SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Tentang Rasa


__ADS_3

Kirana sampai di butik Lusi sejam yang lalu, tapi bos kesayangannya belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin Lusi masih dikamarnya. Ataukah dia sedang sakit.


Kirana curiga, dia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas di mana kamar Lusi berada.


Kirana mengetuk pintu itu, tok tok tok. "Mbak Lusi ini aku, Kiran!" ucap Kirana.


Dari dalam terdengar suara langkah menghamiri pintu.


Ceklek (bunyi pintu dibuka).


"Masuk Ran!" ajak Lusi. Kirana pun masuk.


"Mbak Lusi kenapa lemes gitu, sakit kah?" tanya Kirana. Lusi memang terlihat tak bersemangat. Bahkan dia masih memakai pakaian tidurnya.


"Aku merindukan Thania Ran (Thania adalah putri Lusi dan Rio yang sudah meninggal), entah kenapa setelah ketemu Baby Vio aku jadi malas ngapa ngapain. Pengennya ketemu dia terus Ran, andai ...?" ucap Lusi. Kirana tertawa.


"Ngapain kamu ketawa?" tanya Lusi kesal.


"Andai apa Mbak?" Kirana malah balik bertanya.


"Andai aku dekat dengan bapaknya, eh ... enggak maksudnya andai aku berteman dengan bapaknya. Eh ... salah juga, andai aku gimana Ran enaknya ngomongnya?" ucap Lusi bingung, Kirana kembali tertawa menertawakan kegugupan Lusi.


"Kok kamu ketawa terus sih Ran. Kamu ma nggak asik. Nggak ngerti apa yang aku rasain!" ucap Lusi sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Lusi tak perduli meski Kirana akan menilainya jadi pelamas tapi Lusi memang sedang dalam mode malas.


"Mbak Lusi lagi jatuh cinta itu," goda Kirana.


"Jatuh cinta ?, jatuh cinta ama siapa. Ngawur kamu," gerutu Lusi.


"Jatuh cinta ama baby Vio lah Mbak, saya kan nggak bilang Mbak Lusi jatuh cinta ama bapaknya," balas Kirana. Kira bisa aja ngejawab.


"Culik Vio buat aku yuk Ran!" ajak Lusi. Kirana kembali tertawa. Lusi lucu sekali.


"Ah ... kamu ma gitu Ran!" Lusi mulai tak bisa berbohong sekarang. Lusi sudah jatuh cinta pada Viola.


"Mbak Lusi siap siap gi, bentar lagi Viola dateng ama tantenya," ucap Kirana. Lusi yang mendengar ucapan Kirana langsung bangun dari pembaringannya.


"Mau dateng? Kesini! Serius?" tanya Lusi.


"Iya!"


"Mau ngapain, jangan bilang kamu cerita soal aku kemereka ya?" tanya Lusi curiga.


"Enggak, ngapain sih Mbak aku cerita. Kiran ma nggak ember kali," jawab Kirana sambil memanyunkan bibirnya.


"Ya udah kalau nggak cerita. Malu aku ketahuan galau gara-gara bocil (bocah cilik). Beneran loh Ran, tu anak cute habis. Menggemaskan, pengen deh aku dandanin. Pengen aku foto-foto, pokoknya pengen aku macem-macemin kayak Sena." ucap Lusi semangat, dia memang dasarnya suka bocah, lihat bocah menggemaskan langsung saja jiwa keibuannya datang.

__ADS_1


"Setengah jam lagi Vio datang loh Mbak, mau ketemu nggak?" tanya Kirana. Lusi menatap tak percaya ke arah Kirana.


"Serius?"


"He em,"


"Emang ada acara apaan ke sini?" tanya Lusi lugu.


" Astaga, Bosku ini kan butik Bu Bos. Ya mau pesen baju lah. Tantenya Vio hendak menikah. Jadi Kiran rekomendasikan pesen baju ke kita. Gimana calon ipar didiskon nggak tu uuppsss ..." celetuk Kirana.


"Calon ipar pala lu, udah ah. Lama lama kamu ma ngaco Ran. Setengah jam lagi dia datang, oke aku akan siap-siap menyambut mereka," ucap Lusi, dia tak perduli dengan Kirana yang masih terheran-heran padanya. Lusi memilih masuk kekamar mandi dan bersiap-siap.


Setengah jam kemudian.....


"Mbak Kiran!" sapa Novi (tantenya Viola, adek kandung Aldo). Novi datang bersama ibu dan juga calon suaminya.


"Hay Nov, masuk-masuk. Tante apa kabar?" tanya Kirana pada ibunya Kevin.


"Tante baik, makasih lo kemarin udah bantu jaga Vio. Aduh tante repot banget, adekmu mau kawin nih Ran," ucap Tante Dewi.


"Nggak pa-pa Tan, lagian nyang jagain Vio kemarin bukan cuma Kiran. Kebetulan bos Kiran dateng, ya udah kami main bareng," jawab Kirana. Tante Dewi dan Novi pun tersenyum.


"Kamu mau lihat modelnya dulu atau gimana Nov?" tanya Kirana.


"Calon suamimu mana?" tanya Kirana.


"Ada di depan, lagi telponan ama kliennya," jawab Novi. Tak lama Lusi pun masuk ke dalam ruangan Kirana.


"Hallo semuanya, Assalamu'alaikum!" sapa Lusi dengan senyum tercantiknya.


"Waalaikum salam," balas Mereka. Lucunya saat melihat Lusi, Viola langsung girang.


"Hay cantik," sapa Lusi pada baby Vio yang ada di gendongan omanya. Seolah Viola ingat akan Lusi baby mungil itu pun merespon dengan tawanya.


"Kamu menggemaskan honey," ucap Lusi gemas sambil mengelus dagu Vio dan mengelap ences yang keluar dari mulut Viola.


"Mbak, disapa semua dulu dong. Kok Vio doang yang disapa?" goda Kirana.


"Oh iya lupa, maaf maaf. Maaf tante, aduh Viola kamu udah bikin Onty lupa diri Nak," ucap Lusi.


"Maaf, aduh. Selamat datang di butik kami. Ada yang bisa kami bantu. Silahkan duduk Tan, dengan Mbak siapa ini?" sapa Lusi berubah profesionalndan formal.


"Saya Novi Mbak, tante nya Vio dan Ini mama saya omanya Vio. Bu Dewi namanya," jawab Novi.


"Oke baiklah, udah sampai mana Ran?" tanya Lusi pada Kirana.

__ADS_1


"Baru mau pilih model Mbak," jawab Kirana.


Lusi pun tersenyum dan mulai memperkenalkan model-model bajunya untuk Novi kenakan pernikahannya nanti. Novi dan Bu Dewi terlihat sangat puas dengan pelayanan Lusi. Setelah melewati berbagai pertimbangan Novi pun akhirnya menjatuhkan satu pilihan gaun terbaik rancangan Lusi sendiri untuk dia kenakan dipernikahannya nanti.


"Si cantik mau pakek gaun warna apa honey, nanti Onty bikinin," tawar Lusi.


"Emang sedia gaun baby juga Mbak?" tanya Novi.


"Enggak sih, biasanya kami sedia yang untuk flower girl aja. Cuma khusus untuk Vio nanti Onty akan bikinkan, gimana?" tawar Lusi lagi.


"Boleh dek Mbak kalau nggak keberatan," jawab Novi.


"Tentu saja enggak, nanti Onty bikinkan. Apa mau pilih model sekalian?" tanya Lusi.


"Boleh deh Mbak, Nggak pa-pa kan ma beliin Vio sekalian?" tanya Novi pada ibunya.


"Boleh, nggak pa-pa?" jawan Ibu Dewi.


"Tenang aja Mbak Novi, Tante Dew. Buat Vio saya kasih free," ucap Lusi. Mereka pun tersenyum bahagia sambil saling pandang.


"Loh ya jangan lah Mbak Lusi, kami jadi nggak enak. Kita kan baru kenal!" jawab Novi.


"Nggak pa-pa loh Mbak Nov. Saya ama Vio udah sahabatan kok. Ya kan Dek hemm. Kamu menggemaskan, Onty kangen tahu. Tant ... boleh nggak saya gendong Vio?" ucap Lusi. Sebenarnya udah dari tadi Lusi ingin menggendong Vio tapi dia merasa kurang enak karena dia dalam mode kerja dan takut nilai cari muka.


"Tentu saja silakan!" ucap Bu Dewi sambil menyerahkan Baby Vio.


Lusi langsung tak ingat lagi dengan pekerjaannya. Tak ingat dengan orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Ran," bisik Bu Dewi pada Kirana.


"Apa tant,"


"Bos kamu punya suami nggak?" tanya Bu Dewi.


"Beliau janda Tant, dulu pernah punya putri. Tapi meninggal, jadi gitu deh kalau lihat baby tenaganya seperti terisi full. Tadi dia nggak mau kerja, pas Kiran bilang Vio mau datang langsung deh semangat," jawab Kirana. Novi hanya diam.


"Boleh lah tu di jodohin ama Al," ucap Bu Dewi. Kirana dan Novi hanya saling mentap.


"Eh, dia kenal Al nggak?" tanya Bu Dewi lagi.


"Kenal tant, dulu pas Bu Lusi sakit. Dokter Al yang ngrawat, tapi kalau berteman kayaknya belum. Mereka hanya sekedar sama-sama tahu aja sih!" jawab Kirana jujur..


"Ah, itu bisa di atur. Nanti tante mau nanya nanya lagi sama kamu ya Ran. Kali aja mereka jodoh," ucap Bu Dewi semangat. Kirana pun hanya tersenyum menyanggupi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2