
Kirana dan Sena sudah terlelap, tapi tidak dengan Kevin dia malah mencuri kesempatan mengambil foto mereka tidur bersama. Bahkan Kevin mendekatakan wajahnya ke wajah Rana, ga tau apa sebenarnya maunya. Dia memang iseng.
Malam ini kembali Kevin mengagumi kecantikan gadis yang dengan suka rela mengasuh putrinya.
"Kamu cantik sekali ternyata Ran," gumam Kevin.
"Boleh ya Ran aku cium kamu," tambahnya.
Kevin pun mulai mengecup kening wanita ini, mengusap pipi mulus itu dan menghirup aroma vanila dari pipi Kirana, masih tak ada respon. Kevin pun mengulagi perbuatanya berkali kali bahkan dia berani mengecup dan memangut lembut bibir Kirana.
Kirana merasakan sesuatu yang menganggunya, sedikit menggeliat tapi masih saja tak bangun. Kevin cepat cepat kembali ke posisi awalnya dan tertawa sendiri mengingat kejahilanya.
Sekejap Kevin lupa akan hubungan yang dia jalin bersama Lusi, sepertinya pesona Kirana lebih kuat menarik perhatianya. Kebaikan Kirana, kelembutanya bahkan kasih sayangnya pada putrinya yang tulus, ahhh Kirana kamu sudah mampu memikatku sekarang.
Dasar pria egois, kekagumanya pada Kirana telah membuatnya tak rela dija seandainya Kirana dimiliki pria lain, disisi lain hati Kevin juga gundah dia juga tak ingin kehilangan Lusi.
Kevin beranjak dari pembaringanya dan pergi menuju ruang kerjanya, duduk termenung disana memikirkan apa yang sebenarnya hatinya inginkan.
Didalam hatinya terus bertanya apakah dia salah jika menginginkan Kirana juga. Memilih antara Lusi dan Rana sangat sulit baginya, sepertinya mereka memiliki keistimewaan sendiri sendiri dihati Kevin.
Kevin gelisah, mondar mandir bingung memikirkan ini.
"Tidak tidak, aku tidak boleh merusak gadis baik itu, kamu duda brengsek Kevin, dia gadis baik, dia berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari kamu," gumam Kevin.
Tapi tak dipungkiri bahwasanya hatinya juga perih membayangkan Rana dan Sena yang nantinya akan hidup bersama orang lain selain dirinya.
Jika boleh jujur Kevin sangat bahagia bisa berdekatan dengan ibu asuh putrinya itu, perhatian Kirana pada Sena, tutur katanya, keluguanya, ahhh Kirana apa yang harus aku lakukan.
Kevin kembali kekamarnya, duduk disisi ranjang dan menikmati wajah teduh wanita yang kini membuat goyah hatinya. Ditatapnya wajah sendu itu, Kevin tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang barusan dia lakuakan.
"Ah, sekali lagi boleh kali ya," gumam Kevin.
Dia pun mendekatkan wajahnya dan mulai melancarkan aksinya lagi, jika kali ini Kirana bangun dia tak perduli yang jelas dia menyukai ini.
"Dasar tukang tidur," umpat Kevin pelan, sambil mengelus pelan pipi mulus wanita cantik ini, kembali dia mengecup bibir manis Kirana.
__ADS_1
"Kami menggemaskan sayang sama seperti putri kita," ucap Kevin lagi, Rasanya Kevin enggan menyudahi pencurian memalukan itu.
Kirana mampu mengisi amunisi gairah dalam diri Kevin, apa sebabnya? entahlah Kevin sendiri pun bingung.
Kevin kembali merebahkan tubuhnya disamping putri cantiknya, memeluk maja gadis cilik ini, "Kamu juga wangi dek sama kayak bundamu, kamu dikasih apa sama bundamu heemmm sampai bisa sewangi ini, bersama kalian papi bahagia dek," ucap Kevin. Dasar pria mesum, otaknya isinya cuma bisa bagaimana caranya melampiaskan hasratnya.
Kevin baru mulai memejamkan matanya, tiba tiba Sena membuka matanya, Sena tersenyum lucu karena dia tak sengaja mendengar ucapan papinya.
Sena beringsut pelan pelan melepaskan tubuhnya dari pelukan papinya dab berpindah tempat menjadi dibelakang Kirana.
"Bunda Sena mau disini," ucapnha, Rana yang hanya mendengarkan ucapan putrinya pun tanpa sadar bergeser menjadi disebelah Kevin persis.
Sepertinya Kirana lupa bahwa malam ini tidur dirumah Kevin.
Tanpa Kevin dan Rana sadari setiap gerak gerik mereka ada yang mengintai, dia adalah Rio mantan suami Lusi. Sepertinya Rio tak rela jika Lusi bersama pria lain. Tentu saja Rio tak mau kecolongan, dengan akal bulusnya dia mulai menyusun rencana untuk memisahkan Lusi dan Kevin.
.....
Surabaya..
Lusi dikejutkan dengan dengan kedatangan pria yang tak disangkanya, siapa lagi kalau bukan mas mantan.
Terdengar suara ketukan pintu ruangan kerja Lusi, Lusi pun menghentikan sementara pekerjaanya.
"Masuk,"
Pintu pun dibuka, masuklah asisten rumah tangga Lusi kedalam ruang kerjanya.
"Ada apa Sya," ucap Lusi.
"Maaf bu ada yang mencari ibu namanya pak Rio, boleh beliau masuk?" tanya Risya pegawai Lusi.
"Mas Rio, ngapain dia kesini bukankah udah ga ada urusan lagi," batin Lusi.
"Suruh masuk aja Sya nanti aku kesana," ucap Lusi, Risya pun menyampaikan pesan itu pada Rio, dengan santai pria itu duduk diruang tamu rumah Lusi.
__ADS_1
" Malam mantan istriku sayang, apa kabar honey makin cantik aja?" sapa Rio sambil menggodanya, Lusi tak menjawab dia hanya diam tak perduli.
"Kok ga dijawab sapaanya!" goda Rio lagi.
"Dih apaan sih, ngapain kesini?" tanya Lusi ketus.
"Dih ketusnya, ga kangen ama aku ya?" tanya Rio lagi sambil berdiri meraih pinggang mantan istrinya.
"Apasih sana ah, lepasin mas ih," ucap Lusi marah.
"Lepasin enak aja, kamu mengingkari janjimu honey, bukankah kamu bilang mau setia sebelum kita sama sama menyadari kesalahan kita, lalu kenapa dengan mudahnya kamu bercinta dengan pria lain sayang hah, sudah berapa lali dia memakan tubuhmu, katakan," ucap Rio, diahir kalimatnya dia mengeraskan suaranya, Lusi yang merasa diperlakukan tidak adil pun meronta.
"Apa maksud mas hah, enak sekali mas bilang begitu, sekarang Lusi tanya berapa kali mas ganti perempuan hah, lalu kenapa Lusi ga boleh tidur dengan pria lain, dasar egois," ucap Lusi geram. Seolah ditantang Rio pun mengangkat tubuh Lusi dan membawanya kekamar.
"Mas mau ngapain lepasin Lusi mas, jangan kayak gini, kita udah ga ada hubungan apa apa bukan, massss lepasin," ucap Lusi terus saja meronta, berusaha melepaskan tubuhnya dari jeratan pria yang pernah menikahinya.
Seolah tak mendengar teriakan Lusi, Rio malah nekat dia merobek dres yang dipakai oleh mantan istrinya ini.
Rio mulai mencumbu dengan kasar dan membabi buta, bahkam saat ini ciuman dan kecupan Rio sudah berada didada Lusi.
Dengan tenaga yang masih tersisa Lusi terus melawan, sayangnya tenaga Lusi kurang kuat dibanding kekuatan Rio. Pria kekar ini sangat kuat terlebih saat ini Rio telah dikuasai oleh nafsu.
Rio terus mencumbu mantan istrinya, kecuman demi kecupan telah dia lancarkan, bahkan tanganya sudah bergerilya kesana kemari. Rio hafal betul titik kelemahan Lusi, lama kelamaan tenaga Lusi melemah, dengan terpaksa Lusi pun menikmati cumbuan arogan mantan suaminya.
Seolah saling mencintai mereka pun bernostalgia melampiaskan apa yang sudah Rio mulai, kecupan arogan Rio berubah menjadi kecupan hangat yang menggairahkan, Lusi tak menolak sekarang bahkan dia mulai mau mengikuti permainan salah ini dengan senang hati. Membalas lu"atan dan kecuman itu dengan suka rela.
Berkat kelihaian tangan Rio kini Lusi sudah terlihat polos tanpa sehelai benangpun, Rio tersenyum licik dalam hati.
Tampa Lusi sadari dia pun membatu Rio melepaskan satu persatu kancing kemeja yang dikenakan mantan suaminya ini. Tidak dipungkiri bahwa Lusi sangat merindukan kehangatan ini
Percintaan panas telah mereka mulai, Lusi pasrah saat mantan suaminya ini menyatukan raga mereka. Hentakan demi hentakan Rio hadiahkan untuk mantan istrinya.
Entah kerinduan atau hanya nafsu semata, nyatanya malam ini mereka saling menghangatkam satu sama lain.
Derasnya hujan telah menjadi saksi bisu pergumulan panas dua anak manusia yang pernah terikat cinta ini.
__ADS_1
Rio tersenyum puas kala hasratnya sudah terlapiaskan, ahh kamu masih sama seperti yang dulu Lusi, batin Rio.
Bersambung....