
Sena menatap kosong kearah jendela ruangan kamar rumah Lusi, malam ini mereka memang menginap dikediaman bos Rana, karena besok mereka akan berangkat ke Bali dan stay disana.
Rana masih aja cuek karena dia tak melihat apa yang putri nya lihat. "Bobo yuk sayang," ajak Rana sambil menepuk pundak Sena.
Sena masih saja tak bergeming, dia masih saja menatap lepas le arah jendela.
Tumben sekali Rana tak peka malam ini. "Dek, adek kenapa?" tanya Rana tertegun melihat putrinya tak berkedip dan diam tanpa kata.
"Itu bunda serem," ucap Sena pelan, Rana pun mencari rupa yang mengganggu putrinya, Rana mulai fokus mencari dan "Astaga," ucap Rana.
"Udah dek cuekin aja, nanti kalau di nakal biar bunda yang marahin," ucap Rana dia pun membawa Sena masuk kedalam selimut dan memeluknya.
Sosok itu pun tak kunjung pergi meski beberapa kali Rana menyuruhnya pergi, dia malah tertawa meledek, "Dasar setan sialan," umpat Rana dalam hati.
"Ini tempatku untuk apa kamu kesini," balas hantu jelek itu geram, matanya memerah bau busuk mulai menyeruak dari tubuh kotornya.
"Rumahmu kamu bilang, coba kamu ngaca kalau berani," tantang Rana, Sena hanya diam mendengarkan ketika bundanya berkomunikasi dengan mahluk jelek dan bau itu.
"Hiiiihiiihiiii, hahahahahah, aaaaaaa," tertawanya sungguh membuat bulu kuduk siapa aja yang mendengar nya pasti merinding, tapi tidak dengan Rana, Rana mulai membaca ayat ayat Alquran yang biasa dia pakai untuk menghadapi mahluk bandel seperti ini.
"Ampun, ampun, panas aaaaaa," pekiknya lagi.
"Pergi kamu, atau aku tambah lagi," hardik Rana, dasar setan bandel dia kembali tertawa ketika Rana melepaskan gengaman nya. "Enggak aku mau makan anak itu," ucap nya.
"Enak aja kamu, dia anaku pergi atau..,"ancam Rana lagi, dasar miss kun (kuntilanak wujudnya menurut Rana) bandel, Rana pun memberikan lagi hadiah untuk sosok jelek itu, peperangan batin kembali terjadi, miss kun kalang kabut menghadapi energi positif yang Rana miliki, dipeperangan kedua mereka miss kun jelek itu pun memilih pergi, tapi Rana tak seyakin ini, dia pun memilih tetap terjaga, takut mahluk jelek itu akan datang mengganggu Sena lagi.
Keringat dan ingus Rana keluar begitu saja seusai peperangan batin tadi, Rana kembali geram karena tak hanya sosok wanita jelek dan bau tadi, ternyata ada sosok tinggi besar diluar rumah yang juga menantang Rana.
"Astaga, apa ini?" batin Rana, Rana tak mau terpancing emosinya seperti tadi, dia memilih diam tak menghiraukan sosok tinggi besar itu, Rana malah membacakan doa doa agar mereka yang berada didalam maupun luar rumah Lusi menjadi lebih adem dan tak mengganggu.
"Bunda, dia udah pergi?" tanya Sena.
"Udah sayang, tidurlah," jawab Rana sambil mengusap rambut putri cantiknya.
"Bunda kenapa yang tadi marah Sena?"
"Dia jahil dek, dia kan yang ada disekolah Sena?" tanya Rana.
__ADS_1
"Iya bunda, mirip kayak gitu," jawab Sena.
"Mulai besok kita pindah kota ya nak, ga papa kan Sena ikut kemanapun bunda pergi?" tanya Rana sambil terus mengelus rambut gadis ciliknya.
"Mau bunda asal sama bunda," jawab Sena, dia pun menyambut pelukan bundanya.
Rana dan Sena hendak memejamkan matanya, tak lama terdengar suara teriakan dari luar kamar mereka, ternyata salah satu asisten rumah tangga dirumah Lusi kemasukan hantu wanita jelek tadi.
Rana dan Sena pun keluar memastikan apa yang sebenarnya terjadi, dengan emosinya ART itu menunjuk kearah Rana. "Hay kamu wanita sialan," ucap nya dengan mata melotot.
Rana pun meminta para pekerja disana untuk memegangi wanita yang kerasukan hantu jahil ini.
"Apa kamu kamu hah," bentak Rana, kemudian Rana pun memegang ulu hati wanita yang kerasukan ini, seketika dia menjerit sakit.
"Aaammmpuuuunnnn, sakit ampun sakit," Rana kembali menekan nya.
"Masih mau disini apa pergi?" tanya Rana baik baik, seketika empat orang yang memegangi wanita ini pun menatap heran kearah Rana, termasuk Lusi, dia hanya memeluk Sena, karena Rana memang memintanya menjaga Sena.
"Gadis ini miliku, aku menyukainya," jawab nya menantang Rana.
"Oooo, suka ya baiklah, heh rasakan ini," Rana mengusap lagi dada wanita ini, seketika dia menjerit sakit.
"Enak aja, siapa suruh nantangin tadi hah," ucap Rana geram.kembali Rana meremas jantung wanita tak kasat mata itu.
"Ampun nyai ampun sakit nyai sakit," mereka yang ada diruangan itu kembali tertegun mendengar ucapan wanita yang kerasukan ini, mereka kembali tak menyangka apa yang terjadi barusan, Rana yang mereka kenal lebah lembut bisa berubah menjadi bringas ketika berhadapan dengan mahluk tak kasat mata seperti ini.
"Tolong buka pintu depan," pinta Rana pada salah satu pegawai yang ada disana.
"Baik non," jawab nya.
"Awas kamu awas kamu hah, awas kamu haaah," teriak hantu jelek itu lagi, matanya kembali melotot dan menantang Rana.
"Awas apa hah, ini kayak gini yang kamu mau, enak kan heh, kapok ga," Rana kembali memberikan hadiah pada hantu pengganggu ini, kembali dia melakukan aksinya, hantu itu menangis menjerit minta ampun lagi.
"Pegang dia kuat kuat," pinta Rana, Rana memencet ulu hati wanita ini, seperti melakukan jurus pencabutan roh, begitu sampai ditenggorokan mata wanita ini kembali melotot, Rana menampar kuat kuat pipi wanita ini dan srruuuuttttttt....seketika wanita ini pingsan.
Rana menggenggap sesuatu dan membawanya berlari keluar, kemudian melemparnya seolah sedang melempar sesuatu.
__ADS_1
Rana kembali masuk keruangan dimana wanita yang kesurupan tadi masih tergolek lemas tak berdaya.
"Tolong minta segelas air," pinta Rana.
Air yang Rana minta pun datang, dia kembali membacakan doa disana dan meminumkan nya pada wanita yang masih pingsan tadi, serta mencipratkan nya disekujur tubuh wanita itu.
Tak lama dia pun sadar dengan keadaan linglung dan penuh tanya," Saya kenapa?" tanya nya.
"Kamu ga kenapa napa, jangan sering melamun ya," ucap Rana.
"Melamun, enggak non saya tadi lagi ngelap meja," jawab nya.
"Iya ragamu yang ngelap meja, pikiranmu kosong lagi galau ya," goda Rana dengan senyum khas nya.
"Kok non tau!" dia malah terheran heran.
"Tau lah, kamu kenapa bisa cerita sama saya," pinta Rana.
"Boleh non emang?" tanya dia.
"Boleh kenapa enggak," jawab Rana.
"Sebenernya saya takut kerja disini non, dikamar saya suka ada yang nangis, kadang ketawa kadang suara bayi juga pas saya cari ga ada orang nya, saya udah pernah cerita tapi ga ada yang percaya" jawab nya jujur.
"Ooo, gitu," jawab Rana ringan.
"Tapi non percaya kan sama saya?" tanya nya lagi, Rana hanya tersenyum, karena sejatinya Rana pun tau dan bisa merasakannya, "Maaf ya boleh saya pegang kepalanya," pinta Rana.
"Boleh non," jawabnya.
"Tolong siapkan plastik kresek," pinta Rana, Rana pun mengambil posisi dan meruqyah wanita yang ada didepan nya, seketika wanita itu pun memuntahkan semua isi perut nya, "Alhamdulilah mbak udah bersih semoga ga digangguin lagi ya mbak, sementara ikut tidur yang lain dulu nanti saya lihat kamar nya ya," ucap Rana.
"Makasih non sudah percaya sama saya," jawab nya.
"Sama sama, kalau kerja jangan melamun kalau ada apa apa cerita aja ya, usahakan jangan ninggalin sholat terus doain semua yang ada disini biar jadi adem, ini buat semuanya, kalian mengerti kan masud saya," jawab Rana sesantai mungkin biar mereka juga tak takut.
Rana pun meminta semua nya kembali ketempat masing masing, "Bu Lusi, saya pengen bicara sesuatu boleh," ucap Rana.
__ADS_1
"Tentu saja Kiran, ayo kekamarku aja," jawab nya, Rana dan Sena pun mengikuti langkah Lusi untuk masuk kekamarnya.
Bersambung...