
Seminggu kemudian...
Selama seminggu berturut turut Kevin dan Kirana tidur ditempat putrinya. Jujur ini menggelikan bagi orang orang yang kerja dirumah Kevin. Mereka ini sebenarnya kenapa, kan gitu pasti mikirnya.
Hari ini Kevin ada jadwal pertemuan di dua tempat yang berbeda di Jakarta, dia diundang disalah satu kampus ternama di sana untuk memberi materi.
Dikamar Kirana sedang membantu suaminya bersiap. Memasukan keperluan Kevin selama berada di Jakarta.
"Dompet, handphone udah pak?" tanya Rana.
"Kayaknya udah deh bun," jawab Kevin.
"Jangan bilang udah udah, nanti lupa lagi," ucap Kirana sambil mencari keberadaan kedua barang itu. Benar saja saat dia misscall tu HP ternyata masih nangkring cantik di meja rias.
"Hemm, katanya udah tadi. La itu apa masih diposisi sama seperti semalem," omel Kirana. Kevin hanya tersenyum.
Kevin mengambil kemeja yang disiapkan Kirana dan memakainya tanpa kata. Kirana sigap tanpa malu dia pun membantu Kevin mengancingkan kemejanya.
Kevin menerima setiap apa yang diberikan istrinya. Memakai apa yang disiapkan istrinya.
"Makasih ya bun," ucap Kevin, Kirana hanya tersenyum.
"Jangan kangen ya," goda Kevin.
"Enggak," jawab Kirana.
"Bener lo,"
"Dih apaan sih," Kirana masih aja senyum malu malu. Kevin mendekap istri mungilnya dia juga mencium kening Kirana. Sedih rasanya, Kirana menyembunyikam wajahnya didada Kevin. Entah perasaan apa ini nyatanya sekarang dia menangis. Hati tak bisa dibohongi bukan bahwasanya saat ini dia tak rela ditinggal jauh oleh suaminya.
"Loh kok nangis kenapa?" tanya Kevin, Kirana hanya diam sambil menahan tangisnya.
"Jangan nangis lah bun, kamu harus terbiasa dengan ini. Ini belum apa apa lo sayang kamu harus terbiasa dengan jadwal padat suamimu ini nanti, atau mau ikut ke Jakarta?" tanya Kevin sambil tersenyum menggoda istri cantiknya. Kirana masih setia dengan jawaban awalnya yaitu menggeleng.
Kevin mengangkat dagu istrinya, memaksa istrinya untuk menatap matanya."Jangan sedih hemm, mas ga lama kok. Nanti kalau kerjaan mas selesai mas langsung pulang oke," ucap Kevin berusaha menenangkan istri sholehahnya ini.
Kevin kembali mendekap dan mengelus rambut panjang istrinya."Bapak hati hati ya," ucap Kirana.
"Iya sayang mas akan hati hati demi kalian, demi kamu dan Sena," ucap Kevin. Kirana pun menganguk mengerti.
Kevin melihat sedikit celah kepasrahan sang istri. Dia pun memberanikan diri mencium harum pipi Kirana. Bukan hanya pipi mulus itu yang jadi sasaranya. Kirana pasrah saat Kevin mengecup bibirnya.
Dikecupan ketiga Kirana mulai mau membuka bibirnya sehingga memudahkan Kevin untuk mencari celah menikmati bibir yang sudah lama dia idam idamkan.
Meski kaku Kirana mulai berani membalas pangut*n itu. Ciuman Kevin yang awalnya lembut menjadi lebih berani. Bahkan Kirana juga mulai bisa mengimbangi ini.
Kevin melepas ciuman itu, senyuman mengembang diwajah keduanya. Dengan ibu jarinya dia mengelap bibir manis istrinya.
"Jaga diri baik baik ya istriku, mas titip buah hati kita," ucap Kevin. Kirana hanya mengangguk menghiyakan apa yang suaminya katakan.
Kevin kembali mendekap tubuh wanita yang kini mulai dicintainya ini. Kirana pun membalas pelukan itu dengan cintanya.
"Mas berangkat dulu ya, mau ikut kebandara ga?" tanya Kevin.
"Mau," jawab Kirana.
"Oke pakek hijabnya Mas tungguin," pinta Kevin.
"Rana ganti bajunya juga ya tungguin," balas Kirana.
"He em," jawab Kevin. Kevin tak ingin pikiran mesumnya akan menyakiti sang istri. Bisa saja saat ini dia mengikuti Kirana masuk kekamar ganti dan melakukan apa yang hatinya mau. Tapi Kevin tak mau memaksa Kirana untuk menerimanya. Dia ingin pengakuan cinta diantara mereka nyata adanya tanpa paksaan.
__ADS_1
Kirana keluar dari ruang ganti menggunakan gamis warna coklat susu dengan hijab senada. Terlihat sangat kontras dikulit putihnya.
Kevin menatap tak berkedip istri cantiknya. Dalam hati Kevin tak henti hentinya memuji ciptaan Tuhan yang indah ini. Bersyukur sekali Kevin bisa mendapatkan istri sebaik Kirana. Entah disadari atau tidak mantan istrinya ternyata sangat memikirkanya.
Kirana mengambil tas tangannya sesaat setelah selesai memakai liptik tipis. Kevin terus saja memperhatikan gerak gerik istri cantiknya ini.
Andai saja jadwal keberangkatanya bisa ditunda dia pasti akan membujuk Kirana untuk bercinta bagaimanapun caranya. Ah pikiran mesum itu datang lagi.
Kirana menghampiri suaminya yang duduk manis disofa.
"Udah Pak, yuk jalan," Kevin mengulurkan tanganya. Kirana pun menyambut uluran tangan itu. Bukanya berdiri Kevin malah menarik Kirana untuk duduk dipangkuanya.
"Ayuk, nanti telat Bapak!" ucap Kirana pelan, Kevin tersenyum dan kembali mencium harum pipi istrinya.
"Rasanya Mas ga ingin pergi sayang," bisik Kevin. Kirana merinding bukan hanya karena bisikan kata itu tapi bibir Kevin terus mengecup dan mengecup dagunya.
"Udah ya, telat nanti," pinta Kirana.
Kevin tak menghiraukan peringatan istrinya dia malah kembali melanjutkan aksi nakalnya. Kevin mengecup lagi bibir Kirana yang memberikan rasa manis di hatinya itu. Dalam ciuman mereka kali ini Kirana sudah mampu mengimbangi keinginan Kevin, Kirana murit yang baik rupanya. Dan Kevin puas dengan ini.
Tangan Kevin mulai nakal, meremas dan mengelus lengan Kirana. Tentu saja ini membuat Kirana merinding.
"Pak,"
"Hemm,"
"Bapak udah janji kan," ucap Kirana saat tangan Kevin mula menjamah dadanya.
Kirana memegang halus tangan kekar itu. Kevin tak perduli dia malah suka dengan peringatan itu seolah peringatan itu memberinya signal untuk berbuat lebih.
"Jangan mencegahku sayang, kali ini saja," bisik Kevin. Kirana, wanita paham agama ini pun tak menolak bahkan saat Kevin membuka kancing kancing gamisnya pun dia pasrah. Kirana membiarkan suaminya ini menikmati sedikit apa yang dia miliki. Kevin seperti bayi yang kehausan. Menikmati apa yang dia inginkan bahkan dengan aroganya dia meninggalkan beberapa tanda cinta disana.
Kevin menghentikan aksinya kala alarm peringatan diponselnya berbunyi. "Terimakasih untuk ini istriku, aku mencintaimu," bisik Kevin. Meski belum yakin akan ungkapan cinta suaminya tapi Kirana berusaha percaya.
"Jaganin ini semua buat mas ya sayang," pinta Kevin.
"Iya," jawab Kirana lembut.
Kevin mengecup kening istrinya lagi. Kepasrahan Kirana membuat Kevin percaya bahwa wanita dipangkuanya ini telah iklas menerima cintanya.
"Mau dibawain apa dari Jakarta?" tanya Kevin saat mereka sama sama berdiri.
"Bapak pulang dengan selamat aja," duh jawaban yang manis sekali.
"Boleh ga Mas minta sesuatu!"
"Apa,"
"Kamu jangan manggil Mas Bapak dong," pinta Kevin, Kirana hanya tersenyum.
"Lalu?" tanya Kirana.
"Kita ini suami istri lo yank, bukan mbak sama majikan," ucap Kevin.
"Jadiin Kirana istri beneran dulu baru nanti Kirana panggil Bapak dengan sebutan yang bapak mau," jawab Kirana sambil berlari kecil menghindari Kevin. Kevin pun mengejar istri cantiknya dengan senyuman khasnya.
Kevin tau apa yang dimaksud Kirana, tapi dia malah sengaja menggodanya.
Kirana masuk kedalam mobil agar Kevin tak melanjutkan rasa penasaranya. Tapi Kirana paham kalau Kevin pasti mengerti maksudnya.
Kevin meminta kunci mobil yang disiapkan sopir pribadinya. Tentu saja ini membuat Kirana merinding. Ahhh dia bakalan berdua doang ama suami nakalnya ini dimobil.
__ADS_1
"Ahhh, saat nya berangkat, pindah depan dong bun," pinta Kevin.
"Ga mau," jawab Kirana dengan senyuman manisnya.
"Dih teganya suaminya dijadiin sopir," ucap Kevin memelas, Kirana tak tega dia pun pindah kedepan. Kevin tersenyum dengan kemenanganya.
"Nah gitu dong, kan manis," ucap Kevin, Kirana hanya tersenyum malu malu. Kirana tak ingin terciduk jika dia sangat bahagia saat ini.
"Bun,"
"Hemm,"
"Beneran udah siap jadi istri lahir batinya mas?" tanya Kevin sambil mulai melajukan mobilnya.
"Insya Allah," jawab Kirana.
"Nanti pulang dinas boleh ya bun," tawar Kevin tanpa malu malu. Kirana tertawa kecil.
"Loh kok tertawa," ucap Kevin.
"Udah ah, Bapak kerja aja Rana pikir pikir dulu," jawab Kirana malu malu.
"Oke, berarti boleh. Asik buka puasa," ucap Kevin dengan muka konyolnya.
"Dih, belum diijinin juga," balas Kirana.
"Ga mau tau pokoknya bunda udah janji tadi," tambah Kevin tak mau kalah.
"Dih kapan Rana janji."
"Tadi dirumah Mau ubah panggilanya kalau Mas udah itu kan," Kevin makin gencar mendesak Kirana agar mau pasrah.
"Rana mau kalau udah ada rasa antara kita, kalau belum Rana ga mau," jawab Kirana.
"Rasa diantara kita udah tumbuh bunda, bunda aja yang gengsi ga mau ngakuin. Kalau Mas ma udah Yakin kalau Mas udah ada rasa sama bunda saat kita ketemu dipesawat," jawab Kevin, Kirana menatap tak percaya pada suaminya.
"Kok bisa begitu, kan waktu itu Bapak udah sama dia kan!" balas Kirana.
"He em, waktu itu Mas udah sama dia, tapi ga tau kenapa Mas kebayang kamu terus.Oia bun Mas mau jujur sama bunda tapi bunda jangan marah ya," pinta Kevin.
"Enggak, emangnya ada apa?" tanya Kirana.
"Malam itu pas kita bobo bareng Mas nakalin bunda dikit. Yang dibilang Sena benar bun. Mas yang boong, maaf ya sayang. Habis Mas ga tahan kamu manis banget," ucap Kevin sambil merayu istrinya agar tak marah.
"Kirana udah tau itu, udah ada yang kasih tau juga selain Sena. Mau marah juga percuma kan. Lagian udah terjadi," jawab Kirana.
Kevin mentap tak percaya pada istrinya, rupanya Kevin lupa dengan kelebihan istrinya.
"Siapa yang kasih tau bun?" tanya Kevin.
"Mbak yang jagain rumah Bapak lah siapa lagi,"
"Mbak, mbak siapa bunda. Waktu itu kan hanya kita bertiga," ucap Kevin mulai merinding.
"Siapa bilang, Bapak lupa kalau Kirana banyak temen,"
Aduh iya, kenapa bisa melupakan ini. Bodoh sekali aku, batin Kevin.
"Aahh whatever lah bunda yang penting mas udah jujur dan nanti kalau pulang dinas Mas mau buka puasa bunda udah janji boleh pokoknya," ucap Kevin bersemangat.
Kirana tak mau menjawab kekonyolan suaminya. Aku istrimu suamiku suka suka kamu aja lah. Yang penting kamu selalu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.
__ADS_1
Bersambung....