SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Anggap Saja Balas Budi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan prosesi akad nikah, semua pun berkumpul di ruang tamu. Hanya Pak Rudi yang kembali ke kamar istrinya dan menyampaikan kabar gembira ini hingga membuat Bu Luluk tersenyum.


Aldo dan Kevin terlihat serius mendiskusikan masalah penyakit yang di derita ibu mertuanya. Aldo sangat yakin jika ibu mertuanya bisa sembuh. Dengan mempertimbangkan beberapan hal akhirnya mereka pun sepakat membawa Bu Luluk ke rumah sakit.


"Bu ... kita kerumah sakit yuk. Ada banyak harapan untuk Ibu bisa sembuh. Saya akan berusaha untuk membantu pengobatan Ibu. Percayalah semua akan baik baik saja," ajak Aldo berusaha membujuk Ibu mertuanya. Usaha Aldo juga mendapat dorongan dari berbagai pihak hingga membuatnya yakin kalau dia tak salah langkah.


Bu Luluk dengan senang hati menurut dan mau dibawa ke rumah sakit. Aldo masih terlihat cuek dan tak perduli pada Lusi istrinya.


Aldo lebih fokus pada Bu Luluk. Entah apa yang dipikirkan dokter muda itu saat ini, yang jelas dia tetap dingin dengan keadaan disekitarnya.


Kirana mengelus lengan sahabatnya. Kirana sangat tahu bagaimana perasaan Lusi saat ini.


"Sabar ya Mbak, semua pasti baik baik saja," ucap Kirana menguatkan.


"Insya Allah Ran, tapi firasatku mengatakan pernikahan ini salah. Kamu lihat dokter Al Ran, dia tampah marah dan kecewa. Pasti pernikahan ini tidak akan bertahan lama Ran, aku yakin ini akan berakhir tidak baik," ucap Lusi sedih.


"Jangan ngomong gitu Mbak. Berucaplah yang baik agar semua juga menjadi baik. Karena ucapan adalah doa," balas Kirana.


"Aku tahu Ran. Tapi apakah aku salah jika aku menyampaikan isi hatiku," tambah Lusi. Suaranya terdengar melemah. Sepertinya dia benar benar merasakan luka yang teramat dalam. Rasa trauma mencintai kini datang tiba tiba. Lusi merasa sesak, Lusi merasa semua lukanya menumpuk menjadi satu. Terlebih karena Aldo tak menyukainya.


Aldo dan Kevin sudah berada di dalam ambulance yang akan membawa Bu Luluk ke rumah sakit. Sedangkan Lusi berada dalam satu mobil bersama papi dan juga mertuanya.


Tak ada percakapan yang berarti, hanya beberapa kali Bu Dewi meminta Lusi agar tetap sabar.


Sesampainya di rumah sakit, Aldo langsung menghubungi profesornya untuk berkonsultasi masalah penyakit yang diderita mertuanya. Sesuai prediksi Aldo bahwa Bu Luluk bisa sembuh asalkan mendapatkan perawatan yang tepat.


"Gimana Al?" tanya Bu Dewi pada putranya.


"Nggak pa-pa Ma, kasusnya masih bisa ditangani. Belum sampai tahap yang parah. Mungkin beliau belum menyadari bahwa penyakitnya ada di paru paru bukan lambung. Diagnosa awal yang salah Ma," jawab Aldo menjelaskan.

__ADS_1


"Syukurlah. Apa kamu yakin bisa sembuh Al?" tanya Bu Dewi lagi meyakinkan pikirannya.


"Insya Allah Ma, Al juga udah konsultasi dengan profesor dan beliau bilang ini bisa sembuh," jawab Aldo lagi. Semua terlihat bahagia, terutama Lusi da juga Pak Rudi suami Bu Luluk.


"Mohon maaf Pak Besan, kami tidak bisa berlama lama. Karena di rumah ada cucumu yang juga baru sembuh dari sakit," ucap Pak Ilham pada besannya.


"Cucu ?, apakah Dokter Aldo sudah punya anak?" tanya Pak Rudi terkejut.


"Apakah Pak Besan keberatan dengan ini?" tanya Pak Ilham ragu.


"Oh la ya ndak Pak, anak kan rejeki. Saya malah bersyukur ndak usah nunggu lama lama udah dapat bonus. Buy one get one free Pak Besan," jawab Pak Rudi sambil terkekeh. Semua orang pun tertawa mendengar jawaban kocak orang tua Lusi. Orang tua Aldo semakin yakin bahwa pilihan mereka tak salah.


"Berapa umur cucuku Pak, cewek apa cowok?" tanya Pak Rudi.


"Cewek Pak, umurnya baru empat bulan," jawab Pak Ilham. Ada kesedihan di wajah pria paruh baya itu saat menceritakan tentang cucunya.


"Ya Tuhan, lalu kandungnya kemana Pak, mohon maaf kalau saya lancang?" tanya Pak Rudi.


"Ya Tuhan, saya turut berduka Pak Besan. Semoga putri saya bisa jadi ibu sambung yang baik dan mencintai cucu kita dengan sepenuh hati. Bukan hanya cinta ama bapaknya tapi juga anaknya ya Pak," ucap Pak Rudi penuh harap. Semua orang pun tersenyum tapi tidak dengan Aldo. Dia merasa sangat muak dengan drama keluarga yang ada di depannya.


Saat Bu Luluk sudah masuk kedalam ruang rawatnya, para tamu pun memutuskan untuk pamit. Termasuk Kirana dan Kevin.


"Papi pulang aja Pi, biar Lusi yang jaga Mami. Besok gantian," ucap Lusi pada Papinya.


"Nggak pa-pa kamu Papi tinggal sendiri?" tanya Pak Rudi.


"Nggak pa pa Pi, Lusi akan baik baik saja," jawab Lusi.


"Lusi benar Om. Om sebaiknya pulang Om terlihat sangat lelah, biar malam ini saya dan Lusi yang jaga," tambah Aldo. Pak Rudi pun tersenyum dan menuruti perkataan pengantin baru itu.

__ADS_1


Lusi dan Aldo pun masuk ke dalam ruang rawat Bu Luluk. Bu Luluk terlihat terlelap setelah meminum obat.


Tinggalah sekarang Lusi dengan segala pertanyaan yang berkecambuk di dadanya. Kegundahan dan kegelisahan Lusi menyerang perasaanya hingga menimbulkan rasa takut yang luar biasa.


Aldo dan Lusi kini duduk berdampingan di sofa. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Aldo pun tak ingin membahas apapun. Kemarahannya masih bisa dia tahan. Lusi tahu jika saat ini Aldo pasti kecewa dan curiga padanya.


"Maafkan keluargaku ya Pak Al," ucap Lusi tiba tiba.


"Heh ... lucu sekali seorang pencundang minta maaf," balas Aldo tiba-tiba.


"Apa maksud Pak Al?" tanya Lusi tak percaya bahwa Aldo akan menilainya seburuk itu.


"Sekarang kamu tanya maksud. Nggak salah, wanita licik sepertimu memang pandai berakting," tambah Aldo sinis. Aldo pun tertawa licik, seolah menertawakan kekonyolan Lusi.


Lusi menatap penuh tanya pada Aldo. Dia makin tak percaya dengan jalan pikiran Aldo hingga menimbulkan tuduhan yang tak berdasar ini.


"Sepertinya Pak Al salah paham terhadap saya. Saya juga tak menginginkan ini terjadi Pak. Demi Tuhan!" jawab Lusi, ingin rasanya dia tetap menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi apalah daya mereka sangat nakal dan susah diatur.


"Menurutmu aku percaya dengan ucapanmu itu hah. Heh, kamu pasti sudah merencanakan ini semuakan. Membawa orang tuaku untuk menjebakku, Dan kamu berhasil Lusi, aku sudah terjebak dalam pernikahan konyol ini. Pasti kamu sangat puas sekarang kan (Aldo tersenyum sinis). Sampai kapanpun aku tidak terima permainan licikmu ini Lusi. Ingat itu baik baik!" hardik Aldo.


Aldo begitu tenang mengatakan itu semua, seolah dia sudah mempersiapkan semua kata itu dengan baik.


"Serius deh Pak, Bapak salah sangka terhadap saya. Saya tadi ketemu Tante dan Om di bandara. Dan saya pun tak tahu kalau sebenarnya tujuan mereka seperti itu. Saya sungguh tak tahu rencana mereka Pak Dokter Demi Tuhan," tambah Lusi, Lusi menatap kearah Al, bermaksud agar Aldo percaya pada ucapannya.


Sayangnya Aldo adalah Aldo pria keras kepala dengan segala pemikirannya. Lusi bingung bagaimana caranya dia menjelaskan pada seseorang yang sudah terlanjur tak percaya padanya.


"Bagaimana caranya saya menjelaskan ini padamu Pak Dokter. Saya sudah bersumpah atas nama Tuhan. Tapi anda tetap tak percaya," ucap Lusi sambil menangis bingung.


"Jangan menangis, jangan membuatku semakin muak padamu. Kamu sudah membatuku merawat Vio sampai sembuh, dan sekarang giliranku membantu pengobatan ibumu dan aku pun akan merawat beliau sampai sembuh juga. Anggap saja aku membalas budi baikmu pada putriku," jawab Aldo, tatapan matanya tak terarah. Semua kosong, Lusi menangkap kekecewaan dan penyesalan yang sangat dalam di wajah pria itu.

__ADS_1


Lusi apa yang telah kau lakukan?, lihatlah hasil dari keras kepalamu. Andai dari awal kamu menuruti kata kata pria ini, maka semua ini tidak akan terjadi. Dia tak akan merasa punya hutang budi padamu dan secara otimatis dia tak perlu mengobati ibumu. Kamu bisa mencari dokter yang lain Lusi. Bahkan dia sampai harus menikahimu. Kau sungguh bodoh Lusi. Bodoh, bodoh, bodoh, umpat Lusi dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2