
"Bu, Sena sudah bobo Rana balik dulu ya bu," ucap Rana berpamitan dengan bu Risma di ruang tamu, terlihat Kevin sedang makan dimeja makan dan cuek saja tak perduli dengan keadaan disekitar nya.
"Nginep aja lah nak, ini udah malem lo ibu tau kamu ga takut sama hantu tapi kan serem, ibu takut terjadi apa apa sama kamu ya, nginep aja," pinta ibu Risma.
"Ga usah bu nanti Rana ngrepotin," ucap Rana berusaha menolak.
"Ngrepoti apa ndak lo, wis balik lagi sana kekamar Sena, bobo sama bik Sum sama Sena sana," ucap bu Risma sambil membalikan tubuhku pelan dan mendorong nya, aku pun tak bisa menolaknya lagi ahirnya aku pun menginap dirumah ini atas permintaan bu Risma.
....
Keesokam harinya dimeja makan..
"Pagi oma, pagi opa (sapa Sena pada oma dan opanya) pagi om (ucap Sena pelan semua orang disana tau bahwa Sena sangat takut pada papinya)," sapa Sena pada semua orang yang ada di meja makna.
"Pagi cantik," balas bu Risma dengan senyuman khas nya.
"Pagi sayang," jawab pak Yosan kemudian dia mengambil Sena dari gendongan Rana.
"Pak bu Rana pamit ya," ucap Rana berpamitan.
"Ehhhh, sarapan dulu," pinta bu Risma sambil menarik tangan Rana.
"Ga usah bu, Rana sarapan dibutik aja ini bu bos udah otw (on the way) mau ada yang ngambil pesenan bu," ucap Rana.
"Ya udah tunggu ya ibu bungkusin dulu," ucap bu Risma sambil menyuruh bik Sum membungkuskan makanan untuknya dirantang.
"Ga usah buk, ya ampun Rana malah ngrepotin," ucap Rana.
"Hist, ga boleh ngomong gitu apa yang kamu lakukan untuk keluarga ini ga ada apa apa nya dibanding ini," jawab bu Risma, emang apa yang dilakukan nya batin Kevin, tapi dia tetap saja diam membisu dan cuek.
"Bu ga boleh bilang gitu saya kan ga ngapa ngapain," jawab Rana, tiba tiba Sena menatap tajam kearah pintu kamar mandi, pak Yosan heran kenapa Sena tak berkedip.
"Mah, ini kenapa lagi Sena?" tanya Pak Yosan gugup.
"Alah paling juga kambuh gilanya," jawab Kevin.
"Kevin," bentak ibu Risma.
"Sena, Sena, Sena," panggil pak Yosan berusah menyadarkan cucunya.
__ADS_1
Rana yang mengerti dan paham akan apa yang dilihat Sena langsung mendekati gadis kecil itu.
"Sena takut sama dia?" tanya Rana, seketika Sena langasung menatap ke arah Rana dan mengangguk, dia tak menangis histeris seperti biasa.
"Dia seyem (serem) bunda," jawab Sena, Kevin yang hendak menyuapkan makanan kemulutnya pun dia urungkan.
"Kalian tak usah percaya pada gadis gila ini," ucap Kevil sambil membanting sendok nya dan beranjak dari duduk nya meninggalkan meja makan.
"Maaf ya nak Rana," ucap pak Yosan.
"Ga papa pak saya ngerti kok, beliau kan dokter pasti kan pola pikirnya yang logis, beda dengan saya yang tau hal yang tak bisa dijelakan secara logika, saya dan Sena kami punya kemampuan yang tak mudah untuk membuat orang lain percaya kan, ga masalah pak saya ngerti kok," jawab Rana.
"Sekali lagi kami mohon maaf ya nak Rana atas kelakuan putra kami," ucap bu Risma.
"Tak masalah bu, oia Ini Sena lagi lihat sosok lewat penunggu rumah sebelah," jawab Rana.
"Hah, ada lagi?" tanya bu Risma khawatir.
"Ada bu tapi dia ga ganggu kok, ga iseng juga kebetulan beliau lewat bahkan dia tadi tersenyum sama saya," jawab Rana.
"Senyum," pak Yosan dan bu Risma saling menatap heran.
"Iya bunda seyem (serem)," jawab Sena, Rana pun tersenyum.
"Kan tadi senyum sama kita, kok seyem!" ucap Rana.
"Badannya snake bunda," jawab Sena.
"Iya ga papa bunda Ratu (sebutan untuk sosok tak kasat mata itu) baik sayang," jawab Rana sambil mengelus rambut Sena.
"Kok siang siang ada begituan?" tanya pak Yosan.
"Mereka tidak punya ruang dan waktu pak, jadi bisa muncul kapan saja, sekarang sepertinya Sena lebih peka tolong kalau misalnya dia seperti tadi bacakan surat An Nas dan tiupkan di ubun ubun nya pak bu agar dia cepat sadar, paling tidak tepuk pundaknya dan panggil namanya segera," ucap Rana mengingatkan.
"Nak Rana, apakah disini masih ada yang jahil?" tanya bu Risma sambil melihat sekeliling.
"Insya Allah ga ada bu, karena semalam saya sudah cerita sama bu Ratu Insya Allah beliau akan bantu ibu sama bapak jaga Sena, karena Sena istimewa," jawab Rana.
"Baiklah kami semua percaya padamu," jawab Pak Yosan.
__ADS_1
"Percaya nya sama Gusti Allah pak jangan sama saya," jawab Rana sambil tertawa pelan.
"Bunda bunda itu ada lagi," ucap Sena sambil menunjuk kearah ruang tamu.
"Iya biarin aja dek, itu Rani namanya temen bunda kan hari itu udah kenalan," ucap Rana.
"Ooo," jawab Sena, sambil mengaguk mengerti, pak Yosan dan bu Risma dibuat pusing oleh mereka berdua.
"Nak Rana boleh bapak minta sesuatu?" tanya pak Yosan.
"Apa pak?" tanya pak Yosan.
"Apakah kemampuan Sena ini bisa membahayakannya?" tanya pak Yosan khawatir.
"Sebenernya tidak pak, justru Sena nantinya akan punya cerita sendiri dalam hidupnya yang penting orang orang disekelilingnya nanti paham dan tak mengucilkan atau menghujatnya, saya dulu pun juga seperti Sena pak, sering nangis karena takut untung nya ayah saya paham karena bibi saya adek bapak juga seperti saya, kakung saya juga bisa, anak bibi saya juga bisa kata ayah, kakak perempuan saya juga bisa, cuma saya ga tau kakak perempuan sama ibu saya dimana?" jawab Rana, tanpa sadar mereka menceritan keadaan keluarganya.
"Apakah itu keturunan?" tanya pak Yosan.
"Kalau soal keturunan apa tidak Rana kurang paham pak, kalau dikeluarga Rana rata rata bisa termasuk sekarang Rana," jawab Rana sambil tersenyum.
"Ooo, unik juga ya, bapak baru paham ini lo Ran soal Sena, apakah keluarga Denada ada yang bisa ya ma?" tanya Pak Yosan pada istrinya.
"Ga tau pah, kata Kevin, Denada juga suka ngomong sendiri dulu, makanya Kevin bilang nya Denada gila kan," ucap bu Risma langsung membekap mulutnya dan menatap kearah Sena, bu Risma merasa bersalah bagaimanapun jeleknya Denada dia tetap ibu kandung Sena.
Rana menatap kewajah Sena, dia tau Sena pasti sedih karena bukan hanya dia yang dibenci papinya tapi juga ibunya.
"Mami kemana oma?" tanya Sena tiba tiba.
"Mami sudah sama Allah sayang, di syurga nya Allah kan," jawab pak Yosan.
"Sena boleh ketemu mami ga opa?" tanya Sena lagi, Ya Tuhan hati orang tua mana yang tak hancur jika ditanya seperti itu.
"Tidak sayang Sena hanya bisa doain mami supaya mami bahagia disana, sekarang Sena kan punya bunda kan, Sena boleh anggap bunda Rana itu mami nya Sena yang akan jagain Sena, apakah Rana keberatan jadi ibu asuhnya Sena," jawab pak Yosan sekaligus bertanya pada pak Rana.
"Tentu saja tidak pak, siapa yang bakalan nolak jadi ibu gadis cantik yang menggemaskan ini," jawab Rana, mereka semua pun tersenyum mendengar jawaban Rana.
Ada perasaan lega dihati pak Yosan dan bu Risma karena Rana tak menolak cucu mereka sama sekali, bahkan dari lubuk hati mereka yang terdalam ingin menjadikan Rana benar benar menjadi ibu sambung Sena, tapi bagaimana caranya mengingat Kevin masih marah pada mereka, karena menjodohkan nya dengan Denada yang dinilainya gila dan berselingkuh pula.
Bersambung ..
__ADS_1