
Satu bulan kemudian ...
Kevin dan Kirana mengundang Lusi dan Aldo untuk makan siang di rumah mereka. Lusi sekarang sering main di rumah Kirana karena Kirana sekarang bergabung sebagai desainer di butiknya lagi.
Kevin tak ingin membatasi ruang gerak Kirana. Jika istrinya ini ingin maka dengan senang hati Kevin akan mendukungnya.
Siang itu Aldo datang terlebih dahulu sambil membawa babynya yang masih berusia empat bulan. Sena sangat suka dengan bayi mungil itu. Berkali-kali Sena merengek meminta adek, sayangnya Kirana dan Kevin belum bisa memenuhinya. Karena Tuhan memang belum mengizinkan mereka untuk memiliki bayi.
Kevin dan Aldo sedang berbincang di ruang tamu, sedangkan Kirana berada di dapur memasak untuk jamuan makan siang mereka.
Tak lama Lusi datang dengan membawa berkas dan pelerjaan yang akan dia rundingkan dengan Kirana. Saat itu Aldo dan Lusi tak tahu bahwa undangan makan siang ini mengandung maksud terselubung di dalamnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Lusi.
"Waalaikumsalam," jawab Kevin dan Aldo bersamaan.
"Masuk aja Lus, langsung ke dapur aja. Kirana ada di sana," jawab Kevin.
"Oh ... oke!" jawab Lusi sopan. Aldo masih diam, sepertinya Aldo lupa bahwa Lusi pernah jadi pasiennya. Lusi pun langsung ke dapur untuk menghampiri sahabatnya.
"Siapa itu Vin, kayak ga asing?" tanya Aldo.
"Mantan pasien elu lah, masak nggak ingat," goda Kevin.
"Ooohh," jawab Aldo.
"Loh, kok Oh doang. Piye sih, ayu ora (gimana sih, cantik nggak)," goda Kevin. Aldo hanya tersipu malu.
"Ayu ora (cantik nggak)," goda Kevin lagi. Aldo tertawa mendengar candaan sahabatnya.
"Nggak tahu lah Vin," ucap Aldo. Sepertinya Aldo masih belum bisa move on dari almarhum Vivian mendiang istrinya. Beliau meninggal saat melahirkan Viola putri kecil mereka.
"Loh kok ngga tahu, dia itu baik loh Al. Ingat Vio butuh sosok ibu. Dan aku rasa nggak ada salahnya kamu coba deketin si Lusi. Kali aja Vio cocok ama Lusi," tambah Kevin. Aldo diam, sepertinya dia juga memikirkan perkataan sahabatnya. Apa salah nya di coba.
***
__ADS_1
Di dapur Lusi tak tinggal diam, dia pun langsung meletakkan peralatan kerjanya dan tas tanganya lalu bersiap membantu Kirana memasak.
"Aku bantu apa Buk," goda Lusi.
"Udah Mbak Lusi duduk manis aja. Ini tinggal menghidangkan kok," jawab Kirana. Iya selarang Lusi nggak mau dipanggil Ibu oleh Kirana. Dia merasa nyaman dipanggil mbak, alasan Lusi adalah agar mereka lebih akrab.
"Oke deh aku siapin tempat ya," tawar Lusi.
"Boleh mbak, jika tak keberatan!" jawab Kirana.
Lusi pun mengambil mangkok mangkok Kirana yang sudah diisi dengan menu menu yang sudah siap di hidangkan.
Lusi sangat rapi jika bekerja, Kirana sangat menyukai cara kerja ibu bos nya ini.
"Semua siap Kiran," ucap Lusi.
"Oke bosku," balas Kirana. Saat mereka berdua asik mengobrol. Tak sengaja mereka mendengar tangisan bayi.
"Kiran, itu suara bayi kan?" tanya Lusi bingung. Bagaimana tidak, dia tahu kalau Kirana dan Kevin belum dikarunia anak selain Sena.
"Bentar ya Mbak, aku lihat dulu. Tadi sih bobo, mungkin dia haus," jawab Kirana. Aldo hendak beranjak dari duduknya untuk melihat Vio putrinya tapi Kirana melarangnya.
"Pak Dokter santai aja, biar saya yang periksa," ucap Kirana. Aldo pun menurut.
Entah mengapa dalam diri Lusi penasaran dengan bayi itu. Dia pun mengikuti langkah Kirana menuju kamar Sena. Kamar dimana baby Vio bobo tadi.
Kirana langsung menggendong bayi munggil itu.
"Eemmm ... tanyang (sayang) udah bangun ga hemm. Sini ama Onty nak. Kamu haus kah sayang?" tanya Kirana pada baby Vio.
"Dedek bayi dikasih mainan masih nggak mau diem Bunda nangisnya," ucap Sena mengadu tentang Vio yang tak tertarik dengan mainan yang diberikannya.
"Iya Kak, dedek Vionya mau susu bukan mainan sayang," jawab Kirana.
"Di mana susunya Kiran. Sini biar aku bantu buat," Tawar Lusi. Kirana pun langsung menunjukkan tas baby milik Vio.
__ADS_1
Dengan cekatan Lusi pun meracik susu untuk Vio dan bersiap mengambil air hangat di dapur untuk membuatnya.
Kirana dan Sena mengikuti langkah Lusi yang membawa botol susu untuk baby Vio.
Susu yang dibutuhkan Vio pun siap, Lusi pun menawarkan diri untuk memberikan susu itu pada baby Vio.
"Sini Ran biar aku aja yang kasih," tawar Lusi, dengan senang hati Kirana pun memberikan baby Vio pada Lusi.
Lusi mulai membujuk baby Vio untuk melahap hidangannya. Vio sangat pintar rupanya, digendongan Lusi dia sangat anteng dan terus menikmati susunya tanpa rewel sedikitpun.
Kirana dan Sena menunggu disisi kanan kiri Lusi yang sedang asik ngobro dengan baby Vio.
"Dia cantik sekali Kiran, astaga matanya. Dia baby yang sangat menggemaskan!" puji Lusi.
"Ya wajar lah kalau dia cakep. Nggak lihat apa bibitnya juga super," celetuk Kirana. Lusi membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang Kirana katakan.
"Ngaco kamu. Eh ngomong ngomong ni baby mana emaknya. Kok dari tadi aku cari nggak ada?" tanya Lusi.
"Dedek Vio udah nggak punya mami Onty, sama kayak Sena. Tapi sekarang Sena udah punya Bunda," jawab Sena lugu. Lusi melongo tak percaya dengan jawaban lugu Sena.
"Ran ... beneran ni baby udah nggak ada Emak?" tanya Lusi lirih.
"Iya Mbak, maminya meninggal saat nglahirin dia," jawab Kirana jujur.
"Ya Allah, kasihan sekali kamu Nak," ucap Lusi. Seolah mengerti ucapan Lusi, baby Viola pun tersenyum lucu. Lusi mencium harum pipi gembil baby Vio. Air mata Lusi menetes begitu saja saat menatap mata indah sang baby.
"Kasihan sekali dia Kiran," ucap Lusi sambil mengusap air matanya.
"Mbak mau nggak jadi ibu sambung buat baby Vio?" tanya Kirana langsung pada pokoknnya.
"Kamu jangan ngada-ngada deh Kiran. Kalau sama anaknya sih aku mau, la kalau bapaknya repot nanti," jawab Lusi kesal.
"Dih, jangan kesal gitu lah Mbak. Ya kali aja kalian jodoh. Lewat anak kayak aku dan Mas Kevin contohnya. Kami disatukan lewat Sena. Ya kali aja Mbak ama Dokter Al disatukan lewat baby Vio," balas Kirana. Lusi hanya menyempitkan matanya, dia terlihat tak mau memperdulikan ucapan Kirana. Yang dia fokuskan saat ini hanyalah menyusui Viola. Karena Viola sudah mampu mengalihkan perhatiaannya.
Bersambung...
__ADS_1