
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Lusi dan Bu Dewi makin akrab. Sejak pertemuan pertama mereka, Bu Dewi suka sekali mengajak Lusi mengobrol lewat pesan chat atau mereka akan berlama-lama mengobrol di telpon soal Viola kadang-kadang juga soal resep masakan. Biasalah wanita.
Seperti siang itu, Lusi di temani Kirana mengantarkan baju yang di pesan Novi untuk acara resepsi pernikahannya.
"Ran, yang untuk cowok udah masuk semua belum?" tanya Lusi.
"Udah Mbak, yang cowok cuma tinggal empat kan. Om, pengantin, adeknya sama pak dokter doang. Yang cewek baju buat akad ama ada tambahan satu gaun buat Viola," ucap Kirana.
"Oke lah kalau udah ready. mari lah, keburu siang!" ucap Lusi. Kirana pun siap di kursi kemudi dan mulai melajukan kendaraannya.
"Ran, mami mau ngajak aku ke Palembang. Malas bener dah, aku suka di Bali aja!" ucap Lusi.
"Ngapain ke Palembang Mbak?" tanya Kirana.
"Mami mau jodohin aku sama anak temennya. Kesel bener dah, dijodohin mulu!" jawab Lusi lemas.
"Mending Mbak sama pak dokter aja. Pak dokter kan ganteng Mbak, udah gitu dapet bonus putri cantik lagi. Kayak aku hahaha," goda Kirana.
"Ngaco kamu. Diam ah, ngledek mulu. Kamu ama suamimu sama aja. Sama-sama gila!" umpat Lusi malu.
"Ya nggak pa-pa Mbak. Namanya juga usaha!" balas Kirana.
"Usaha dari mana, udah ah ... curhat ama kamu ma sama aja buka aib," Lusi makin gemas dengan sahabatnya.
"Ya kali aja beneran jodoh Mbak," tambah Kirana. Lusi hanya tersenyum kecut. Lusi tak berani berharap mengingat dia pernah melakukan kesalahan. Apa mungkin Aldo bisa menerima kesalahan itu. Entahlah.
Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam ahirnya mereka pun sampai di rumah Dokter Aldo.
Kirana memarkirkan mobilnya di tempat biasa, dia memang sering ke sini. Maklum Kevin dan Aldo kan sahabatan. Terkadang kalau nggak sempat masak Bu Dewi suka pesan rendang pada Kirana.
Rendang bikinan Kirana selalu jadi favorit keluarga Aldo.
"Siang tante," sapa Kirana dan Lusi.
"Siang, ayo masuk-masuk!" ajak Bu Dewi. Seperti sudah direncanakan siang itu Aldo sedang tak bertugas. Dia terlihat asik menonton TV di ruang tamu rumahnya. Aldo terlihat cuek walau ada tamu yang datang. Aldo memang agak dingin dengan orang yang sudah biasa dia temui.
"Eh, Pak Al libur?" tanya Kirana pada Aldo.
"Libur Ran, masuk malam," jawab Aldo singkat. Lusi dan Aldo terlihat gugup, mereka hanya bertegur sapa lewat anggukan kepala dan senyum saja.
"Ayo duduk-duduk," ucap Bu Dewi mempersilakan tamunya untuk duduk.
"Calon pengantin mana Tant?" tanya Lusi.
__ADS_1
"Lagi nidurin si Vio, dia lagi rewel. Biasa giginya mau tumbuh. Jadi agak rewel," jawab Bu Dewi.
"Sumeng nggak Tant, duh kasihannya. Pasti dia ngrasain sakit banget," ucap Lusi khawatir.
"Iya rasanya pasti kayak orang sakit gigi gitu kan Bu," tambah Kirana. Tak lama terdengar Viola memangis. Ingin rasanya Lusi masuk kekamar itu dan membantu menenangkan Viola. Novi bingung karena tak mampu menenangkan Viola. Dia pun membawa Viola keluar.
"Masih nggak mau mimik susu Nov?" tanya Bu Dewi.
"Nggak mau Ma, mungkin dia lagi ngrasain sakit kayaknya," jawab Novi.
"Mbak Nov, boleh saya coba?" tawar Lusi.
"Ini Mbak kalau nggak ngrepotin," jawab Novi. Lusi pun langsung beranjak dari duduknya dan mengambil alih Viola.
"Eee ...tayangnya (sayangnya) Onty. Kenapa anak manis, Kenapa sayang, giginya sakit ya heemm. Susah mimik susunya. Onty suapin ya," ucap Lusi sambil menciumi pipi gembil baby Vio. Seketika Viola diam dan tersenyum menggemaskan pada Lusi. Semua orang jadi memperhatikan cara Lusi menenangkan Viola.
"Mbak Nov, minta gelas ama sendok kecil dong. Biar Onty yang suapin," ucap Lusi. Novi pun menuruti permintaan Lusi, dengan tenang dan penuh kasih sayang akhirnya Viola pun mau dan menghabiskan susunya. Lusi menggendong tubuh munggil baby Vio sambil menepuk nepuk punggungnya. Seolah merasa sangat nyaman akhirnya Viola pun tertidur di gendongan Lusi.
"Mau diboboin dimana ini Mbak Nov?" tanya Lusi.
" Di kamar papinya aja Mbak Lusi," ucap Novi.
"Oh, ini," ucap Lusi, nggak mungkin dong dia masuk ke kamar cowok.
"Al, antar lah Lusi kekamarmu, biar dia aja yang boboin Vio. Nanti kalau pindah tangan Vionya bangun. Kasihan dari semalem nggak bobo," ucap Bu Dewi. Aldo pun tak menjawab, dia pun menuruti perintah mamanya.
Aldo pun membukakan pintu untuk Lusi yang membawa Viola di gendongannya.
"Masuk Mbak," ucap Aldo. Lusi hanya tersenyum.
"Saya tidurin di mana Pak Dokter?" tanya Lusi.
"Di bok nya aja Mbak," jawab Aldo.
"Oke!" dengan hati hati Lusi pun menaruh baby Vio di tempat yang Aldo maksud.
Lusi menepuk pantat Viola dan mengelus punggung gadis cilik itu. Aldo hanya menunggu dan memperhatikan mereka berdua.
"Kayaknya dedek udah terlelap deh Pak," ucap Lusi.
"He em, makasih ya Mbak," ucap Aldo.
"Sama-sama Pak, kasihan sekali dia," ucap Lusi sambil mengelus pipi Viola. Rasanya berat sekali hendak melangkah keluar untuk meninggalkan baby itu. Lusi hanya tersenyum mana kala Aldo masih setia menunggunya.
__ADS_1
***
Di lantai bawah, ada Kirana, Bu Dewi dan Novi lagi merencanakan sesuatu untuk menjodohkan mereka.
"Kayaknya Bu Lusi mau di jodohin ama maminya deh tant, sama saudara jauh mereka," ucap Kirana.
"Eh, enggak enggak, itu nggak boleh terjadi. Kayaknya Lusi lebih cocok jadi ibunya Vio. Dia sabar sekali sama Viola, Kiran. Mbok tante minta tolong bujuk Lusi supaya mau nikah sama Al aja," pinta Bu Dewi. Kirana hanya tersenyum.
"Kayaknya kalau yang ngomong mama bakalan mau deh ma, nanti Novi ama Mbak Kiran bantuin," ucap Novi.
"Iya Deh biar mama yang ngomong, nanti soal Mas mu biar Papa sama Kevin yang ngomong. Mama sih yakin mereka mau!" ucap Bu Dewi antusias sekali.
Keyakinan mereka bertambah mana kala mereka melihat Lusi dan Aldo turun dari lantai atas sambil ngobrol layaknya teman.
"Mas, cobain dulu bajunya," pinta Novi.
"Oke mana?" pinta Aldo. Lusi pun memberikan satu stel tuxedo milik Aldo.
"Ran, bantuin Pak Dokter benerin gi?" suruh Lusi.
"Loh kok saya, kan nyang ngukur plus bikin kan Mbak. Ya Mbak lah yang bantuin," tolak Kirana.
"Kok kamu aneh Ran, biasanya walau aku yang bikin kamu nggak pernah nolak," jawab Lusi bingung.
"Eh, ngapain ribut udab Lusi aja yang bantuin Al. Tante pinjem Kirana, mau diskusi soal katering," ucap Bu Dewi sambil mendorong mereka masuk ke dalam salah satu kamar.
Mereka berdua pun tak berkutik ketika di masukan kedalam satu kamar. Lebih parahnya Bu Dewi mengunci mereka dari luar.
"Pak Dokter, kok kita dikunciin?" tanya Lusi bingung.
"Dasar si mama, niat banget jodoh-jodohin kita," jawab Aldo.
"Hah, jodohin. Maksud Pak Dokter?" tanya Lusi.
"Kamu nggak usah pura-pura bodoh deh. Ini semua gara- gara kamu. Sok deket Vio lagi, nggak usah. Nggak usah sok akrab kamu sama keluarga saya. Saya nggak suka," ucap Aldo. Seketika Lusi terdiam, seluruh suaranya seakan menumpuk di tenggorokan. Astaga, Lusi sama sekali tak bisa berkata-kata.
Setelah berkata seperti itu, Aldo pun masuk ke kamar mandi dan menganti pakaiannya. Dia terlihat kesal dengan Lusi.
Lusi masih menunggu di tempatnya tadi. Peradaan Lusi sedikit tergores dengan ucapan Aldo barusan. Lusi bingung, tapi sungguh dia tak ada maksud lain, dia hanya menyukai Vio. Apa salah?.
Lusi berusaha tak meneteskan air matanya, mulutnya masih dia kunci rapat. Agar Aldo tak tahu bahwa dia terluka.
Bersambung..
__ADS_1
Teman boleh banget nih mampir ke karya sahabatku..di jamin kalian pasti sukak. Like dan komen kalian selalu emak tunggu ya..😍😍😍