
Di dalam pesawat Kirana terus saja diam. Sebenarnya dia ingin sekali mendiskusikan masalah ini dengan Kevin. Tapi melihat Kevin yang kelelahan membuat Kirana tak tega.
"Mas, capek kah?" tanya Kirana.
"Sedikit Bun," jawab Kevin. Entah kenapa kepalanya terasa sangat berat. Matanya juga pengennya merem.
"Ngantuk banget Bun. Sakit banget kepala Mas," ucap Kevin. Kirana pun langsung menaikan pembatas tempat duduk mereka dan memijat kepala suaminya.
"Mas kok panas badannya," ucap Kirana sambil memegang dan memijat kening Kevin.
"Besok cuti aja Mas, badanmu panas banget loh," ucap Kirana khawatir.
"Iya deh, Mas juga kangen ama Sena," jawab Kevin. Kevin pun memegang tangan istrinya dan mencium tangan yang sudah membuatnya sangat bahagia itu.
"Makasih banyak ya Bun, kamu selalu ada buat Mas dan Sena," ucap Kevin.
"Iya suamiku, sejak Mas ikat Bunda, berarti Bunda adalah milik kalian," ucap Kirana, aduh uwunya kalian ini. Senyum mengembang di bibir keduanya, dengan cintanya Kevin pun mencium kening sang istri.
"Tadi siang Sena nangis Mas kata mbaknya," ucap Kirana.
"Kenapa, lihat hantu lagi?" tanya Kevin.
"Bukan, ikan yang baru Mas belikan mati kata mbaknya. Dibuang nggak boleh, dielus-elus dibawanya kemanapun dia pergi. Ampek ke kamar mandi pun dibawanya," jawab Kirana menceritakan kelucuan putri mereka. Kevin tersenyum mendengar cerita lucu Kirana.
"Yang ****** apa yang mana yang mati Bun?" tanya Kevin antusias sekali.
"Ya yang ditaruh di kamarnya itu lo Mas!" jawab Kirana.
"Oh, yang ****** yang selalu dia panggil oik," balas Kevin.
"He em, penyayang bener putri kita ni Mas," ucap Kirana, rasanya bahagia banget kalau ngomongin Sena. Ada aja topiknya.
"Kayak Bundanya lah, Bunda kan penyayang," balas Kevin.
__ADS_1
"Heeeemmm, Mamas ngrayu, nggak mempan."
"Serius Bunda, Mas nggak ngrayu. Kamu tu cute Bunda selalu bisa bikin Mas jatuh cinta," balas Kevin. Lirikan mata pria itu dibalas penuh cinta oleh Kirana.
Mereka kembali melempar senyum malu malu.
"Kenyataannya bikin Kirana malu Mas," ucap Kirana dalam senyum khasnya.
"Malu kenapa Bun?" tanya Kevin penasaran.
"Aku jatuh cinta sama iparku," jawab Kirana sambil tersenyum, mukanya terasa panas hingga wajah itu berubah jadi merah.
"Nggak pa pa, iparmu kan tampan Bun. Yang penting kan nggak malu maluin kalau dibawa kondangan," jawab Kevin asal.
"Dih PD (percaya diri). Udah tua aja," balas Kirana.
"Tapi kan masih strong Bun," bisik Kevin, Kirana geram dia pun memukul manja paha suaminya. Suasana romantis selama perjalanan menuju Bali itu begitu indah mereka rasakan. Banyak sekali yang mereka perbincangkan, sayangnya Kirana belum berani menceritakan tentang apa yang Lusi takutkan akan pernikahannya.
Disisi lain, Lusi dan Aldo sama sama belum bisa memejamkan matanya. Lusi masih mengingat kelas kata yang diucapkan oleh Aldo barusan.
Air mata Lusi mengalir begitu saja. Tuduhan Aldo begitu menyakitkan baginya. Tanpa sengaja beberapa kali sempat Aldo melihat Lusi mengusap air matanya. Membuat Aldo sedikit tak tega.
Malam semakin larut, mata Lusi pun semakin terasa sangat berat. Dia pun terlelap dalam kesedihannya.
Aldo tak melihat sekilas istrinya yang berbaring meringkuk di bawah sofa tempatnya. Sayangnya tak ada perasaan iba sedikitpun di sana. Aldo tetap pada pendiriaanya.
Pagi menjelang, Lusi pun sudah mandi dan cantik. Tapi dia tak berani membangunkan suaminya. Lusi memilih diam dan menghindar. Lusi tak mau dinilai mencari muka pada Aldo.
Tak lama Aldo pun bangun dari tidurnya sebelum Bu Luluk bangun. Kalau keduluan maminya alamat Lusi akan dihadapakan pada pilihan yang sulit lagi.
Suasana kembali kaku, tak sapaan diantara mereka. Mereka terlihat saling menjaga jarak. Lusi masih di slimuti ketakutannya sedangkan Aldo masih dengan kebenciannya.
Dokter telah melakukan pemeriksaan rutin pada Bu Luluk, Aldo pun ikut membaca dan menganalisanya. Semua terlihat stabil. Tinggal mengikuti prosedur dan petunjuk dokter maka semuanya akan membaik.
__ADS_1
Lusi tak berani bertanya keadaan ibunya pada Aldo, Lusi malah memilih diam dan menunggu papinya datang. Entah mengapa kini Aldo menjadi momok paling menakutkan baginya. Andai dia bisa memilih, Lusi ingin segera mengahiri ini.
Pak Rudi datang untuk mengantikan Lusi dan Aldo berjaga. Dia pun tak henti hentinya berterima kasih pada menantunya karena Pak Rudi menilai bahwa Aldo sangat baik dan berhati baik. Dia tidak tahu bahwa Aldo seperti monster bagi putrinya.
"Kalian pulang saja istirahat, biar Papi yang gantian jaga Mami kalian," ucap Pak Rudi. Dan Lusi pun menurut, dia pun mengajak Aldo pulang.
Dalam perjalanan menuju parkiran suasana kembali hening dan mencekam. Tak ada perbincangan apapun di sana. Sampai Lusi memencet kunci mobilnya pun mereka masih diam.
Lusi sudah siap di kursi kemudi. Sedangkan Aldo duduk manis di sebelah Lusi.
"Sebaiknya kita buat kesepakatan Lus," ucap Aldo. Mulai berani membuka obrolannya.
"Silakan Pak, sesuai yang Bapak mau saja," jawab Lusi. Tak ada gunanya juga. Tak ada yang mau mendengar isi hatinya juga kan, jadi buat apa melawan. Semua sudah Lusi iklaskan.
"Apa kamu beneran sayang sama Vio?" tanya Aldo.
"Sayang," jawab Lusi singkat.
"Oke, nanti kalau kita udah balik ke Bali kamu boleh tinggal di rumah pribadiku bersama Vio. Yang penting kita tidak sekamar dan tidak ikut campur urusan pribadi masing masing," pinta Aldo. Lusi tak menjawab. Mau bagaimanapun keadaannya nanti tetap saja semua menyakitkan baginya. Rasanya akan tetap sama.
"Bagaimana Lus kamu siap kita hidup seperti itu. Tetap menjaga jarak dan tetap menjadi orang lain?" tanya Aldo lagi.
"Baik Pak," jawab Lusi singkat. Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Semua sudah jelas bahwa pernikahan ini bukan apa apa. Dan tak akan pernah terjadi apa apa. Semua akan berjalan sesuai alurnya Lusi, percayalah seperti kata Kirana bahwa semua akan baik baik saja.
Lusi mulai menjalankan mobilnya, dengan mengumpulkan selurih keberaniannya Lusi pun bertanya ," Bapak mau saya antar kemana?" tanya Lusi.
"Aku laper mau makan. Di sini ada resto yang buka?" tanya Aldo.
"Belum ada Pak, apa Bapak mau pulang ke tempat saya. Nanti saya buatkan makan. Itung itung saya balas kebaikan Bapak sudah berbaik hati menemani saya tadi malam," tawar Lusi. Dengan harga diri yang dia junjung tinggi Aldo pun menerima itu dengan senang hati.
"Boleh, aku lapar," jawabnya pelan. Lusi pun mengarahkan kendaraanya menuju rumah pribadinya. Kembali tak ada perbincangan lagi. Aldo sibuk dengan ponselnya sedangkan Lusi pun berkonsentrasi terhadap jalanan yang ada di depannya.
Bersambung....
__ADS_1