevin. Kirana mengecup kening sang suami. Kini Kirana menyesal karena beberapa hari ini ikut menyakiti suaminya.
"Maafin Bunda ya Mas," bisik Kirana.
"Iya sayang, Mas ngerti. Kamu berhak marah atas kebodohan yang telah Mas lakukan istriku. Kamu berhak menghukum suamimu bodohmu ini," balas Kevin, Kirana makin mempererat pelukannya. Dia menegerti jika suaminya sangat terluka saat ini.
"Mas udah makan?" tanya Kirana.
"Belum Bun."
"Loh kenapa, mau Bunda siapin makan hemm," tawar Kirana.
"Mau Bun, pas banget Mas kangen masakan Bunda," rayu Kevim. Kirana memang tipe yang aneh, jika marah dia akan tidur dan tak mau melakukan apapun.
__ADS_1
Kirana tertawa pelan mendengar jawaban suaminya.
"Kangen kok masakannya. Kangen ma orangnya atuh Mas," goda Kirana.
"Orangnya juga kangen sayang, beberapa hari ini sedih Bun. Mas bobo ditinggal bobo sendiri," ucap Kevin.
"Habis Bunda sebel sama Mas," jawab Kirana manja, Mereka saling melempar senyum, Kevin tak tahan melihat bibir pink sang istri. Dia pun menundukkan wajah Kirana dan bersiap meraih bibir itu. Sayangnya dering ponselnya mengagetkannya. Terpaksa ciuman mesra yang mereka mau jadi tertunda.
"Iya Delon, ada apa?" tanya Kevin.
"Dok, saya ada kirim bukti baru atas keterlibatan Rio tentang prostitusi online dan perdagangan obat terlarang Dok, oia apakah Dokter mau bekerja sama dengan kepolisian untuk menjebaknya. Agar kasus ini langsung masuk ke ranah hukum. Tanpa susah payah kita mengotori tangan kita!" ucap Delon memawarkan jalan terbaik untuk kasus yang sedang mereka selidiki.
"Jangan gegabah dulu Delon, takutnya dia tahu bahwa kita mengintainya. Biarkan saja dulu, biarkan polisi mengendus ini sendiri. Urusan pribadi kita ma lain. Dia sedikit kebal hukum kayaknya, kita cari titik kelemahanya dulu. Aku mau bukan hanya orangnya yang hancur, tapi aku mau jiwanya juga terguncang sama seperti dia menguncangku waktu itu," jawab Kevin sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
Kevin mau Rio merasakan apa yang dia rasakan, Terlalu mudah baginya jika hanya masuk penjara dan mendapatkan hukuman yang tidak sesuai dengan perbuatannya.
Kevin dan Kirana mulai memutar video yang di kirimkan Delon padanya.
"Mas perempuan perempuan itu sepertinya di paksa deh," ucap Kirana saat melihat wanita wanita itu dimasukan ke dalam sel seperti penjara
"Iya Bun, mereka memang dipaksa. Kemungkinan besar awalnya mereka berhutang dan ga mampu bayar," jawab Kevin.
"Ya Tuhan, kenapa ada orang begitu ya Mas, mungkinkah kakakku juga diperlakukan begitu dulu?" tanya Kirana.
"Kayaknya belum seekstrim ini deh Bun, buktinya Denada masih bisa pulang. Mungkin mereka banyak yang kabur apa gimana mangkanya sekarang mereka mengurung mereka agar tak kabur," ucap Kevin.
"Bisa jadi ya Mas," jawab Kirana, jujur saja dia tak mengerti dengan dunia bisnis gelap ini. Kirana juga tak menyangka bahwa dia akan menyaksikan ini. Delon bukan hanya mengirim satu video tapi juga beberapa video kekejaman Rio terhadap para pekerja sex nya. Kirana mengidik ngeri melihat ini.
Bersambung..
Maafkan emak ya gengs, emak lagi repot banget hari ini, up nya satu dulu ya. Ntar emak coba ngetik lagi kalau ga ngantuk. Yang sukak novel berbawang juga boleh banget loh main ke karya emak yang satu ini. Dijamin ga nyesel😍😍.
__ADS_1