
Lusi sudah kembali ke Surabaya tadi pagi, Kevin merasa sedikit bebas mengunjungi putrinya sekarang.
Kevin mengirim chat pada Ibu asuh putrinya bahwa sebentar lagi dia akan datang untuk menjemput Sena.
Kirana tak mau membalas chat itu dia malah merasa gugup," Aneh sekali biasanya aku biasa biasa aja dia dateng kenapa sekarang aku jadi gugup gini," gerutu Kirana.
"Namanya juga cinta buk," saut seseorang yang tak asing bagi Kirana siapa lagi kalau bukan sosok tak kasat mata yang selama ini nemenin Kirana.
"Cinta cinta hantu kok tau cinta," bantah Rana.
"Dih, biar hantu juga pernah kali jatuh cinta," jawab Rani.
"Mana ada begitu!" ucap Rana tak percaya.
"Ya adalah, emang manusia doang yang punya hati heh, eh ngomong ngomong pak Dokter tampan ya," ucap Rani sambil mesam mesem sendiri.
"Dih," saut Rana.
"Loh kok dih, kenyataan kok," tambah Rani makin semangat menggoda sahabatnya, Rana tak mau terlalu mengiraukan gurauan Rani, dia malah memilih masuk kekamar dan membantu Sena bersiap.
"Hay cantiknya bunda, siap siap yuk bentar lagi papi jemput," ucap Kirana sambil merapikan peralatan gambar Sena.
"Papi mau dateng bunda, emang ga takut sama onty Lusi?" tanya Sena lugu, anak ini emang pinter, sepertinya dia ga bisa dicolong soal fakta yang terjadi.
"Enggak kali dek, kan onty udah balik ke Surabayakan," jawab Rana.
"Ooo, mungkin papi malu kali ya bun punya anak Sena!" ucap Sena.
"Enggak lah sayang, papi bukan orang seperti itu," ucap Kirana berusaha menghapus pemahaman yang ada dipikiran putrinya.
Rana memakaikan dres cantik untuk putrinya agar saat bertemu papinya dialah yang akan jadi gadis tercantik yang ada dimata papinya.
Sena sudah siap dengan dres cantinya, tapi Kirana malah masih memakai baju tidur dan kerudung santainya.
"Kok bunda belum ganti?" tanya Sena.
"Bunda banyak kerja sayang, malam ini bunda ga ikut ya, jangan nakal nanti sama papi," ucap Rana, Sena mengangguk menurut tapi bibirnya cemberut, Rana hanya tersenyum melihat putrinya merajuk dia merasa lucu jika Sena seperti itu
Seperti janjinya Kevin pun datang, menyapa putrinya yang sudah terlihat cantik dan menggemaskan.
"Hay," sapa Kevin sambil mengsejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh Sena, Sena masih saja cemberut tak mau senyum.
__ADS_1
"Loh, putri papi kenapa ini?" tanya Kevin, Sena hanya mengoyang goyangkan tubuhnya pertanda dia tak menyukai keadaannya sekarang.
"Kenapa?" tanya Kevin pelan sambil mengkode Rana.
"Dia mau Rana ikut pak," ucap Rana.
"La emang ngapain bunda ga ikut, ayo ikut orang kita mau jalan jalan bareng," ucap Kevin sambil berdiri dan mengangkat tubuh mungil putrinya.
"Tapi pak Rana banyak kerja," jawab Kirana.
"Bawa kerjaan kamu, kita jalan jalanya ga lama kok, nanti kamu bisa kerjain dirumahku," desak Kevin, astaga bapak dan anak hobinya maksa.
"Baiklah," ahirnya Rana menyerah, dia pun merapikan pekerjaanya dan menganti pakaiannya.
Rana keluar kamar dengan menggunakan gamis berwarna hijau rumput dan juga hijab senada, sungguh sangat mempesona batin Kevin, gadis ini manis banget sih meski hanya tersentuh make up tipis tapi kecantikan natural Kirana lah yang mampu membuat hati Kevin bergetar.
Kevin membukakan pintu untuk Kirana dibelakang tapi Sena sudah mendahuluinya.
"Bunda depan aja, Sena mau dibelakang, Sena mau yang banyak tempatnya," astaga anak ini emang best tau aja apa yang papinya mau batin Kevin sambil tersenyum licik.
"Loh kok gitu," jawab Rana heran.
"Ga papa Ran aku ga akan ngapa ngapain kamu," ucap Kevin dengan senyuman manisnya.
Kevin sudah memesan tempat rupanya, restauran out dor dipinggir pantai, malam itu sangat romantis bahkan Kirana sempat menangkap sepasang kekasih yang sedang berciuman didepanya.
"Astaga," gumam Kirana sambil mengalihkan padanganya, Kevin yang tau apa yang membuat Kirana seperti itu langsung mengeluarkan candaanya.
"Kenapa Ran," goda Kevin.
"Enggak, ga kenapa napa!" jawab Rana sedikit ketus.
"Pengen ya," Kevin makin suka jika Kirana begitu.
"Dih," cibir Kirana.
"Tenang kalau kamu mau ntar aku ajarin," ucap Kevin, Kirana tak mau meladani candaan Kevin karena disana ada Sena putrinya, rasanya tak pantas jika dia membahas hal begituan didepan anak kecil.
"Dasar," umpat Kirana.
Kevin tak kehilangan akal dia pun mengirim balasanya lewat pesan yang dia tulis dihandphonenya.
__ADS_1
"Santai nanti sampai rumah aku ajarin," goda Kevin.
"Omes," balas Kirana.
"Kamu pasti belum pernah kan?" balas Kevin lagi, Rana menatap wajah menyebalkan Kevin.
"Biarin," ucap Kirana, Kevin pun membalas ucapan Kirana melalui pesanya lagi.
"Enak lo Ran, beneran ga pengen," tulis Kevin, dengan emosinya Kirana pun menjawab."Enggak pak Dokter, puas," jawab Kirana dengan nada agak tinggi, Kevin hanya tertawa melihatnya.
....
Malam semakin larut Sena juga sudah terkihat sangat lelah, Kevin pun mengerti dan segera menggendong tubuh mungil putriya.
Tapi dia sedikit terkejut bawasanya suhu tubuh Sena sedikit tinggi.
"Ran," ucap Kevin.
"Apa lagi,"
"Astaga ketusnya, aku ga ngajakin kamu ciuman Ran, cuma?" ucap Kevin masih mencoba mengetes suhu tubuh Sena dengan pipinya.
"Cuma apa pak, wik wik," saut Rana, ingin rasanya Kevin tertawa tapi mengingat gadis digendonganya panas tawa itu pun ditahanya.
"Wik wik ya bukan lah, ini lo Ran kayaknya Sena demam," ucap Kevin, Kirana pun langsung memegang dahi putrinya, benar saja Sena memang demam.
"Bener pak, Sena demam sebaiknya kita segera pulang pak," ajak Rana, tak menunggu waktu lagi mereka pun segera berjalan menuju mobil.
"Sena ga ada elergi obat kan Ran selama ini?" tanya Kevin, duh aku ini orang tuanya dokter pula tapi tak pernah tau tentang anaknya.
"Ga ada pak rasanya, Sena kalau demam gini paling Rana kompres tapi kalau ga turun panasnya ya Rana kasih sanmol aja," jawab Kirana, Kevin pun langsung menginjak gas mobil yang dikendarainya, diperjalanan Kevin terlihat gugup, dia dokter biasa menghadapi pasien bukan tapi kenapa dia sangat gugup saat menghadapi putrinya sendiri.
Kevin membopong Sena dan segera membawa kekamarnya, Rana menyiapkan peralatan untuk mengopres sedangkan Kevin mengambil obat yang ada dikotak obatnya.
Kirana mengganti pakaian Sena dengan baju tidur kemudian mulai mengopres gadis cilik inu, Rana terlihat sangat cekatan saat perawat Sena sehingga menimbulkan rasa kagum pada wanita pengasuh putrinya ini.
"Dek mimik obat dulu ya," ucap Kevin, Sena menggeleng dan menutup mulutnya.
"Ga papa sayang kan papi kasih obatnya manis ya kan pi," bujuk Rana.
Sena masih menatap tak percaya, tapi Kirana terus membujuknya hingga Sena pun mau menuriti perintahnya.
__ADS_1
Kekaguman Kevin terus bertambah seiring dengan usaha Kirana membujuk putrinya, pujian untuk wanita yang kini berhasil masuk kedalam hatinya itupun terus menggema bagai alunan musik cinta yang hatinya nyanyikan
Bersambung....