SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Jadi Malu


__ADS_3

Aldo keluar dari kamar mandi dengan stelan tuxedo yang Lusi bikin khusus untuknya. Seolah tak punya salah Aldo pun mendekati Lusi yang masih diam terpaku di tempatnya semula.


"Seperti ini pakainya?" tanya Aldo.


"Dasinya kepanjangan Pak Dokter mungkin bisa di pendekin dikit," jawab Lusi sambil mununjuk dasi yang dipakai Aldo tanpa berani menyentuhnya.


Aldo pun menaruh jasnya di ranjang dan mulai membenarkan dasinya.


"Aishh ... udah susah susah pakai masih salah aja," gerutu Aldo. Ingin rasanya Lusi tertawa tapi nanti Aldo marah padanya. Lusi kembali memilih diam, dia tak ingin dinilai menyukai Aldo.


Melihat Lusi yang hanya diam Aldo pun kesal. "Eh ... kamu, bukannya kamu yang jualan. Kenapa nggak nawarin batuan cara pakai hah," ucap Aldo.


"Ya Tuhan bisa nggak sih nggak usah judes judes gitu," batin Lusi lagi.


Lusi pun berjalan menghampiri Aldo, tanpa kata Lusi pun membantu Aldo memakai dasinya. Boleh dibilang jarak antara mereka sungguh dekat. Bahkan sangat dekat, tak sengaja mata Aldo menangkap wajah halus Lusi. Bentuk bibir yang selalu dilihatnya tersenyum itu pun hanya diam tanpa kata.


Tanpa Aldo sadari, pikiran kotornya datang. Membayangkan rasa manis bibir perempuan yang sudah lama tak dirasakannya. Khususnya perempuan yang kini ada di depan matanya.


"Sudah Pak, kira kira nanti pakainya seperti ini," ucap Lusi kemudian dia pun menjauh dari Aldo.


Aldo pun memasukan kedua tangannya ke saku celananya dan berkata, "Kamu punya ilmu apa bisa menahklukkan mama dan adekku dengan begitu cepat hah. Dulu maminya Vio saja bertahun tahun baru bisa mereka terima?" tanya Aldo, pertanyaan itu mengandung perbandingan yang menyakitkan bukan.


"Maaf, saya tidak mengerti maksud Bapak," jawab Lusi tegas.

__ADS_1


"Aku bilang jangan pura-pura. Kamu deketin mereka agar mereka mendesakku untuk menikah denganku kan. Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Kevin penuh percaya diri.


"Oh soal itu, Kalau soal itu sepertinya Bapak salah sangka deh. Saya ma nggak ada niat apapun dengan keluarga Bapak. Apalagi niat untuk menikah dengan Bapak, saya hanya suka sama Vio saja Pak. Karena putri Bapak mengingatkan saya pada putri saya yang sudah meninggal. Selebihnya saya tidak punya niat apapun Pak, anda tenang saja," jawab Lusi jujur.


Aldo menatap ke arah Lusi, wanita di depannya ini bukan hanya cerdas tapi juga licik menurutnya.


"Heh, pakek nggak ngaku lagi!" hardik Aldo.


"Percuma ya ngomong ama orang yang udah salah sangka. Saya ma nggak ada rasa apa apa sama Bapak. Bapak tu yang kepedean," ucap Lusi mulai geram.


"Nggak mungkin lah kamu nggak ada rasa tapi ngrayu mereka buat bujuk aku," tambah Aldo tak mau kalah.


"Pak ... asal Bapak tahu ya, saya nggak pernah ngomong apapun soal ini kemereka. Apa lagi pernikahan yang tak nasuk akal seperti yang bapak tuduhkan. Saya tulus sayang sama Vio Pak, tapi kalau Bapak nggak suka dan nggak ngebolehin saya dekat dengan Vio saya nggak masalah. Saya menyadari bahwa saya dan Vio nggak ada hubungan apapun. Tapi saya nggak terima tuduhan Bapak atas apa yang tidak saya lakukan. Harap anda pikirkan lagi itu," ucap Lusi tak mau kalah.


Aldo malah tersenyum licik dan membalas perkataan Lusi dengan tak kalah ketus.


"Lagian Bapak kan dokter, kenapa Bapak bisa sebodoh itu. Harusnya Bapak tu jawab aja kalau suruh nikah sama saya. Bilang aja Bapak udah punya pilihan sendiri. Atau jelek-jelekin saya juga nggak pa-pa, kan bisa," balas Lusi kesal.


"Gimana aku bisa jelekin kamu, kamu cantik gitu!" jawab Aldo spontan. Lusi melirik tak percaya dengan jawaban tak masuk akal Aldo. Aldo juga membalas lirikan Lusi dengam senyum yang menggemaskan.


"Dah lah, nggak ada yang perlu kita bahas Bapak, jika Bapak memang nggak suka saya dekat dengan Vio maka baiklah. Saya akan menjauh, kalau Bapak di desak untuk menikah dengan saya Bapak tinggal tolak saja. Apa susahnya," tambah Lusi. Aldo pun diam dan tak mau meneruskan perdebatan mereka yang menurutnya ada sedikit ganjalan.


Aldo bingung dengan keputusannya saat ini, tetapi dia juga nggak ngerti dengan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


***


Dalam perjalanan pulang Lusi hanya diam membuat Kirana curiga. Maka untuk mengurangi rasa curiganya Kirana pun bertanya.


"Mbak Lusi kenapa, ada masalahkah?" tanya Kirana.


"Ah, enggak Ran. Aku baik baik saja, hanya saja tadi Pak Al bilang dia tak suka jika saya dekat sama Vio!" jawab Lusi jujur.


"Hah, Mbak serius Dokter Aldo bilang begitu," balas Kirana.


"Iya, tadi beliau juga nuduh aku berusaha merayu keluarganya supaya dia mau menikahiku," tambah Lusi.


"Dia bilang begitu Mbak?" tanya Kirana tak percaya.


Lusi hanya mengangguk lemah, Kirana tahu bagaimana Lusi. Dia hanya suka sama Vio, apa salahnya.


"Maafkan aku dan Mas Kevin ya Mbak, gara-gara niat kami mau jodohin kalian, Mbak jadi susah begini," ucap Kikirana menyesal.


"Tak apa Ran, Dokter Aldo hanya salah sangka saja padaku. Semoga beliau segera mengerti. Sudahlah jangan bahas itu lagi. Oia Ran kayaknya aku mau terima aja perjodohan ini, kasihan mami udah sakit sakitan, kali aja kalau aku nurut beliau bisa sembuh." ucap Lusi. Disini Kirana menangkap kesedihan yang mendalam di wajah Lusi. Lagi lagi wanita baik hati ini harus berkorban demi kebahagiaan orang lain.


"Kirana nggak bisa nglarang Mbak, semoga saja ini keputusan terbaik. Dan mami Bos bisa segera sembuh," balas Kirana memberikan dorongan moril pada Lusi


Ludi membalas ucapan Kirana dengan senyum kecutnya. "Sudah lah Lus, jalani aja yang ada di depan matamu. Jangan menghindar lagi,"batin Lusi mengsuport dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


Like dan komen kalian tetap penghargaan terbaik buat saya😘.


__ADS_2